Thursday, October 13, 2011

You don’t need heaven to see an angel

Bulan kemarin ada undangan untuk foto dan sidik jari dalam rangka e-KTP.. sebagai penduduk dan warga Negara yang baik, saya juga mematuhi untuk datang pada undangan itu (walaupun sebenarnya lebih karena tidak mau repot di kemudian hari, berurusan dengan pemerintahan yang pasti ribet kalau sudah menyangkut kependudukan) Undangannya dari jam 8-12 siang di kantor kelurahan, harus datang sendiri dan tidak boleh diwakilkan. Damn! Umpatku, karena di hari yang sama dari pagi sampai sore harus mengikuti training wajib dari kantor. Tidak boleh telat, tidak boleh mangkir karena sudah di reserve di hotel dan trainernya dari luar, begitu wanti-wanti orang HR jauh-jauh hari. Akhirnya daripada telat, aku putuskan datang ke tempat training lebih dahulu lalu minta ijin ke trainernya untuk keluar jam setengah 12 untuk ke kantor kelurahan. “No problem”, kata trainer Filipino itu saat aku minta ijin. Kebetulan waktu itu hari jumat jadi memang setengah 12 training dihentikan untuk sholat jumat. Begitu keluar aku langsung mencari taxi untuk ke kantor kelurahan, sengaja tidak bawa mobil karena kantor kelurahan itu letaknya di jalan satu arah sehingga harus memutar dan melewati SD Tarakanita yang selalu ramai saat siang hari karena anak-anak pulang sekolah. Sengaja aku berhenti di ujung gang karena pikirku mau naik ojek saja biar lebih cepat dan praktis, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 12 kurang seperempat. Sial! Ternyata pos ojeknya sepi. “Lagi pada jumatan pak!” Teriak penjaga parkir SD Tarakanita yang melihat aku celingak-celinguk di pos ojek. Ya ampun aku ngga mikir kalau masyarakat Indonesia ini masih beragama dan taat beribadah juga. Ngga ada ojek non muslim di sini berarti, aku tersenyum berpikir ngga penting seperti itu. “Mau kemana pak?” Tanya penjaga parkir itu mendekatiku. “Mau ke kelurahan sana pak, foto ktp” jawabku. “Jauh ngga jalannya yah?” Tanyaku kepadanya. “Yah tinggal lurus sih tapi lumayan juga kalau jalan, sebentar saya carikan motor dulu” tawarannya. Wah lumayan ini pikirku senang. Tak berapa lama abang itu datang dengan membawa motor pinjaman, aku langsung naik dan diantarkan ke kantor kelurahan. Ternyata sekitar 1km, lumayan juga kalau jalan pikirku. Begitu turun aku berikan uang kepadanya untuk jasa mengantarku. “terima kasih pak!” teriaknya sambil meluncur pergi. Ternyata penjaganya yang laki-laki juga sedang sholat. Sebelumnya aku diberitahu ada penjaga laki-laki dan perempuan jadi bisa gentian kalau yang laki-laki sholat, tapi ibu-ibu petugas yang kutemui di sana dengan gesit langsung bilang waktu aku tanya masih buka atau nggak, “tunggu dulu yah pak, lagi istirahat nih” katanya sambil membawa piring nasi dan lauk untuk makan siang. Nasib deh nunggu lagi di sini kataku dalam hati Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, tidak lama datang petugas yang laki-laki. Untung prosesnya tidak memakan waktu lama, tinggal di foto (harus di ulang berkali-kali karena kepalaku susah tegak katanya), lalu foto retina dan sidik jari semua. Urusan sudah beres.. Keluar dari kantor kelurahan aku langsung bengong, kenapa abang parkir tadi tidak aku minta tunggu atau balik lagi yah? Lalu gimana aku pergi ke jalan besarnya? Pikirku. Ya sudahlah aku jalan kaki saja, bakalan telat nih masuk trainingnya. Jalan 100 meter ternyata ada tempat orang nongkrong, “mau ke depan yah pak?” tanya salah satu dari mereka “iya” jawabku “ada ojek ngga yah pak?” “biasanya ada, ini karena jumatan jadi pada ngumpul di depan. Tunggu aja di sini” katanya. Aku ikut sarannya, tapi sudah 5 menit menunggu kok ya ngga ada ojek yang datang kesini.. Saat aku sudah memutuskan mau jalan lagi saja daripada nunggu ngga jelas gini, ada seorang remaja lewat naik motor bebek. Kayaknya anak bengkel karena pakaiannya kotor dan dia naik motor sambil menghitung uang recehan, mungkin untuk makan siangnya.”hei, anterin bapak ini dulu ke depan sana!” teriak salah satu orang yang nongkrong kepada remaja itu. Acuh tak acuh tidak menjawab dia menghentikan motornya. “numpang yah” kataku sambil naik ke motor lalu melaju. Di jalan aku mikir, anak ini aku kasih uang berapa yah nanti? Soalnya di Jakarta ini kan tidak ada yang gratis gitu saja, apapun butuh duit dan harus dihargai dengan uang pikirku mereka-reka Sampai di ujung jalan dia berhenti “sudah sampai” katanya singkat. Aku turun dari motornya, mengucapkan terima kasih sambil mengulurkan uang kepadanya. “ngga usah bayar pak” tolaknya sambil menggerakkan tangannya. “loh nggak papa kok, ini ambil saja” aku masih bersikukuh. “bener pak, ngga papa kok, saya ikhlas…” Anjrit! aku langsung speechless sesaat. “oh..terima kasih banyak yah dek” kataku sebelum dia membalikkan motornya dan pergi menjauh. Saat menyeberang jalan dan memanggil taxi aku jadi berpikir banyak dan serasa ditampar. What a shame! I just judging the book from its cover, dan menjadi manusia yang mengira semua pasti harus ada imbalannya. Lupa bahwa kita ini punya budaya yang namanya tolong menolong. Aku ini anak desa, yang lahir dan besar di budaya kumpul dan gotong royong, kok yah sudah mulai melupakan nilai kearifan masyarakatku. Pengalaman siang hari itu mengajarkan banyak hal, untuk lebih bijaksana dalam melihat sesuatu, dan untuk selalu menjaga nilai-nilai dan kearifan yang diajarkan oleh para pendahulu kita sebagai tatanan kehidupan yang patut dilaksanakan. And yeah, we don’t need heaven to see an angel…

Wednesday, August 3, 2011

sebuah hal biasa, bisa berarti luar biasa untuk orang lain

sudah pernah menonton acara televisi "jika aku menjadi"?
kita akan melihat bagaimana anak-anak muda yang berkecukupan secara suka rela masuk dalam dunia baru yang berkekurangan. tinggal dan terlibat dalam dinamika harian keluarga miskin memperjuangkan kehidupan mereka.

dan kita pasti sering menonton acara kick andy di televisi. sebuah acara sangat menarik yang menampilkan orang-orang berhasil dalam apa yang mereka lakukan. kisah-kisah luar biasa tentang perjuangan kehidupan dan bagaimana hidup harus ditarikan.

bagi para keluarga miskin di acara jika aku menjadi, mereka tidak merencanakan agar kegiatan hariannya menjadi sesuatu yang hebat dan harus dicontoh. boro-boro mikirin hal itu sedangkan mikirin mau makan apa tiap hari aja susah dan berbagai kebutuhan hidup lain yang harus dipenuhi. tapi mereka terus berjuang dan itu menginspirasi kita untuk bersyukur atas apa yang kita terima dan untuk memperjuangkan kehidupan sama seperti mereka.

di acara kick andy, kebanyakan dari mereka berangkat dari keterpaksaan kondisi dan situasi yang dihadapi. keharusan untuk memutar otak dan berkreasi. berjuang dengan cara-cara baru, mengusahakan apa yang dimiliki tanpa kenal menyerah hingga berhasil. dan itu menjadi sebuah pencerahan bagi banyak orang yang melihatnya.

benang merah yang ingin saya katakan adalah terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita ini bisa mempengaruhi orang lain secara positif. bagaimana kegiatan dan perjuangan kehidupan kita ini bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita.

jika demikian maka menjadi berarti untuk menghidupi semua kegiatan harian kita, hal-hal kecil yang dilakukan dan menjadi rutinitas harian, dinamika perjuangan kehidupan dalam banyak hal; karena mungkin ini akan menjadi sebuah semangat dan pemacu untuk orang-orang yang melihatnya. tidak usahlah kita berpikir dulu untuk menjadi terkenal atau pahlawan besar, tapi akan sangat membahagiakan jika apa yang kita lakukan ini juga bisa bermanfaat untuk sekitar.

jadi, teruslah berjuang, menghidupi setiap apa yang kita lakukan dengan hati, melakukannya dengan tulus dan penuh, dalam hal apa saja. karena siapa tahu, manfaatnya tidak hanya akan kita rasakan tapi juga untuk banyak orang.

amin.

Monday, August 1, 2011

saat topeng kehidupan tetap harus dikenakan

+ : bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?
- : apa yang ingin kau tanyakan?
+ : apakah kalian bahagia?
- : bagaimana menurutmu, kenapa kau tanyakan hal itu?
+ : i don't know. aku hanya merasa kalian tak seperti layaknya pasangan. ada yang terasa aneh menurutku
- : ah itu hanya perasaanmu saja mungkin :)
+ : yah makanya aku bertanya padamu :p

lalu kemudian pembicaraan coba dialihkan...

+ : jawab saja pertanyaanku
- : bagian mana lagi yang harus aku jawab?
+ : apakah perkawinanmu baik-baik saja dan bahagia?
- : aku baik-baik saja. dan perkawinanku akan selalu baik-baik saja
+ : hehehe kenapa nadamu meninggi?
- : tidak, aku berusaha menjawab pertanyaanmu kok
+ : apakah itu benar jawaban yang sesungguhnya?
- : kenapa kau menanyakan hal itu?

+ : karena kita tidak kenal hanya dalam hitungan minggu atau bulan. sudah 15 tahun lamanya. dan aku akan selalu tahu saat dirimu berbohong, saat semuanya sebenarnya tidak baik-baik saja. saat sebenarnya ada yang sedang terjadi
- : itu kan hanya perkiraanmu. diriku baik-baik saja kok, demikian juga perkawinanku
+ : lebih baik kita hentikan saja pembicaraan ini jika kau tidak jujur padaku. seakan aku ini orang lain, sehingga kau tak terbuka padaku. kau tidak perlu menggunakan topeng-topeng norma itu kepadaku. aku tidak pada posisi untuk menyerang atau menghukummu kok
- : bukankah semua perkawinan harus selalu baik?

keheningan yang menyergap..

- : bukankah demikian seharusnya?
+ : aku tidak tahu, aku juga tidak mengerti..
- : yah, seharusnya semua baik-baik saja
+ : kau tahu perbedaan di antara kita kan?
- : iyah aku tahu..
+ : aku menanggalkan topengku
- : semua seharusnya baik-baik saja...

apakah semua topeng harus ditanggalkan dalam hidup ini
memang itu berarti kejujuran, keberanian untuk membuka diri
tapi ternyata itu belum berarti semuanya
dalam nama logika, norma, dan tata nilai
dalam nama kehormatan, dan kestabilan
dalam nama masa depan dan prinsip yang diyakini
dalam banyak nama dan alasan unuk menjustifikasi tentang pilihan

tidak ada yang benar, tidak ada yang salah
tidak ada hak untuk menilai
hitam putih kehidupan
pahit getir perjalanan

silahkan membuka topeng jika memang merasa nyaman
silahkan mengenakannya jika itu memang dibutuhkan

karena terkadang, ini bukan hanya soal topeng-topeng dalam kehidupan
ini lebih dari itu
lebih dalam dari itu...
dan tak ada yang cukup baik dan berhak untuk menilainya
tidak ada...

yang dibutuhkan adalah pelukan, dan dukungan
bahwa sebenarnya tidak ada seorangpun yang sendirian
karena kemiskinan terbesar adalah kesepian dan ternafikan.

.

pasti halal, belum tentu haram. pasti haram, tidak mungkin halal

sore tadi hari pertama puasa, aku ikut dalam ritual tahunan ini - ketika para pengikut nabi Muhammad memperjuangkan begitu banyak berkah dan hidayah di bulan Ramadhan ini.

sama seperti apa yang disarankan oleh iklan-iklan di televisi, berbukalah dengn yang manis: aku pun turut membatalkan puasaku dengan makanan yang manis: babi panggang karo..

selepas maghrib aku melangkahkan kaki ke arah mall ambassador, pasti sangat terlihat penuh niat karena ke sana sendirian :) hanya terasa senang saja beberapa hari ini berjalan dan melihat hiruk pikuk orang-orang yang bergegas sepulang kerja.
tak berapa lama aku sampai di salah satu lapo, ada hal yang sedikit berbeda terlihat dari yang biasanya saat aku ke sana di sore hari. beberapa pegawai lapo itu makan bersama-sama, ada yang terlihat masih segar wajahnya. ada capcay yang menjadi lauk dan mereka makan dengan lahap.

karena sepi tidak banyak pengunjung, aku bisa berbicara dengan mereka. "tumben, sudah pada makan lagi jam segini belum tutup" tanyaku memulai pembicaraan. "ini baru makan bang, tadi seharian puasa" jawab seorang pegawai perempuan sambil menyeka mulutnya. ada nasi yang tertinggal di dekat bibir bawahnya. "iyah harus buru-buru nih, ntar sholatnya giliran habis tutup terus taraweh" kata pegawai laki-laki lain yang wajahnya segar. rupanya dia habis mandi untuk persiapan sholat dan ke masjid.
aku agak tersentak mendengar jawaban-jawaban mereka, dan sambil makan ini menjadi permenunganku...

ternyata mayoritas pegawai lapo itu muslim agamanya! dan meskipun tiap hari mereka menggauli daging-daging babi itu yang pasti haram
absolut, mereka tidak lupa menjalankan kewajiban agama yang sudah dipilih dan diyakini.
alih-alih mencari alasan untuk tidak berpuasa, mereka tetap berusaha menjalankan dengan sebaik mungkin. karena tidak mungkin berbuka
puasa dengan lauk yang mereka jual, maka patunganlah membeli capcay yang halal untuk berbuka puasa. tetap memasak dan menjual
daging babi sebagai salah satu pekerjaan untuk menopang kehidupan, akan tetapi tidak memakannya karena itu haram dalam ajaran
mereka.

menjadi kontradiksi ketika aku teringat dengan wakil-wakil kita para pejabat terhormat dan bapak-bapak di gedung bundar itu. ketika korupsi
menjadi hal yang membudaya dan umum dilakukan di lingkungan mereka, maka tanpa malu dan berusaha bertahan lalu ikut terlibat dalam kesenangan di dalamnya. haram berjamaah! tanpa mencoba untuk menjaga diri. "susah, nanti kalau tidak ikutan dianggap aneh dan jadi tak punya teman" ada kata yang pernah aku dengar diucapkan kenalan di pemerintahan.
sungguh memalukan karena dalam kapasitas mereka, seharusnya lebih tahu mana yang halal dan haram untuk dilakukan dan lebih banyak
pilihan serta kemampuan untuk memilih dibanding para pegawai lapo yang kutemui sore tadi di ambassador.

well, mungkin masalahnya tidak sesederhana itu dan tidak bisa juga membandingkan para pegawai lapo itu dengan bapak-bapak pejabat dan wakil rakyat. masalahnya lebih kompleks mungkin...
kompleks karena duitnya lebih banyak, dan pasti akan susah ditolak. tai kucing.

dan aku teringat ucapan mbak kasir saat aku membayar dan nyeletuk "kirain pada ngga puasa, soalnya kerja di lapo hehehe". dia tersenyum saat menjawab singkat "yang haram kan dagingnya bang, kerjaannya tetep halal. jadi tetep puasa"

mungkin lingkungan kita haram, orang-orang di sekitar kita melakukan hal haram, akan tetapi tetap ada pilihan bagi kita untuk tetap melakukan hal yang halal di lingkungan haram sekalipun..

selamat berpuasa, wassalam...

Sunday, July 24, 2011

waktu tak pernah menunggu

"
Hidupku dalam keadaan koma,
kosong seperti hidup Adam di Surga,
ketika aku melihat Selma berdiri di hadapanku seperti berkas cahaya.
Perempuan itu adalah Hawa hatiku yang memenuhinya dengan rahasia dan keajaiban
dan membuatku paham akan makna hidup…………….

Namun,
sekarangkah saatnya kehidupan akan memisahkan kita agar engkau bisa memperoleh keagungan seorang lelaki
dan aku kewajiban seorang perempuan?

Untuk inikah maka lembah menelan nyanyian burung bul-bul ke dalam relung-relungnya,
dan angin memporakporandakan daun-daun mahkota bunga mawar,
dan kaki-kaki menginjak-injak piala anggur?
Sia-siakah segala malam yang kita lalui bersama dalam cahaya rembulan di bawah pohon melati,
tempat dua jiwa kita menyatu?

Apakah kita terbang dengan gagah perkasa menuju bintang-bintang hingga lelap sayap-sayap kita,
lalu sekarang kita turun ke dalam jurang?
Atau tidurkah cinta ketika ia mendatangi kita, lalu, ketika ia terbangun, menjadi marah dan memutuskan untuk menghukum kita?

Ataukah jiwa-jiwa kita mengubah angin malam yang sepoi menjadi angin ribut yang mengoyak-ngoyak kita menjadi berkeping-keping dan meniup kita bagai debu ke dasar lembah? Kita tak melanggar perintah apa pun; kita pun tak mencicipi buah terlarang; lalu apa yang memaksa kita meninggalkan sorga ini?

Kita tidak pernah berkomplot atau menggerakkan pemberontakan, lalu mengapa sekarang terjun ke neraka? Tidak, tidak, saat-saat yang menyatukan kita lebih agung daripada abad-abad yang berlalu, dan cahaya yang menerang jiwa-jiwa kita lebih perkasa daripada kegelapan; dan jika sang prahara memisahkan kita di lautan yang buas ini, sang bayu akan menyatukan kita di pantai yang tenang, dan jika hidup ini membantai kita, maut akan menyatukan kita lagi.

Hati nurani seorang wanita tak berubah oleh waktu dan musim; bahkan jika mati abadi, hati itu takkan hilang murca. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah jadi medan pertempuran; seudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi karena musim semi dan musim gugur datang pada waktunya dan memulai pekerjaannya…

---------------------------------------
“Guru, bagaimanakah perihal Waktu?”

Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat anak sungai, di mana atas tebingnya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesedaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok adalah harapan dan impian utk hari ini.
Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas, terkandung di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?

Tapi jika di dalam fikiranmu baru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkumi semua musim yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan."
-----------------------------

kedua tulisan di atas milik Gibran. siapa yang tidak kenal dengan Sang Kahlil ini yang karya-karyanya menjadi inspirasi bagi semua orang yang membacanya. kisah cintanya dengan Mary Haskell (yang dituangkan dalam sayap-sayap patah, untuk Selma Karami) yang bertahan sampai akhir hidupnya...

dan menjelang dini hari ini, Gibran memberi pelajaran kepadaku. mengajarkan aku untuk menggunakan semua waktu yang masih aku punya, dengan sebaik mungkin, tanpa ada kesia-siaan...

kata-kata tidak pernah cukup untuk menjelaskan, atau mengurai apa yang ada dalam pikiran atau perasaan..
satu hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua, dan juga kepada diriku sendiri: untuk semua hal baik yang ingin kalian lakukan, untuk semua cinta yang ingin kalian bagikan, untuk semua impian yang ingin kalian wujudkan. kerjakan sekarang dan jangan tunda lagi, karena waktu tak pernah menunggu...

"Jemariku lembut bermain pada jendela-jendela kaca
Dan berita yang kubawa membawa bahagia,
Semua orang dapat mendengarnya, namun hanya yang peka, dapat memahami maknanya."
(Kahlil Gibran - Nyanyian Hujan)

Thursday, July 21, 2011

jujur pada diri sendiri

saya suka dengan samuel mulia, kolumnis kompas yang setiap hari minggu muncul dengan tulisan-tulisannya yang menggelitik dan selalu menarik. menggelitik karena apa yang ditulisnya itu sebenarnya adalah potret kehidupan harian kita. menarik karena beliau menulis tanpa melukai, kenapa bisa begitu? samuel mulia mengajar melalui dirinya sendiri..tanpa malu dia buka kekurangannya, perasaan dan keinginan yang sangat manusiawi dalam segala positif dan negatifnya; untuk kemudian dia tertawakan dan kritik dirinya sendiri..yang membuat kita nyaman, dan belajar tanpa merasa diserang..

seperti samuel mulia, saya mencoba untuk menelanjangi diri sendiri dan kemudian berani menertawakan serta menceritakannya pada semua orang. bukan sebagai pemenuhan narsistis, tapi semoga bisa menjadi bahan permenungan. atau at least bacaan pengisi waktu luang.

sebagai pemegang kekuasaan tertinggi egositas dibandingkan semua makhluk lain, keinginan untuk selalu aman dan nyaman serta terlihat baik dan sempurna tanpa cacat selalu menjadi bagian dan kebutuhan mendasar dalam hidup saya.
kecenderungan itu yang membuat saya menjadi memilih-milih untuk bergaul dan lebih akrab dengan orang-orang yang satu ide atau punya kesamaan. ada rasa tidak aman di antara lingkungan orang-orang yang berbeda entah itu idealisme, cara pandang, pemikiran. apalagi jika saya tahu mereka tidak suka atau memusuhi saya.
perilaku ini yang membatasi pergaulan. sehingga mudah mengelompokkan orang dalam hitungan sahabat, teman dekat, teman biasa, teman yang harus dihindari, atau bahkan saingan dan lawan. tendensi yang ada ini kemudian diwujudkan melalui pengaruh, kekuasaan, dan apapun yang bisa dilakukan untuk membuat lingkungan turut dan sesuai dengan keinginan. supaya saya menjadi lebih nyaman ada di dalamnya..

untuk selalu terlihat baik dan sempurna tanpa cacat, saya sering menggunakan topeng-topeng yang bisa dipakai. entah itu kesopanan,keramahan, dan segala hal lain yang bisa membuat orang menjadi lebih suka dan nyaman di dekat saya.
sering jika ada masalah yang terpikirkan pertama kali adalah bagaimana bukan saya yang dipersalahkan tapi orang lain yang harus bertanggung jawab. alih-alih menghadapi secara kesatria, saya cenderung untuk melarikan diri dari masalah dan meninggalkannya tidak terselesaikan atau membuat orang lain menjadi korban.

dan sama seperti layaknya manusia yang berakal budi, saya juga sering sekali sadar akan kondisi ini. mencoba untuk mulai berubah dan menjadi lebih baik dalam semua hal. walaupun seringnya akan kembali jatuh dalam lubang yang sama untuk kemudian menyalahkan lagi semua orang selain diri saya sendiri. bahkan tuhan pun saya tempatkan dalam posisi yang berlawanan karena tidak memihak saya sepenuhnya.

tulisan ini tidak akan di akhiri dengan kesimpulan apapun, sama seperti tulisan samuel mulia yang sering kita jumpai terus setiap minggu, saya juga akan terus mencoba mencari tahu semua hal pada diri saya yang bisa saya tertawakan dan kritisi. tanpa harus muluk-muluk berjanji untuk berubah dan menjadi lebih baik, saya hanya akan jalani hidup ini semampu yang saya bisa. apapun adanya.
jika ada yang bisa diperbaiki dan dilakukan serta bermanfaat, so be it. jika ada kesalahan yang terulang dan dilakukan lagi, yah saya memang masih manusia.
tapi proses penyadaran dan pembelajaran ini, yang semoga menjadi milik kita semua. untuk tidak pernah puas dengan apa yang ada pada kita saat ini, meskipun kita sudah baik, atau terlihat baik, atu berusaha kita buat supaya terlihat baik..

perlu untuk sejenak melepaskan topeng-topeng yang selalu saya pakai ini, untuk melihat diri saya sendiri sebenarnya dan seutuhnya.

jujur saja pada diri kita masing-masing, jujur pada saya sendiri, tentang semua kelemahan saya, tentang semua hal buruk yang mesti saya ubah dan saya perbaiki jika waktu masih berpihak dan bersama hidup ini. sehingga setiap hari tidak akan menjadi hari yang terlewat dengan sia-sia...

salam...

Thursday, July 14, 2011

pelayanan dan perlindungan terhadap pasangan

ada film ftv diputar di sctv tadi malam, judulnya 'ketika waginah bicara'. pemainnya alex komang dan kinaryoshi.
saya tidak akan banyak bicara tentang filmnya selain alex komang yang kalau bermain sensualitasnya menurut saya sama sperti george cloney tapi yang dihilangkan kenakalannya dan kinaryoshi yang di film itu sensual sekali menurut saya (loh saya sudah mulai mau melantur lagi, lebih baik kembali ke pikiran awal saya menulis ini)..

ada salah satu adegan dalam film itu dimana waginah yang diminta bantuan untuk mengaku sebagai isteri pak drajad dengan tanpa diminta melepaskan sepatu dan kaos kaki pak drajad yang tertidur karena kelelahan dalam perjalanan mereka pulang ke kampung halaman.

saya agak terkesima melihat adegan itu, kemudian langsung terbayang tentang pelayanan perempuan jawa kepada pasangannya. berperan sebagai kasta nomer dua dalam kehidupan sosial, mereka seakan mengemban amanah 3M (masak, macak, manak = memasak, berhias diri, melahirkan) dalam rumah tangga; dan hrus total mengabdi dan melayani suami. bahkan secara sacral, pemahaman swargo nunut nroko katut (surga dan neraka bergantung dari suami) yang dikuatkan dalam ideologi islam jawa lelaki sebagai khafilah atau pemimpin dalam keluarga.

terlintas dalam pikiran saya bagaimana jika saya kelak mempunyai pasanga yang seperti itu yah? melayani dalam kepatuhan absolut. dulu kakak saya pernah bilang, seorang istri itu harus bisa secara ekstrim menjadi pelayan di rumah, figur ibu dalam keluarga, bahkan seperti pelacur di ranjang demi pasangannya...

saya tersenyum, pendapat ini sekarang akan ditentang oleh banyak sekali perempuan moden jaman sekarang. konsep kepatuhan absolut dan pelayanan yang saya gambarkan di atas tidak akan pernah dimengerti oleh para penganut kesetaraan gender, perempuan modern yang cerdas, mengutamakan karir, dan persamaan hak serta kedudukan dengan lelaki atau pasangannya. boro-boro mau membukakan sepatu, memasak, mencuci, dan kerjaan rumah tangga yang lain itu urusan si mbak jadi jangan harap deh :)

tapi kemudian pikiran egois dan sangat patriarkis ini harus saya imbangi dengan mencoba untuk mengerti apa yang juga dibutuhkan oleh para perempuan itu dari pasangannya..

waginah mewakili banyak perempun dari semua strata dan latar belakang budaya menyerukan harapan para perempuan dari pasangannya:
'apakah saya akan dipukul dan dikasari apabila tidak mau diajak berbuat intim?'
'apakah saya akan dipukul dan dimarahi jika melakukan kesalahan?'
ini yang seharusnya menjadi pegangan bagi semua lelaki termasuk saya...

sebagai lelaki, kita mungkin harus tampan, pintar, atau kaya untuk bisa tampil langsung menarik pada kesan pertama; tapi at the end, perempuan siapapun dia mengharapkan pasangan yang mampu melindungi sebagai tempat bersandar. yang mau bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. yang tidak kasar dan mudah memukul ketika pasangannya tidak melakukan yang diinginkan, yang tidak mudah marah dan menyakiti hati mereka.
lelaki perkasa yang lembut dan bisa menopang mereka..

karena saya bukan perempuan, saya hanya bisa mendalami lebih dalam kelelakian saya. apakah saya sudah menjadi seperti itu? siapa tahu ini hanya omong besar yang hanya bisa diucapkan tapi tidak pernah dilakukan..
apakah saya mau dan terus berusaha menjadi lelaki perkasa yang lembut dan bisa menopang pasangan itu??

relasi itu selalu dua arah, selalu memberi dan menerima. dengan hanya terus menuntut tanpa mau mawas diri untuk memberikan diri secara utuh dan penuh itu berarti memeras dan mengeksploitasi pasangan belaka

saya tersenyum simpul di akhir permenungan saya.
mungkin saja, dan sangat mungkin, jika saya dan para lelaki semua bisa melakukan apa yang diinginkan dan menjadi kebutuhan perempun-perempuan itu; bisa menjadi tumpuan dan harapan mereka dalam hidup yang diselimuti oleh apa yang dinamakan kebahagiaan, maka mereka juga akan menjadi pasangan seperti yang kita inginkan. mungkin pelayanan yang utuh dan penuh, dan tidak mustahil juga apa yan saya lihat dalam film kemarin terjadi pada saya - membukakan sepatu saat saya tertidur kelelahan bekerja demi kami..