Thursday, November 22, 2012

para pilihan yang menemani

sejauh mata memandang, hamparan menghijau yang membentang
di pucuk cakrawala sana, ada kabut abu-abu menggantung diam - mungkin itu polusi, atau mendung menunggu untuk menurunkan hujan
ruangan ini putih dan kosong, dari dinding, pintu, jendela, sampai satu-satunya kursi yang aku duduki, putih dan kosong..tidak ada lagi barang lain yang aku temui



"namaku kecerdasan.." satu suara memecah keheningan. aku akan menemanimu dengan ilmu dan pengetahuan, kau akan mengerti hal-hal besar yang terjadi di alam. orang akan mencarimu untuk bertanya tentang semua hal yang mereka tidak mengerti. bersama kita akan menjadi yang cendekia, menguasai jaman..

hujan mulai turun, rintik kecil air dalam gerimis menghapuskan kabut abu-abu
hamparan hijau itu mulai basah dan lebih merekah

"aku adalah yang rupawan.." sebuah suara lain memecah diam ku. orang-orang senang dekat denganku karena kekaguman yang mereka rasakan, keinginan untuk menjadi sepertiku. aku akan menghiasmu dengan keelokan sehingga tak jenuh semua mata yang memandang. bersamaku kita akan menjadi permata dunia yang selalu dibicarakan orang..

ruangan putih ini terasa lebih dingin saat hujan di luar
mungkin karena kosong sehingga dingin lebih leluasa menyergap dan memeluk erat

"aku adalah penerimaan..." lembut suara menyahut dari dekat jendela yang terbuka. orang setia bersamaku karena kenyamanan yang mereka dapatkan. aku memahamimu untuk semua hal yang engkau putuskan dan engkau lakukan, semua yang terjadi dan akan kau alami nanti. engkau akan tenang bersamaku karena aku mengerti - biarpun jaman terus berganti...

aku terhenyak saat kemudian muncul banyak suara lain yang mengikuti: kesabaran, penyerahan diri, nafsu, integritas, dan begitu banyak bermunculan.
suara-suara yang membentuk aura berputar mengelilingiku, menunjukkan keindahan masing-masing, menanti untuk ditarik dan dipeluk dalam ruangan putih kosong ini.

berapa lama kau bisa bertahan?! teriakku memecah sepi, membuncahkan emosi.

namun tak ada yang menjawab lagi, beberapa tersenyum, beberapa melengos, atau mengerling dalam tatapan yang tak pasti.

dan tanganku tak cukup lebar untuk memeluk mereka semua, seiring waktu yang berputar..



Monday, April 16, 2012

kita bersaudara, lalu apa?

tadi sore saya ikut misa di theresia, bacaan pertamanya tentang cara hidup jemaat pertama yang saling tolong menolong, saling mencukupi dari apa yang mereka miliki.
lalu saat homili, ada bagian dari khotbah romo yang menyentuh saya: benar bahwa kita berkumpul bersama sebagai satu saudara, tapi apakah benar kita kenal orang-orang yang duduk di sebelah kita?

apapun agama dan keyakinan yang kita pilih, kita menghidupinya dalam ritual yang kita lakukan bersama dengan orang lain. kita yang kristiani berkumpul bersama untuk misa atau kebaktian dan doa-doa bersama, kita yang muslim berkumpul berjamaah untuk sholat bersama atau pengajian. kita yang hindu mendaraskan doa bersama pada sang hyang widhi wasa. kita yang budha melafalkan paritta bersama di vihara.

betapa sering saat kita berkumpul menghidupi iman itu kita mengaku sebagai satu saudara. bersama-sama menyerukan agar tuhan hadir di tengah-tengah kita, untuk meneguhkan ikatan persaudaraan dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali bersama.

lalu saat selesai ibadah, kita kembali menjadi orang-orang asing, yang hanya peduli pada hidup kita masing-masing. lupa bahwa berapa puluh menit sebelumnya kita menjadi saudara dalam iman dan pengharapan.

apa yang sebenarnya kita doakan, dan kita serukan? siapa sebenarnya yang kita anggap sebagai saudara?apakah hanya orang-orang yang kita sayang dan kita kenal: keluarga, pasangan, dan teman-teman kita?
apakah kita bersaudara jika kita bahkan tak tahu dan tak kenal orang-orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri saat kita berdoa. hanya senyum dan anggukan basa basi untuk menghilangkan kekakuan yang terjadi.
kita tenggelam dalam dunia kita sendiri, dalam kebutuhan dan keinginan masing-masing. tak peduli apa yang terjadi dengan orang-orang di sekeliling kita, yang berdoa bersama sebagai satu saudara.
mungkin saudara-saudara di sebelah kanan dan kiri kita itu mempunyai masalah, butuh bantuan, ingin didengarkan. dan kita terlalu sibuk berdoa untuk diri kita sendiri.

mungkin ini saatnya bagi kita untuk berpikir, bahwa selain keluarga, pasangan, dan teman-teman kita. ada begitu banyak saudara kita yang lain yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. tidak selalu dalam bentuk material, mungkin sekedar didengarkan atau ditemani, dalam keluh kesah dan masalah mereka.

pada saat kita berdoa bersama agar tuhan datang membantu masalah-masalah kita, mungkin tuhan menggunakan setiap dari kita untuk saling membantu satu sama lain. tidak pernah ada kata salah dan terlambat untuk memulai saling perduli, bertanya dengan tulus: apa kabarmu hari ini? apakah kau baik-baik saja? mungkin dengan jalan mulai saling peduli dan berbagi itu kita membantu tuhan untuk menciptakan tatanan dunia baru, keluarga besar yang saling mengasihi sehingga hidup lebih indah dan mudah untuk dijalani..

tidak ada yang salah dengan mengusahakan yang terbaik pada hidup dan masa depan kita. tuhan mau kita menjadi yang terbaik sesuai dengan citranya. akan tetapi lebih dari itu, tuhan kita semua juga ingin agar kita tidak hanya peduli pada hidup kita - tetapi pada hidup teman dan saudara di sekitar kita.
bunda Teresa mengatakan: aku melihat tuhan dalam perjumpaan dengan orang-orang yang aku temui. tuhan hadir dalam perjumpaan kita dengan orang lain, dengan perduli dan membuka hati pada mereka. kita membuka diri pada tuhan untuk bertumbuh bersama, sebagai individu dan saudara.

Thursday, February 2, 2012

kehidupan di balik sampah, belajar dari anak-anak bantar gebang

beberapa minggu lalu sebelum imlek, perusahaan tempatku bekerja mengadakan kegiatan sosial bersama untuk para karyawan (dari yang aku dengar, ini hal baru dilakukan di indonesia meskipun secara global ini merupaan salah satu policy dan common activities perusahaan - so it is a good start)
dan karena ini hal baru maka peserta yang ikut pun hanya sedikit, dari total hampir 400 karyawan tak lebih dari 15 orang yang ikut (mungkin banyak yang masih punya banyak pekerjaan lain karena ini dilakukan di hari jumat siang)

but the show must go on, kami berkumpul saat istirahat siang dan dengan peserta yang ada berangkat bersama menuju lokasi menggunakan 1 bus kecil. di dalam bus kami merencanakan lagi apa yang akan kami lakukan di sana. kegiatan yang dilakukan cukup sederhana: mengajak anak-anak bermain dan menanamkan nilai-nilai baru kepada mereka selama permainan dan kunjungan kami. seperti layaknya sebuah kegiatan, besar ataupun kecil, tetap harus direncanakan.

satu jam lebih bermacet-macet di alan akhirnya sampailah kami di tempat tujuan: bantar gebang..

bantar gebang yang sekarang bukan lagi tempat pembuangan akhir akan tetapi telah menjadi tempat pengolahan sampah terpadu, terbesar di indonesia, terletak di bekasi dengan luas area 110,3 hektar
pengelolaan bantar gebang dipegang oleh pihak swasta (pt godang tua jaya dan pt navigat organic energy indonesia) yang terikat kontrak dengan pemerintah provinsi dki jakarta

pemandangan sampah yang mengunung menyambut saat bus kami memasuki area itu.tidak heran, truk masuk lebih dari 1000an per hari mengangkut total sampah 5000-6000 ton. sejauh mata memandang hanya gunung sampah yang terlihat.




bau sampah menggantung di udara, menyengat hidung kami. apalagi saat pintu bus dibuka dan kami mulai menuju perkampungan penduduk. udaranya sangat tidak higienis untuk ukuran manusia. pasti karena keadaanlah sehingga mereka bertahan di tempat ini. kerumunan lalat, lalat hijau dimana-mana, bahkan di atas makanan. sungguh bukan kondisi ideal untuk kehidupan.

kami disambut oleh relawan di tempat itu, perempuan muda berjilbab dengan wajah yang berseri. orang-orang cantik yang bersemangat inilah yang memberikan energi untuk tempat seperti ini. tak lama kemudian kami menuju sanggar tempat anak-anak biasa belajar dan bermain bersama.

sekitar 50an anak yang menyambut kami dengan gembira. perjumpaan yang indah melihat adek-adek itu. tatapan yang polos, mata yang besar, wajah yang berseri-seri melihat kedatangan orang-orang baru ke tempat itu. kami yakin bahwa banyak juga komunitas yang datang sebelum kami. kedatangan orang-orang luar itu akan selalu mereka sambut karena memberikan berkah dan pengalaman yang menyenangkan untuk mereka.
kami bermain bersama: story telling, prakarya, bermain kelompok, yang kemudian diakhiri dengan foto dan makan bersama. mereka sangat bersemangat. berlari-larian di tengah tumpukan sampah. tak peduli panas, bau sampah yang menyengat, maupun kumpulan lalat di sekitar. anak-anak tetaplah individu yang bergembira dimanapun mereka berada, dan mereka sangat suka bermain.

saat makan bersama sesudah bermain, aku melihat anak-anak itu, mereka makan dengan lahap meskipun lalt hijau hinggap di nasi mereka, seakan tak peduli pada bahaya terhadap kesehatan.

beberapa anak memilih untuk membawa pulang makanannya. saat aku tanya kenapa ngga maem di sini saja, mereka menjawab: sudah kenyang om, buat di bawa pulang saja.
anak-anak ini mengajarkan untuk berhemat, makan tidak berlebihan meskipun ada kesempatan, dan ingat kepada keluarga di rumah yang mungkin lebih butuh makanan ini. seakan tertampar ketika aku melihat gaya hidupku yang sok berlebih, bersenang-senang dan foya-foya seakan yang paling mampu, dan hanya mengutamakan kepentingan sendiri.

yah, anak-anak sampah ini, yang makan dari sampah (kata mereka saat menyanyi) sesungguhnya memberikan lebih banyak kepada kita yang datang ke tempat itu. bukan kita yang memberikan lebih banyak kepada mereka, bukan soal makanan, mainan, atau barang yang kita berikan, atau kegembiraan, tapi sesungguhnya kita yang mengambil banyak dari perjumpaan itu, kita yang belajar banyak dari mereka..

tentang kegembiraan, dimanapun engkau berada. tentang mensyukuri kehidupan, bagaimanapun kondisinya. tentang ketidak egoisan dan masih memikirkan orang lain, meskipun berkekurangan, dan masih banyak lagi. kearifan yang bisa kita bawa dalam kehidupan kita masing-masing. senyum mereka, tawa dan kegembiraan mereka, juga saat mengatakan: lain kali datang lagi yah - sesungguhnya adalah peringatan dari malaikat kepada setiap kita, untuk elalu bersyukur, untuk selalu berefleksi tentang cara hidup kita, bahwa masih banyak orang yang berkekurangan, dan bahwa kehidupan kita bukan untuk disia-siakan.

pulang dari tempat itu, baju dan tas kami bau sampah. kami jadi bau sampah. bau yang akan hilang pada saat kami mandi dan mencucinya, tapi semoga pelajaran yang kami dapat hari itu tentang hidup tidak hilang dan terlupakan. belajar dari malaikat-malaikat kecil, yang hidup di tengah tumpukan sampah bantar gebang..

Wednesday, October 26, 2011

suatu hari yang temaram, selepas senja rembang petang

di suatu hari yang temaram, selepas senja rembang petang
ada diam yang digenggam, tidak tau kemana arahnya
ada sepi yang melingkupi, walau di luaran pekak keramaian
ah tidak semuanya ramai, ada juga tenang dalam peristirahatan

di suatu hari yang temaram, meski dimulai pagi yang berseri
matahari menyengat terik, tak peduli kemana arahnya
orang-orang mengusahakan kemanusiaannya, dibawah langit yang sama
ada hedon, ada compassion, tanggungjawab, bela rasa, kewajiban
di setiap hari, cerita-cerita silih berganti

saat siang begitu berkuasa, dan muntahan cahaya begitu bebasnya
saat semua hal dilakukan atas nama kewajiban
emosi-emosi dicurahkan dalam rona-rona yang berkeliaran
terkadang liar, terkadang banal, tidak mengerti apa itu kesopanan

lihat siang di sini bisa begitu cerahnya, udara terasa hangat
siang di sana mungkin berkabut, awan hitam menutupi langit seakan petang menjelang
siang yang lain mungkin sudah hujan, dingin udara, dingin di hati
siang bisa berbeda beda, kadang menggembirakan bagi beberapa orang, sakit untuk yang lainnya

di suatu hari, urutan waktu tak pernah berganti
ada siklus yang seakan sudah menjadi aturan alam yang harus dipatuhi
jika itu berubah, kiamat namanya. saat kita mempertanggungjawabkan semua hal yang dilakukan

namun di suatu hari, sebuah asa bisa berganti-ganti
layaknya permainan dadu seorang penjudi, kadang yang ada hanyalah keuntungan
kita untung jika semua hal menjadi baik dan indah, mudah dan menyenangkan
namun sering, keuntungan hanyalah khayalan yang hanya ada dalam impian

apakah suatu hari akan abadi, mampukah kita menahannya
hari pasti berganti, jika malam menutupnya, mengantarkan pada peraduan dalam sepi
di suatu hari yang temaram, selepas senja rembang petang
ada diam yang digenggam, ada bayangan yang berkeliaran

di hari ini: perasaan, angan, dan impian mengaburkan batasannya



Tuesday, October 18, 2011

ini bukan suatu kebanggaan

ceritanya bermula dari saat kecelakaan motor yang aku alami saat lulus SMP bertahun-tahun silam..
temanku yang di depan harus kehilangan salah satu matanya, hidung, bibir, dan giginya akibat kecelakaan itu. aku juga harus dirawat di RS PKU Muhammadiyah selama 1 minggu.

pada saat kami dirawat di UGD itu, kami menerima transfusi darah dari orang yang tidak kami kenal, tapi yang jelas menyelamatkan nyawa kami.

sejak itu aku berniat untuk menyumbangkan darahku kepada orang lain. mulai teratur menjadi donor di rumah sakit manapun yang menyediakan unit transfusi darah (dulu pengambilan darah belum dipusatkan di PMI). niat awalnya ingin membalas budi: kalau aku dulu pernah diselamatkan karena transfusi darah, maka biarlah darah ini menyelamatkan orang lain juga.
lama-kelamaan ini menjadi seperti kebiasaan yang menyenangkan, kadang belum sampai 3 bulan (minimum durasi donor darah 80 hari) aku pernah curi-curi menyumbang darah. pernah diterima satu kali untuk neneku ku sendiri waktu itu karena mendesak, padahal belum ada sebulan aku donor - untung tidak terjadi apa-apa dengan beliau waktu itu (arwahnya tenang sekarang di akhirat).

mulai menembus angka 10 lebih, 20 lebih, 30 lebih, ini kemudian menjadi semacam ambisi. minimal aku harus donor darah 1 tahun 4x, sehingga nanti bisa tembus angka 100. kalau perlu tidak hanya donor darah normal tiga bulanan, aku lalu mendaftar donor darah pheresis (donor trombosit darah). waktunya lebih lama (2 jam) dibandingkan donor darah biasa (10 menit) akan tetapi interval nya lebih singkat (hanya dua mingguan) sehingga bisa lebih sering (pheresis ini dilakukan kalau misalnya ada kebutuhan, jadi harus langsung).
minum alkohol pun dijaga, 3minggu sebelum donor jangan minum supaya darahnya bersih dan tidak ditolak PMI saat dilakukan pemeriksaan.

rasanya bangga, apalagi kalau dilihat yang ambil darah, "wah hebat yah mas, masih muda sudah 60 kali lebih donor darahnya!" seperti sudah jadi orang yang berguna bagi orang lain. kayak sudah hebat sekali. apalagi sekarang tiap donor diambilnya 450ml, jumlah terbanyak karena berat badan.

tapi beberapa minggu lalu saat diambil darah terakhir, aku melihat ke sekeliling, ke orang-orang yang juga menyumbangkan darahnya. ada remaja yang sepertinya baru pertama kali sehingga takut-takut menyumbang darah, ibu-ibu berjilbab yang nampak pasrah dan tenang, dua suster yang tersenyum saat ditusuk (padahal sakit), bapak-bapak tua..

aku jadi berpikir, tidak ada yang istimewa dengan menyumbangkan darah kepada orang lain. ini bukan suatu kebanggaan yang harus disombongkan. menyumbangkan darah justru malah bermanfaat juga bagi kita yang jadi donor karena membantu menjaga Hb, darah terus segar karena di produksi lagi, dan banyak manfaat yang lain. kita tidak lantas menjadi pahlawan dengan menyumbangkan darah..

terpekur malu aku lihat darahku mengalir melalui selang menuju kantong darah di timbangan, bagiku ini seharusnya lebih sebagai penebusan: untuk semua hal buruk yang sudah aku lakukan, untuk kehidupan-kehidupan yang aku khianati.. dan yang jelas ini juga kewajiban untuk semua manusia, saling menolong satu sama lain

jadi aku mengajak kalian semua, jika kondisimu memungkinkan, untuk menyumbangkan darahmu pada orang lain yang pasti membutuhkannya. bukan untuk menjadi seorang yang lebih baik, bukan untuk menjadi kebanggaan dan kesombongan, tapi karena memang kita mau, dan kita mampu..
karena kita mencintai sesama kita.

ini bukan suatu kebanggaan, ini adalah cinta...

Thursday, October 13, 2011

kesombongan tak pernah menghasilkan kesempurnaan

sudah lama aku menginginkan sertifikasi ini, selain menambah pengetahuan juga bisa melengkapi expertise yang aku punya dalam pekerjaan. sertifikasi terakhir yang aku miliki di tahun 2008, sebelum aku memilih meneruskan kuliah lagi, sesudah lulus baru terpikir untuk kembali mengambil program-program sertifikasi yang aku perlukan. maka ketika ada kesempatan dan biaya, aku memutuskan untuk belajar lagi dan mengambil ujian sertifikasi. untunglah proses belajar nya bisa berjalan dengan lancar. ada web training juga di kantor yang bisa aku gunakan untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan sebelum ujian. ketika tiba saat ujian sertifikasi, aku berangkat dengan yakin. sudah satu minggu aku tidak nonton televisi setelah pulang kerja karena aku gunakan untuk belajar demi ujian ini (salah satu yang diajarkan ibuku sejak kecil dulu adalah waktu belajar apalagi mau ujian jangan nonton tv sesudahnya, karena nanti yang dipelajari akan hilang. ingatannya tergantikan oleh acara televisi yang ditonton. jadi habis belajar langsung tidur biar besoknya bangun segar dan masih ingat semua yang dipelajari) rasanya persiapanku sudah lengkap semua, maka aku masuk ruang ujian dengan percaya diri. waktu ujiannya satu jam, ada 40 soal dan pilihan ganda. bagiku ini menguntungkan karena at least ada pilihan jika mau ngawur jawab, walaupun di lain pihak bisa membingungkan juga jika tidak tahu. begitu membaca sekilas soal-soalnya aku tersenyum lebar, rasanya pertanyaannya mudah dan sudah aku pelajari semua. langsung aku kerjakan semua soal itu dengan yakin. tidak butuh waktu yang lama, hanya sekitar 15 menit aku sudah bisa menyelesaikan menjawab semua soal itu. ah pasti dapat 100 ini pikirku dengan yakin karena semua soal aku jawab dengan percaya diri. tanpa menunggu lama langsung aku submit semua jawabanku tanpa terpikir untuk memeriksa nya lagi dari depan satu demi satu (hal lain yang diajarkan orang tua ku saat ujian, kalau sudah selesai, jangan buru-buru, jika masih ada sisa waktu periksa lagi dari depan untuk memastikan semua soal sudah dijawab dan dikerjakan dengan benar). langsung aku keluar ruangan, menuju ke ruang reception dengan senyum lebar, "mbak saya sudah selesai". "oh cepat sekali pak" kata mbak reception itu "sebentar yah saya check dulu, hasil nyua bisa langsung dilihat kok pak, lulus atau tidaknya". tidak berapa lama dia online lalu hasilnya di print, "selamat yah pak, sudah lulus!, ini hasilnya" katanya sambil menyerahkan print hasil ujian kepadaku. senyumku masih lebar saat menerima kertas itu lalu aku melihat hasilnya, damn! hasilnya tidak perfect! lalu aku teringat ada dua atau tiga soal yang sepertinya ada jawaban yang ragu karena pilihan jawabannya semuanya nampak benar. aku langsung menyesal kenapa aku buru-buru yah, tidak aku check lebih dahulu. ini sama dengan saat EBTANAS Matematika SD dahulu ada satu jawaban yang salah karena aku tidak check. Sudah aku perbaiki dengan sempurna saat SMP dulu kesalahannya tapi sekarang aku ulang kembali. telo! telo! menyesal rasanya, karena bayaran dan usaha belajar yang sudah aku lakukan jadi kurang optimal karena terlalu percaya diri dan tidak memeriksa lagi. sorenya aku cerita ke orang tuaku aku mengulang kesalahan yang sama lagi dengan dulu, sambil tersenyum mereka bicara di telefon "memang kesombongan itu membuat jatuh to le, yo wis makanya lebih hati-hati ke depan. sekarang ya sudah yang penting lulus toh, hasilnya juga bagus kok" terlepas dari soal perfeksionis dan lama ngga ujian sehingga lupa best practice-nya, saya disadarkan lagi bahwa kesombongan memang tidak akan membuahkan hal-hal baik untuk dinikmati, tidak pernah ada kesempurnaan yang dihasilkan karena kesombongan. hanya keterbukaan dan kerendahan hati yang membuat kita bisa menerima dan melakukan banyak hal, berujung pada kebaikan, dan hal-hal yang lebih baik lainnya. semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, saya dan anda...

You don’t need heaven to see an angel

Bulan kemarin ada undangan untuk foto dan sidik jari dalam rangka e-KTP.. sebagai penduduk dan warga Negara yang baik, saya juga mematuhi untuk datang pada undangan itu (walaupun sebenarnya lebih karena tidak mau repot di kemudian hari, berurusan dengan pemerintahan yang pasti ribet kalau sudah menyangkut kependudukan) Undangannya dari jam 8-12 siang di kantor kelurahan, harus datang sendiri dan tidak boleh diwakilkan. Damn! Umpatku, karena di hari yang sama dari pagi sampai sore harus mengikuti training wajib dari kantor. Tidak boleh telat, tidak boleh mangkir karena sudah di reserve di hotel dan trainernya dari luar, begitu wanti-wanti orang HR jauh-jauh hari. Akhirnya daripada telat, aku putuskan datang ke tempat training lebih dahulu lalu minta ijin ke trainernya untuk keluar jam setengah 12 untuk ke kantor kelurahan. “No problem”, kata trainer Filipino itu saat aku minta ijin. Kebetulan waktu itu hari jumat jadi memang setengah 12 training dihentikan untuk sholat jumat. Begitu keluar aku langsung mencari taxi untuk ke kantor kelurahan, sengaja tidak bawa mobil karena kantor kelurahan itu letaknya di jalan satu arah sehingga harus memutar dan melewati SD Tarakanita yang selalu ramai saat siang hari karena anak-anak pulang sekolah. Sengaja aku berhenti di ujung gang karena pikirku mau naik ojek saja biar lebih cepat dan praktis, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 12 kurang seperempat. Sial! Ternyata pos ojeknya sepi. “Lagi pada jumatan pak!” Teriak penjaga parkir SD Tarakanita yang melihat aku celingak-celinguk di pos ojek. Ya ampun aku ngga mikir kalau masyarakat Indonesia ini masih beragama dan taat beribadah juga. Ngga ada ojek non muslim di sini berarti, aku tersenyum berpikir ngga penting seperti itu. “Mau kemana pak?” Tanya penjaga parkir itu mendekatiku. “Mau ke kelurahan sana pak, foto ktp” jawabku. “Jauh ngga jalannya yah?” Tanyaku kepadanya. “Yah tinggal lurus sih tapi lumayan juga kalau jalan, sebentar saya carikan motor dulu” tawarannya. Wah lumayan ini pikirku senang. Tak berapa lama abang itu datang dengan membawa motor pinjaman, aku langsung naik dan diantarkan ke kantor kelurahan. Ternyata sekitar 1km, lumayan juga kalau jalan pikirku. Begitu turun aku berikan uang kepadanya untuk jasa mengantarku. “terima kasih pak!” teriaknya sambil meluncur pergi. Ternyata penjaganya yang laki-laki juga sedang sholat. Sebelumnya aku diberitahu ada penjaga laki-laki dan perempuan jadi bisa gentian kalau yang laki-laki sholat, tapi ibu-ibu petugas yang kutemui di sana dengan gesit langsung bilang waktu aku tanya masih buka atau nggak, “tunggu dulu yah pak, lagi istirahat nih” katanya sambil membawa piring nasi dan lauk untuk makan siang. Nasib deh nunggu lagi di sini kataku dalam hati Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, tidak lama datang petugas yang laki-laki. Untung prosesnya tidak memakan waktu lama, tinggal di foto (harus di ulang berkali-kali karena kepalaku susah tegak katanya), lalu foto retina dan sidik jari semua. Urusan sudah beres.. Keluar dari kantor kelurahan aku langsung bengong, kenapa abang parkir tadi tidak aku minta tunggu atau balik lagi yah? Lalu gimana aku pergi ke jalan besarnya? Pikirku. Ya sudahlah aku jalan kaki saja, bakalan telat nih masuk trainingnya. Jalan 100 meter ternyata ada tempat orang nongkrong, “mau ke depan yah pak?” tanya salah satu dari mereka “iya” jawabku “ada ojek ngga yah pak?” “biasanya ada, ini karena jumatan jadi pada ngumpul di depan. Tunggu aja di sini” katanya. Aku ikut sarannya, tapi sudah 5 menit menunggu kok ya ngga ada ojek yang datang kesini.. Saat aku sudah memutuskan mau jalan lagi saja daripada nunggu ngga jelas gini, ada seorang remaja lewat naik motor bebek. Kayaknya anak bengkel karena pakaiannya kotor dan dia naik motor sambil menghitung uang recehan, mungkin untuk makan siangnya.”hei, anterin bapak ini dulu ke depan sana!” teriak salah satu orang yang nongkrong kepada remaja itu. Acuh tak acuh tidak menjawab dia menghentikan motornya. “numpang yah” kataku sambil naik ke motor lalu melaju. Di jalan aku mikir, anak ini aku kasih uang berapa yah nanti? Soalnya di Jakarta ini kan tidak ada yang gratis gitu saja, apapun butuh duit dan harus dihargai dengan uang pikirku mereka-reka Sampai di ujung jalan dia berhenti “sudah sampai” katanya singkat. Aku turun dari motornya, mengucapkan terima kasih sambil mengulurkan uang kepadanya. “ngga usah bayar pak” tolaknya sambil menggerakkan tangannya. “loh nggak papa kok, ini ambil saja” aku masih bersikukuh. “bener pak, ngga papa kok, saya ikhlas…” Anjrit! aku langsung speechless sesaat. “oh..terima kasih banyak yah dek” kataku sebelum dia membalikkan motornya dan pergi menjauh. Saat menyeberang jalan dan memanggil taxi aku jadi berpikir banyak dan serasa ditampar. What a shame! I just judging the book from its cover, dan menjadi manusia yang mengira semua pasti harus ada imbalannya. Lupa bahwa kita ini punya budaya yang namanya tolong menolong. Aku ini anak desa, yang lahir dan besar di budaya kumpul dan gotong royong, kok yah sudah mulai melupakan nilai kearifan masyarakatku. Pengalaman siang hari itu mengajarkan banyak hal, untuk lebih bijaksana dalam melihat sesuatu, dan untuk selalu menjaga nilai-nilai dan kearifan yang diajarkan oleh para pendahulu kita sebagai tatanan kehidupan yang patut dilaksanakan. And yeah, we don’t need heaven to see an angel…