Showing posts with label Social. Show all posts
Showing posts with label Social. Show all posts

Thursday, October 13, 2011

kesombongan tak pernah menghasilkan kesempurnaan

sudah lama aku menginginkan sertifikasi ini, selain menambah pengetahuan juga bisa melengkapi expertise yang aku punya dalam pekerjaan. sertifikasi terakhir yang aku miliki di tahun 2008, sebelum aku memilih meneruskan kuliah lagi, sesudah lulus baru terpikir untuk kembali mengambil program-program sertifikasi yang aku perlukan. maka ketika ada kesempatan dan biaya, aku memutuskan untuk belajar lagi dan mengambil ujian sertifikasi. untunglah proses belajar nya bisa berjalan dengan lancar. ada web training juga di kantor yang bisa aku gunakan untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan sebelum ujian. ketika tiba saat ujian sertifikasi, aku berangkat dengan yakin. sudah satu minggu aku tidak nonton televisi setelah pulang kerja karena aku gunakan untuk belajar demi ujian ini (salah satu yang diajarkan ibuku sejak kecil dulu adalah waktu belajar apalagi mau ujian jangan nonton tv sesudahnya, karena nanti yang dipelajari akan hilang. ingatannya tergantikan oleh acara televisi yang ditonton. jadi habis belajar langsung tidur biar besoknya bangun segar dan masih ingat semua yang dipelajari) rasanya persiapanku sudah lengkap semua, maka aku masuk ruang ujian dengan percaya diri. waktu ujiannya satu jam, ada 40 soal dan pilihan ganda. bagiku ini menguntungkan karena at least ada pilihan jika mau ngawur jawab, walaupun di lain pihak bisa membingungkan juga jika tidak tahu. begitu membaca sekilas soal-soalnya aku tersenyum lebar, rasanya pertanyaannya mudah dan sudah aku pelajari semua. langsung aku kerjakan semua soal itu dengan yakin. tidak butuh waktu yang lama, hanya sekitar 15 menit aku sudah bisa menyelesaikan menjawab semua soal itu. ah pasti dapat 100 ini pikirku dengan yakin karena semua soal aku jawab dengan percaya diri. tanpa menunggu lama langsung aku submit semua jawabanku tanpa terpikir untuk memeriksa nya lagi dari depan satu demi satu (hal lain yang diajarkan orang tua ku saat ujian, kalau sudah selesai, jangan buru-buru, jika masih ada sisa waktu periksa lagi dari depan untuk memastikan semua soal sudah dijawab dan dikerjakan dengan benar). langsung aku keluar ruangan, menuju ke ruang reception dengan senyum lebar, "mbak saya sudah selesai". "oh cepat sekali pak" kata mbak reception itu "sebentar yah saya check dulu, hasil nyua bisa langsung dilihat kok pak, lulus atau tidaknya". tidak berapa lama dia online lalu hasilnya di print, "selamat yah pak, sudah lulus!, ini hasilnya" katanya sambil menyerahkan print hasil ujian kepadaku. senyumku masih lebar saat menerima kertas itu lalu aku melihat hasilnya, damn! hasilnya tidak perfect! lalu aku teringat ada dua atau tiga soal yang sepertinya ada jawaban yang ragu karena pilihan jawabannya semuanya nampak benar. aku langsung menyesal kenapa aku buru-buru yah, tidak aku check lebih dahulu. ini sama dengan saat EBTANAS Matematika SD dahulu ada satu jawaban yang salah karena aku tidak check. Sudah aku perbaiki dengan sempurna saat SMP dulu kesalahannya tapi sekarang aku ulang kembali. telo! telo! menyesal rasanya, karena bayaran dan usaha belajar yang sudah aku lakukan jadi kurang optimal karena terlalu percaya diri dan tidak memeriksa lagi. sorenya aku cerita ke orang tuaku aku mengulang kesalahan yang sama lagi dengan dulu, sambil tersenyum mereka bicara di telefon "memang kesombongan itu membuat jatuh to le, yo wis makanya lebih hati-hati ke depan. sekarang ya sudah yang penting lulus toh, hasilnya juga bagus kok" terlepas dari soal perfeksionis dan lama ngga ujian sehingga lupa best practice-nya, saya disadarkan lagi bahwa kesombongan memang tidak akan membuahkan hal-hal baik untuk dinikmati, tidak pernah ada kesempurnaan yang dihasilkan karena kesombongan. hanya keterbukaan dan kerendahan hati yang membuat kita bisa menerima dan melakukan banyak hal, berujung pada kebaikan, dan hal-hal yang lebih baik lainnya. semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, saya dan anda...

You don’t need heaven to see an angel

Bulan kemarin ada undangan untuk foto dan sidik jari dalam rangka e-KTP.. sebagai penduduk dan warga Negara yang baik, saya juga mematuhi untuk datang pada undangan itu (walaupun sebenarnya lebih karena tidak mau repot di kemudian hari, berurusan dengan pemerintahan yang pasti ribet kalau sudah menyangkut kependudukan) Undangannya dari jam 8-12 siang di kantor kelurahan, harus datang sendiri dan tidak boleh diwakilkan. Damn! Umpatku, karena di hari yang sama dari pagi sampai sore harus mengikuti training wajib dari kantor. Tidak boleh telat, tidak boleh mangkir karena sudah di reserve di hotel dan trainernya dari luar, begitu wanti-wanti orang HR jauh-jauh hari. Akhirnya daripada telat, aku putuskan datang ke tempat training lebih dahulu lalu minta ijin ke trainernya untuk keluar jam setengah 12 untuk ke kantor kelurahan. “No problem”, kata trainer Filipino itu saat aku minta ijin. Kebetulan waktu itu hari jumat jadi memang setengah 12 training dihentikan untuk sholat jumat. Begitu keluar aku langsung mencari taxi untuk ke kantor kelurahan, sengaja tidak bawa mobil karena kantor kelurahan itu letaknya di jalan satu arah sehingga harus memutar dan melewati SD Tarakanita yang selalu ramai saat siang hari karena anak-anak pulang sekolah. Sengaja aku berhenti di ujung gang karena pikirku mau naik ojek saja biar lebih cepat dan praktis, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 12 kurang seperempat. Sial! Ternyata pos ojeknya sepi. “Lagi pada jumatan pak!” Teriak penjaga parkir SD Tarakanita yang melihat aku celingak-celinguk di pos ojek. Ya ampun aku ngga mikir kalau masyarakat Indonesia ini masih beragama dan taat beribadah juga. Ngga ada ojek non muslim di sini berarti, aku tersenyum berpikir ngga penting seperti itu. “Mau kemana pak?” Tanya penjaga parkir itu mendekatiku. “Mau ke kelurahan sana pak, foto ktp” jawabku. “Jauh ngga jalannya yah?” Tanyaku kepadanya. “Yah tinggal lurus sih tapi lumayan juga kalau jalan, sebentar saya carikan motor dulu” tawarannya. Wah lumayan ini pikirku senang. Tak berapa lama abang itu datang dengan membawa motor pinjaman, aku langsung naik dan diantarkan ke kantor kelurahan. Ternyata sekitar 1km, lumayan juga kalau jalan pikirku. Begitu turun aku berikan uang kepadanya untuk jasa mengantarku. “terima kasih pak!” teriaknya sambil meluncur pergi. Ternyata penjaganya yang laki-laki juga sedang sholat. Sebelumnya aku diberitahu ada penjaga laki-laki dan perempuan jadi bisa gentian kalau yang laki-laki sholat, tapi ibu-ibu petugas yang kutemui di sana dengan gesit langsung bilang waktu aku tanya masih buka atau nggak, “tunggu dulu yah pak, lagi istirahat nih” katanya sambil membawa piring nasi dan lauk untuk makan siang. Nasib deh nunggu lagi di sini kataku dalam hati Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, tidak lama datang petugas yang laki-laki. Untung prosesnya tidak memakan waktu lama, tinggal di foto (harus di ulang berkali-kali karena kepalaku susah tegak katanya), lalu foto retina dan sidik jari semua. Urusan sudah beres.. Keluar dari kantor kelurahan aku langsung bengong, kenapa abang parkir tadi tidak aku minta tunggu atau balik lagi yah? Lalu gimana aku pergi ke jalan besarnya? Pikirku. Ya sudahlah aku jalan kaki saja, bakalan telat nih masuk trainingnya. Jalan 100 meter ternyata ada tempat orang nongkrong, “mau ke depan yah pak?” tanya salah satu dari mereka “iya” jawabku “ada ojek ngga yah pak?” “biasanya ada, ini karena jumatan jadi pada ngumpul di depan. Tunggu aja di sini” katanya. Aku ikut sarannya, tapi sudah 5 menit menunggu kok ya ngga ada ojek yang datang kesini.. Saat aku sudah memutuskan mau jalan lagi saja daripada nunggu ngga jelas gini, ada seorang remaja lewat naik motor bebek. Kayaknya anak bengkel karena pakaiannya kotor dan dia naik motor sambil menghitung uang recehan, mungkin untuk makan siangnya.”hei, anterin bapak ini dulu ke depan sana!” teriak salah satu orang yang nongkrong kepada remaja itu. Acuh tak acuh tidak menjawab dia menghentikan motornya. “numpang yah” kataku sambil naik ke motor lalu melaju. Di jalan aku mikir, anak ini aku kasih uang berapa yah nanti? Soalnya di Jakarta ini kan tidak ada yang gratis gitu saja, apapun butuh duit dan harus dihargai dengan uang pikirku mereka-reka Sampai di ujung jalan dia berhenti “sudah sampai” katanya singkat. Aku turun dari motornya, mengucapkan terima kasih sambil mengulurkan uang kepadanya. “ngga usah bayar pak” tolaknya sambil menggerakkan tangannya. “loh nggak papa kok, ini ambil saja” aku masih bersikukuh. “bener pak, ngga papa kok, saya ikhlas…” Anjrit! aku langsung speechless sesaat. “oh..terima kasih banyak yah dek” kataku sebelum dia membalikkan motornya dan pergi menjauh. Saat menyeberang jalan dan memanggil taxi aku jadi berpikir banyak dan serasa ditampar. What a shame! I just judging the book from its cover, dan menjadi manusia yang mengira semua pasti harus ada imbalannya. Lupa bahwa kita ini punya budaya yang namanya tolong menolong. Aku ini anak desa, yang lahir dan besar di budaya kumpul dan gotong royong, kok yah sudah mulai melupakan nilai kearifan masyarakatku. Pengalaman siang hari itu mengajarkan banyak hal, untuk lebih bijaksana dalam melihat sesuatu, dan untuk selalu menjaga nilai-nilai dan kearifan yang diajarkan oleh para pendahulu kita sebagai tatanan kehidupan yang patut dilaksanakan. And yeah, we don’t need heaven to see an angel…

Wednesday, August 3, 2011

sebuah hal biasa, bisa berarti luar biasa untuk orang lain

sudah pernah menonton acara televisi "jika aku menjadi"?
kita akan melihat bagaimana anak-anak muda yang berkecukupan secara suka rela masuk dalam dunia baru yang berkekurangan. tinggal dan terlibat dalam dinamika harian keluarga miskin memperjuangkan kehidupan mereka.

dan kita pasti sering menonton acara kick andy di televisi. sebuah acara sangat menarik yang menampilkan orang-orang berhasil dalam apa yang mereka lakukan. kisah-kisah luar biasa tentang perjuangan kehidupan dan bagaimana hidup harus ditarikan.

bagi para keluarga miskin di acara jika aku menjadi, mereka tidak merencanakan agar kegiatan hariannya menjadi sesuatu yang hebat dan harus dicontoh. boro-boro mikirin hal itu sedangkan mikirin mau makan apa tiap hari aja susah dan berbagai kebutuhan hidup lain yang harus dipenuhi. tapi mereka terus berjuang dan itu menginspirasi kita untuk bersyukur atas apa yang kita terima dan untuk memperjuangkan kehidupan sama seperti mereka.

di acara kick andy, kebanyakan dari mereka berangkat dari keterpaksaan kondisi dan situasi yang dihadapi. keharusan untuk memutar otak dan berkreasi. berjuang dengan cara-cara baru, mengusahakan apa yang dimiliki tanpa kenal menyerah hingga berhasil. dan itu menjadi sebuah pencerahan bagi banyak orang yang melihatnya.

benang merah yang ingin saya katakan adalah terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita ini bisa mempengaruhi orang lain secara positif. bagaimana kegiatan dan perjuangan kehidupan kita ini bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita.

jika demikian maka menjadi berarti untuk menghidupi semua kegiatan harian kita, hal-hal kecil yang dilakukan dan menjadi rutinitas harian, dinamika perjuangan kehidupan dalam banyak hal; karena mungkin ini akan menjadi sebuah semangat dan pemacu untuk orang-orang yang melihatnya. tidak usahlah kita berpikir dulu untuk menjadi terkenal atau pahlawan besar, tapi akan sangat membahagiakan jika apa yang kita lakukan ini juga bisa bermanfaat untuk sekitar.

jadi, teruslah berjuang, menghidupi setiap apa yang kita lakukan dengan hati, melakukannya dengan tulus dan penuh, dalam hal apa saja. karena siapa tahu, manfaatnya tidak hanya akan kita rasakan tapi juga untuk banyak orang.

amin.

Monday, August 1, 2011

saat topeng kehidupan tetap harus dikenakan

+ : bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?
- : apa yang ingin kau tanyakan?
+ : apakah kalian bahagia?
- : bagaimana menurutmu, kenapa kau tanyakan hal itu?
+ : i don't know. aku hanya merasa kalian tak seperti layaknya pasangan. ada yang terasa aneh menurutku
- : ah itu hanya perasaanmu saja mungkin :)
+ : yah makanya aku bertanya padamu :p

lalu kemudian pembicaraan coba dialihkan...

+ : jawab saja pertanyaanku
- : bagian mana lagi yang harus aku jawab?
+ : apakah perkawinanmu baik-baik saja dan bahagia?
- : aku baik-baik saja. dan perkawinanku akan selalu baik-baik saja
+ : hehehe kenapa nadamu meninggi?
- : tidak, aku berusaha menjawab pertanyaanmu kok
+ : apakah itu benar jawaban yang sesungguhnya?
- : kenapa kau menanyakan hal itu?

+ : karena kita tidak kenal hanya dalam hitungan minggu atau bulan. sudah 15 tahun lamanya. dan aku akan selalu tahu saat dirimu berbohong, saat semuanya sebenarnya tidak baik-baik saja. saat sebenarnya ada yang sedang terjadi
- : itu kan hanya perkiraanmu. diriku baik-baik saja kok, demikian juga perkawinanku
+ : lebih baik kita hentikan saja pembicaraan ini jika kau tidak jujur padaku. seakan aku ini orang lain, sehingga kau tak terbuka padaku. kau tidak perlu menggunakan topeng-topeng norma itu kepadaku. aku tidak pada posisi untuk menyerang atau menghukummu kok
- : bukankah semua perkawinan harus selalu baik?

keheningan yang menyergap..

- : bukankah demikian seharusnya?
+ : aku tidak tahu, aku juga tidak mengerti..
- : yah, seharusnya semua baik-baik saja
+ : kau tahu perbedaan di antara kita kan?
- : iyah aku tahu..
+ : aku menanggalkan topengku
- : semua seharusnya baik-baik saja...

apakah semua topeng harus ditanggalkan dalam hidup ini
memang itu berarti kejujuran, keberanian untuk membuka diri
tapi ternyata itu belum berarti semuanya
dalam nama logika, norma, dan tata nilai
dalam nama kehormatan, dan kestabilan
dalam nama masa depan dan prinsip yang diyakini
dalam banyak nama dan alasan unuk menjustifikasi tentang pilihan

tidak ada yang benar, tidak ada yang salah
tidak ada hak untuk menilai
hitam putih kehidupan
pahit getir perjalanan

silahkan membuka topeng jika memang merasa nyaman
silahkan mengenakannya jika itu memang dibutuhkan

karena terkadang, ini bukan hanya soal topeng-topeng dalam kehidupan
ini lebih dari itu
lebih dalam dari itu...
dan tak ada yang cukup baik dan berhak untuk menilainya
tidak ada...

yang dibutuhkan adalah pelukan, dan dukungan
bahwa sebenarnya tidak ada seorangpun yang sendirian
karena kemiskinan terbesar adalah kesepian dan ternafikan.

.

pasti halal, belum tentu haram. pasti haram, tidak mungkin halal

sore tadi hari pertama puasa, aku ikut dalam ritual tahunan ini - ketika para pengikut nabi Muhammad memperjuangkan begitu banyak berkah dan hidayah di bulan Ramadhan ini.

sama seperti apa yang disarankan oleh iklan-iklan di televisi, berbukalah dengn yang manis: aku pun turut membatalkan puasaku dengan makanan yang manis: babi panggang karo..

selepas maghrib aku melangkahkan kaki ke arah mall ambassador, pasti sangat terlihat penuh niat karena ke sana sendirian :) hanya terasa senang saja beberapa hari ini berjalan dan melihat hiruk pikuk orang-orang yang bergegas sepulang kerja.
tak berapa lama aku sampai di salah satu lapo, ada hal yang sedikit berbeda terlihat dari yang biasanya saat aku ke sana di sore hari. beberapa pegawai lapo itu makan bersama-sama, ada yang terlihat masih segar wajahnya. ada capcay yang menjadi lauk dan mereka makan dengan lahap.

karena sepi tidak banyak pengunjung, aku bisa berbicara dengan mereka. "tumben, sudah pada makan lagi jam segini belum tutup" tanyaku memulai pembicaraan. "ini baru makan bang, tadi seharian puasa" jawab seorang pegawai perempuan sambil menyeka mulutnya. ada nasi yang tertinggal di dekat bibir bawahnya. "iyah harus buru-buru nih, ntar sholatnya giliran habis tutup terus taraweh" kata pegawai laki-laki lain yang wajahnya segar. rupanya dia habis mandi untuk persiapan sholat dan ke masjid.
aku agak tersentak mendengar jawaban-jawaban mereka, dan sambil makan ini menjadi permenunganku...

ternyata mayoritas pegawai lapo itu muslim agamanya! dan meskipun tiap hari mereka menggauli daging-daging babi itu yang pasti haram
absolut, mereka tidak lupa menjalankan kewajiban agama yang sudah dipilih dan diyakini.
alih-alih mencari alasan untuk tidak berpuasa, mereka tetap berusaha menjalankan dengan sebaik mungkin. karena tidak mungkin berbuka
puasa dengan lauk yang mereka jual, maka patunganlah membeli capcay yang halal untuk berbuka puasa. tetap memasak dan menjual
daging babi sebagai salah satu pekerjaan untuk menopang kehidupan, akan tetapi tidak memakannya karena itu haram dalam ajaran
mereka.

menjadi kontradiksi ketika aku teringat dengan wakil-wakil kita para pejabat terhormat dan bapak-bapak di gedung bundar itu. ketika korupsi
menjadi hal yang membudaya dan umum dilakukan di lingkungan mereka, maka tanpa malu dan berusaha bertahan lalu ikut terlibat dalam kesenangan di dalamnya. haram berjamaah! tanpa mencoba untuk menjaga diri. "susah, nanti kalau tidak ikutan dianggap aneh dan jadi tak punya teman" ada kata yang pernah aku dengar diucapkan kenalan di pemerintahan.
sungguh memalukan karena dalam kapasitas mereka, seharusnya lebih tahu mana yang halal dan haram untuk dilakukan dan lebih banyak
pilihan serta kemampuan untuk memilih dibanding para pegawai lapo yang kutemui sore tadi di ambassador.

well, mungkin masalahnya tidak sesederhana itu dan tidak bisa juga membandingkan para pegawai lapo itu dengan bapak-bapak pejabat dan wakil rakyat. masalahnya lebih kompleks mungkin...
kompleks karena duitnya lebih banyak, dan pasti akan susah ditolak. tai kucing.

dan aku teringat ucapan mbak kasir saat aku membayar dan nyeletuk "kirain pada ngga puasa, soalnya kerja di lapo hehehe". dia tersenyum saat menjawab singkat "yang haram kan dagingnya bang, kerjaannya tetep halal. jadi tetep puasa"

mungkin lingkungan kita haram, orang-orang di sekitar kita melakukan hal haram, akan tetapi tetap ada pilihan bagi kita untuk tetap melakukan hal yang halal di lingkungan haram sekalipun..

selamat berpuasa, wassalam...

Thursday, July 14, 2011

pelayanan dan perlindungan terhadap pasangan

ada film ftv diputar di sctv tadi malam, judulnya 'ketika waginah bicara'. pemainnya alex komang dan kinaryoshi.
saya tidak akan banyak bicara tentang filmnya selain alex komang yang kalau bermain sensualitasnya menurut saya sama sperti george cloney tapi yang dihilangkan kenakalannya dan kinaryoshi yang di film itu sensual sekali menurut saya (loh saya sudah mulai mau melantur lagi, lebih baik kembali ke pikiran awal saya menulis ini)..

ada salah satu adegan dalam film itu dimana waginah yang diminta bantuan untuk mengaku sebagai isteri pak drajad dengan tanpa diminta melepaskan sepatu dan kaos kaki pak drajad yang tertidur karena kelelahan dalam perjalanan mereka pulang ke kampung halaman.

saya agak terkesima melihat adegan itu, kemudian langsung terbayang tentang pelayanan perempuan jawa kepada pasangannya. berperan sebagai kasta nomer dua dalam kehidupan sosial, mereka seakan mengemban amanah 3M (masak, macak, manak = memasak, berhias diri, melahirkan) dalam rumah tangga; dan hrus total mengabdi dan melayani suami. bahkan secara sacral, pemahaman swargo nunut nroko katut (surga dan neraka bergantung dari suami) yang dikuatkan dalam ideologi islam jawa lelaki sebagai khafilah atau pemimpin dalam keluarga.

terlintas dalam pikiran saya bagaimana jika saya kelak mempunyai pasanga yang seperti itu yah? melayani dalam kepatuhan absolut. dulu kakak saya pernah bilang, seorang istri itu harus bisa secara ekstrim menjadi pelayan di rumah, figur ibu dalam keluarga, bahkan seperti pelacur di ranjang demi pasangannya...

saya tersenyum, pendapat ini sekarang akan ditentang oleh banyak sekali perempuan moden jaman sekarang. konsep kepatuhan absolut dan pelayanan yang saya gambarkan di atas tidak akan pernah dimengerti oleh para penganut kesetaraan gender, perempuan modern yang cerdas, mengutamakan karir, dan persamaan hak serta kedudukan dengan lelaki atau pasangannya. boro-boro mau membukakan sepatu, memasak, mencuci, dan kerjaan rumah tangga yang lain itu urusan si mbak jadi jangan harap deh :)

tapi kemudian pikiran egois dan sangat patriarkis ini harus saya imbangi dengan mencoba untuk mengerti apa yang juga dibutuhkan oleh para perempuan itu dari pasangannya..

waginah mewakili banyak perempun dari semua strata dan latar belakang budaya menyerukan harapan para perempuan dari pasangannya:
'apakah saya akan dipukul dan dikasari apabila tidak mau diajak berbuat intim?'
'apakah saya akan dipukul dan dimarahi jika melakukan kesalahan?'
ini yang seharusnya menjadi pegangan bagi semua lelaki termasuk saya...

sebagai lelaki, kita mungkin harus tampan, pintar, atau kaya untuk bisa tampil langsung menarik pada kesan pertama; tapi at the end, perempuan siapapun dia mengharapkan pasangan yang mampu melindungi sebagai tempat bersandar. yang mau bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. yang tidak kasar dan mudah memukul ketika pasangannya tidak melakukan yang diinginkan, yang tidak mudah marah dan menyakiti hati mereka.
lelaki perkasa yang lembut dan bisa menopang mereka..

karena saya bukan perempuan, saya hanya bisa mendalami lebih dalam kelelakian saya. apakah saya sudah menjadi seperti itu? siapa tahu ini hanya omong besar yang hanya bisa diucapkan tapi tidak pernah dilakukan..
apakah saya mau dan terus berusaha menjadi lelaki perkasa yang lembut dan bisa menopang pasangan itu??

relasi itu selalu dua arah, selalu memberi dan menerima. dengan hanya terus menuntut tanpa mau mawas diri untuk memberikan diri secara utuh dan penuh itu berarti memeras dan mengeksploitasi pasangan belaka

saya tersenyum simpul di akhir permenungan saya.
mungkin saja, dan sangat mungkin, jika saya dan para lelaki semua bisa melakukan apa yang diinginkan dan menjadi kebutuhan perempun-perempuan itu; bisa menjadi tumpuan dan harapan mereka dalam hidup yang diselimuti oleh apa yang dinamakan kebahagiaan, maka mereka juga akan menjadi pasangan seperti yang kita inginkan. mungkin pelayanan yang utuh dan penuh, dan tidak mustahil juga apa yan saya lihat dalam film kemarin terjadi pada saya - membukakan sepatu saat saya tertidur kelelahan bekerja demi kami..

Friday, November 26, 2010

kesenangan apa yang kita cari sebenarnya

2 minggu yang lalu saya diajak teman saya untuk dugem di bilangan segitiga emas jakarta. ada party ulang tahun salah satu pemilik klab di situ. lu bisa minum apa saja bro, free fall kata teman saya, saya mengiyakan karena memang sudah lama sekali tidak minum liquor dan masuk ke klab lagi.
jam 11 malam pulang dari kantor saya tidak pulang tetapi langsung menuju ke sana, tidak usah mandi atau jaga penampilan cuman mau minum ini pikir saya.
ternyata suasanya meriah sekali. ada beberapa artis dan penyanyi yang datang dan semuanya wangi serta menarik. saya jadi agak culun rasanya tapi ya sudahlah lah wong saya memang pengin datang untuk minum. dan jadilah malam itu saya minum dengan enaknya :)

saya mulai dikenalkan oleh teman-teman saya ke beberapa orang di situ. yang berulang tahun baru berumur tiga puluh tahun; wah kaya sekali baru 30 sudah jadi pemilik klab pikir saya (sekarang saya teringat salah satu dari 50 perempuan berpengaruh di dunia yaitu salah satu VP Google baru berusia 35 tahun, bos saya regional manager south east asia baru berusia 33 tahun), kemudian saya dikenalkan ke beberapa sosialita party jakarta yang lain. nah yang di ujung itu god father guwe bro, salah satu komisaris group besar di indonesia. saya mangguk-mangguk sambil bersalaman (siapa tahu bisa di rekrut jadi staf ahli komisaris atau direktur pikir saya)

teman-temanmu ini kerjanya apa bos? tanya saya, ngga tau gw nggak pernah tanya. ketemu aja kalau party, siangnya ngga ngerti gw jawab teman saya dengan cueknya. saya tetap mengangguk-angguk, entah mengerti atau karena otak saya mulai dipengaruhi alkohol. pandangan mata saya menatap sekeliling, para artis, sosialita itu, kemudian berhenti pada si bapak komisaris;
usianya pasti sudah lebih dari 50 tahun dan dia kelihatan capek sebenarnya, dikelilingi dan diciumi oleh banyak perempuan cantik di sekitarnya si bapak nampak mulai kelelahan. dia mulai duduk, terlihat terkantuk-kantuk dan sempat tertidur di kursinya sambil duduk. saat orang datang untuk bersalaman dan menyapanya, si bapak nampak kaget, berusaha tersenyum, lalu kemudian mengantuk dan tidur lagi (pikir saya kenapa tidak pulang saja toh pak sudah lewat tengah malam juga mbok ya jaga kondisi).

lalu saya mulai sok sibuk menganalisa kenapa si bapak dan orang-orang ini termasuk saya datang, karena kenal, diundang, sebagai teman atau rekanan bisnis mungkin
atau karena mencari kesenangan dengan minum (seperti saya) dan datang ke tempat seperti ini untuk relax, menari, dan melepas kepenatan bergaul dengan teman-teman.
tidak ada yang salah dengan semua alasan itu tentu saja, sekali lagi ini hanya pikiran saya yang menganalisa...


lalu saya menganalisa lagi kenapa tadi setelah makan malam saya bersama saya ikut teman-teman saya datang ke salah satu klab di hotel bintang 5 di bangkok ini untuk minum, atau having fun with girls begitu kata mereka; instead of untuk pulang ke hotel dan beristirahat karena minggu ini begitu sibuk dengan pekerjaan.
mungkin alasan yang sama dengan orang-orang yang datang ke party teman saya itu dua minggu yang lalu.

tapi ternyata rasanya kini tidak lagi sama kesenangannya. saya tidak lagi terlalu menikmati minum dan suasananya. atau mungkin saya yang sudah menua atau tidak gaul lagi, saya tidak tahu
saya lebih menikmati kesenangan yang lain, dengan membaca dan membalas email kantor kemudian menulis blog sambil makan phad thai gong dengan jus semangka ini. walaupun hotel ini besar dan dingin sekali untuk seorang diri
apakah ini kesenangan yang lebih sehat atau kesenangan lain sesaat saya juga tidak tahu...

apa yang sebenarnya kita cari...

Saturday, October 30, 2010

citizen of the world

menarik bagi saya ketika bertemu dengan orang-orang ketika mereka berada di negeri asing yang bukan tanah air dan negaranya. at least ini yang saya rasakan dan saya temui sejauh ini...

ketika kita di negara asal kita, atau di tempat yang sudah kita kenal dan kuasai, terkadang kita menjadi sangat percaya diri dan kalau tidak hati-hati jatuh ke arogansi termasuk dalam berelasi dengan orang lain ataupun para pendatang di tempat kita.

akan tetapi berbeda rasanya ketika kita berada di tempat asing atau belum pernah kita singgahi, bagaimana kita berusaha menjaga diri, sikap dan tindakan kita. bersikap ramah terhadap orang lain, siapa saja yang kita temui dalam perjalanan kita. dalam setiap perjumpaan selalu ada senyuman, sopan santun, dan tutur kata halus di sana.

beberapa dari kita mungkin bisa mengatakan bahwa ini adalah salah satu cara untuk survive, karena kita tidak tahu pasti budaya di tempat yang baru sehingga kita harus selalu berhati-hati: dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung kurang lebih seperti itu peribahasanya..
well itu mungkin benar, kemudian menjadi menarik bagi saya untuk memikirkan jika demikian bagaimana jika tidak perlu ada yang namanya negara dengan batas-batas dan pengkotak-kotakannya sehingga semua orang tidak merasa terbedakan dengan yang lain, tidak merasa lebih baik dibandingkan dengan orang lain. mungkin tidak harus strict menganut konsep seorang internationalist, akan tetapi bagaimana kita bisa mengatur sikap dan tindakan kita untuk selalu santun, ramah, dan perduli pada orang lain. mengutip salah satu signature teman saya: citizen of the world, menjadi seorang warga dunia dimana semua orang dianggap sama dan tidak ada pembedaan berdasarkan klasifikasi apapun.

mengutip salah satu tag line giordano: the world without stranger, sehingga tidak ada seorangpun yang akan merasa teralienasi dalam kehidupan di dunia ini. bayangkan keindahan yang terjadi saat semua orang saling tersenyum satu sama lain, santun dan ramah, tidak ada tipuan atau niat untuk memanfaatkan di sana..maka dunia ini akan benar menjadi tempat yang lebih layak untuk ditinggali...

berkah dalem,
wisnu

penghargaan terhadap kebajikan masa lalu

ada sesuatu yang unik di sini, di saigon, yang sekarang lebih dikenal dengan nama ho chi minh city: tour apapun yang kita ikuti, kemanapun tujuannya, mereka akan membawa kita terlebih dahulu ke sebuah tempat pembuatan handycraft...

apa menariknya? apa istimewanya? pembuat handycraft ini kebanyakan adalah para veteran atau keluarga dari korban perang vietnam tahun 1960-an yang lalu, begitu kata tour guide saya yang ternyata juga seorang veteran perang vietnam.

pemerintah vietnam dengan sistem komunisme-nya ternyata memiliki kepedulian tinggi terhadap warga negaranya yang dulu mereka atau keluarganya berperang untuk negara. Pemerintah mendirikan tempat semacam balai latihan karya untuk memfasilitasi dan mengajari mereka, di saat yang bersamaan pemerintah mengatur agar setiap wisatawan yang datang ke Vietnam dibawa terlebih dahulu ke tempat itu untuk melihat apa yang mereka lakukan, untuk membeli hasil karya mereka dan membawa pulang ke negara masing-masing. dengan begitu tidak hanya secara ekonomi para purnawirawan dan keluarganya itu terbantu akan tetapi juga secara historis dan sosial mereka tidak pernah dilupakan..

bagi saya ini menarik, bagi saya ini menyentuh hati, melihat apa yang dilakukan oleh pemerintah dan negara terhadap warganya yang telah berjasa dan berkorban untuk negaranya. paling tidak saya membandingkan dengan apa yang terjadi di negara saya sendiri dengan begitu banyak para pahlawan dan keluarganya yang seolah dilupakan baik secara sekonomis, sejarah maupun sosial dan harus berusaha sekuat tenaga melakukan apapun untuk menghidupi diri hari demi hari. bagi mereka mungkin perang tak pernah usai, sesudah menghadapi penjajah, kemudian menghadapi rasa lapar dan tekanan ekonomi yang semakin keras hari demi hari..

itu mengilhami saya, bahwa kebajikan yang dilakukan di masa lampau, oleh siapapun, tidak seharusnya dilupakan dalam konteks global, regional, nasional, maupun personal. bahwa siapapun kita, apapun yang kita lakukan, mempunyai kewajiban paling tidak secara moral dan rasional semampu kita untuk meneruskan kebajikan-kebajikan yang telah dilakukan di masa lampau, dan tidak menghilangkan begitu saja orang-orang di dalamnya..

tuhan beserta kita, happy halloween night..
wisnu

Friday, May 14, 2010

tentang belas kasihan dan pemberian

pemikiran ini muncul ketika sepanjang hari ini saya banyak berhenti di lampu merah dan hampir di semua lampu merah selalu ada yang mendekati saya untuk meminta uang.
mulai dari anak kecil yang merengek minta uang dengan alasan buat makan, ibu-ibu yang datang dengan wajah antara masam dan memelas, kemudian ibu-ibu lain yang membawa bayi, pengamen laki-laki, sampai waria yang datang menari dan meminta tanpa henti

tidak semua orang yang datang meminta itu saya beri, walaupun saat itu saya ada banyak uang kecil, saya memberi kepada orang yang dalam pandangan saya kasihan dan layak saya beri. kadang saya memberi bergantung pada mood saya. kalau sedang baik hati, siapapun yang datang saya beri. kalau sedang uringan atau mood kacau, mau memelas seperti apapun go to hell buddy!

malam ini saya memikirkan tindakan saya terkait dengan memberikan atau tidak uang recehan tersebut. mungkin saya yang terlalu pelit karena faktanya uang recehan itu tidak berarti banyakbagi saya saat ini dan seharusnya saya selalu memberi kepada semua yang meminta tanpa kecuali. tapi ada pemikiran lain yang mengatakan bahwa saya harus memberi kepada yang tepat, jangan sampai itu menjadikan kebiasaan atau uangnya dikumpulkan lalu dipakai membeli barang-barang yang malah tidak bermanfaat.
dari sini saja perdebatannya bisa panjang sampai ke level idealisme atau bahkan konsep yang lain...

yang saya pikirkan saat ini adalah apakah keputusan untuk berbelas kasih atau memberi itu dipengaruhi oleh logika? artinya saya akan memberi kepada orang yang menurut saya pantas untuk diberi, berapapun jumlahnya. ketika logika saya mengatakan orang ini layak untuk ditolong dan hati saya mendukungnya maka terjadilah belas kasihan itu. jika tidak, meskipun hanya recehan, mungkin tidak akan saya berikan..
hari ini saya baru saja memberikan uang satu juta kepada seseorang yang tidak saya kenal karena dia mengaku ibunya sakit jantung dan butuh uang untuk menebus obat di rumah sakit (ini saya tidak tahu apakah saya kasihan atau bodoh karena uang di rekening saya tinggal dua juta saat itu, tapi terserahlah, niat saya baik)

apakah ada faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi belas kasihan itu? sehingga belas kasihan itu tidak selalu bisa muncul? dan ketika kita muncul apakah kemudian ada syarat-syarat yang mengikuti? seperti misalnya saya harus tahu pemanfaatan uang ini untuk apa, apakah benar bantuan saya akan digunakan dengan sebagaimana mestinya?
ataukah belas kasihan seharusnya muncul tanpa syarat dan melampui semua logika yang ada?

masing-masing dari kita akan mempunyai jawaban yang berbeda terhadap pertanyaan di atas, tergantung dari sikap dan pemikiran kita, dari bagaimana kita memandang dan memaknai belas kasih itu sendiri.
dan tulisan ini juga saya buat bukan untuk memperdebatkan atau mencari pendapat dan sikap mana yang paling benar untuk kemudian seharusnya diaplikasikan...

apapun pendapat dan pandangan anda, pada akhirnya saya hanya bisa menutup tulisan ini dengan sebuah ajakan: teruslah berbelas kasih, teruslah memberi, jangan berhenti..
(dan ajakan ini berlaku untuk saya juga)

Wednesday, May 5, 2010

Belajar Psikologi Bersama David J Lieberman, Ph.D

Ada beberapa rahasia yang diceritakan oleh David Lieberman untuk membuat siapapun menyukai kita...setiap saat..:

1. Beradalah di sekitar orang sesering mungkin, karena keakraban menumbuhkan rasa sayang, bukan rasa benci!

2. Jika hendak berbicara dengan seseorang, lakukanlah ketika suasana hatinya sedang baik. Bicarakanlah tentang minat dan pengalaman yang sama-sama pernah dialami dan usahakan lebih banyak mendengarkan jangan terlalu banyak berbicara..

3. Jika kita menghormati atau menyukai sesuatu yang ada pada diri seseorang, biarkan mereka mengetahuinya..

4. Buatlah orang melakukan sedikit kebaikan pada kita

5. Lakukanlah komunikasi dengan meniru gerak tubuh dan menyesuaikan diri dengan tempo dan nada bicaranya

6. Tunjukkan kepercayaan diri kita dengan mampu tertawa pada diri kita sendiri dan tidak terlalu menjaga penampilan..

7. Buatlah orang merasa nyaman, jadilah orang yang penuh pengertian, baik hati, tulus, dan hangat

8. Miliki sikap mental positif; orang tertarik pada orang yang antusias, bergairah, periang, dan aktif

Monday, May 3, 2010

keluh kesah tentang penampilan (appearance)

seberapa penting sebenarnya faktor penampilan ini memepengaruhi dalam kehidupan sehari-hari kita?

benar bahwa ada pendapat kesan pertama menentukan semua hal di belakangnya, tapi apakah keseluruhan kesan pertama itu sangat didominasi oleh penampilan?

saat kita berteman atau bergaul dengan orang lain entah sama atau berbeda jenis apakah kita memperhatikan penampilan mereka? apakah penampilan mereka mempengaruhi kenyamanan kita?

ketika kita bekerja di kantor: dengan atasan, bawahan, atau rekan kerja kita; apakah penampilan mereka mempengaruhi respect kerja dan penilaian kita? apakah ketika mereka berpenampilan seadanya, cenderung tidak memperhatikan penampilan, itu akan mengganggu kita? apakah penampilan merupakan pertimbangan kita saat merekrut karyawan?

dalam kehidupan pribadi kita apakah kita memilih pasangan berdasar penampilan? apakah penampilan pasangan mempengaruhi perasaan cinta kita? apakah mempengaruhi gairah kita untuk bercinta? apakah kita malu jika pasangan kita tidak berpenampilan menarik seperti yang kita mau?

jawaban dari pertanyaan di atas bisa jadi akan sangat beragam, tergantung siapa diri kita, apa bidang pekerjaan kita, ataupun bagaimana pandangan kita tentang sebuah penampilan itu

saya termasuk orang yang sangat tidak peka (kalau tidak mau dikatakan tidak peduli) dengan permasalahan penampilan ini, tapi belakangan lingkungan di sekitar saya memberikan masukan bahwa ternyata saya sangat kurang untuk masalah satu ini dan bahwa ini berimbas atau mengganggu mereka..

pertama saya masih menanggapi dengan lucu, tapi kemudian saya mulai berpikir, apakah sedemikian pentingnya penampilan itu dalam konteks kehidupan kita. mungkin pertanyaannya bukan penting atau tidak penting tapi seberapa dominankah itu mengambil bagian?

sebagian dari saya percaya bahwa penampilan itu mempunyai peranan, tapi mayoritas di dalam pemikiran saya masih berpendapat bahwa penampilan ini bukan key factor untuk menentukan keberhasilan pergaulan, karir, pendidikan, relasi, atau apapun itu dalam kehidupan

kemudian dengan sedikit malu saya tersenyum, kenapa saya begitu mempermasalahkan hal ini yah? apa karena memang sebetulnya penampilan saya tidak menarik sehingga saya harus mati-matian menyangkal hal ini. karena kita akan cenderung menyangkal dan menutupi kelemahan yang ada pada kita..

saya masih tidak tahu... dan saya masih kecewa ketika penampilan mempengaruhi faktor lain yang menurut saya lebih dominan..dalam hal apapun...

tetapi tentu saja saya tidak akan bisa membuat semua kepala lain menganggukkan kepala dengan penjelasan dan reasoning saya ini...

Tuesday, April 27, 2010

sebuah pelukan, sebentuk dukungan

ada yang menarik dari acara the amazing race di axn malam ini...

empat besar the amazing race malam ini adalah pasangan model, dua orang koboi, kakak beradik laki-laki, dan dua orang detektif.

tantangan awal mereka ada di shanghai china ketika mereka diharuskan membuat mie china dengan berat tertentu.

pasangan model itu datang pertama kali, diikuti kakak beradik, dua koboi, lalu dua detektif yang terakhir.
akan tetapi pasangan koboi berhasil menyelesaikan mie terlebih dahulu, kemudian diikuti pasangan model, dan yang ketiga adalah pasangan detektif.
satu orang dari dua bersaudara yang melakukan tantangan itu terlihat sangat kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaannya. ia mengeluh tangannya membeku dan mentalnya menjadi jatuh karena menjadi pasangan terakhir yang berarti potensi untuk tersingkir.

yang menarik adalah apa yang dilakukan oleh saudaranya. alih-alih seperti pasangan yang lain yang kadang memaki atau menyuruh untuk lebih cepat, mengetahui bahwa saudaranya berada dalam tekanan berat dan merasa tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan, ia menghampiri saudaranya, lalu memeluknya, mengucapkan kata-kata penghiburan dan menyemangatinya, membuat saudaranya mampu untuk menyelesaikan hal yang tadi terasa mustahil. dan cara ini berhasil...

ini bisa dimaknai dengan biasa atau sebaliknya, bagi saya di tengah ketakutan akan tersingkir yang dialami, di tengah tekanan yang dihadapi. bukannya menyalahkan saudaranya atas kelemahan atau kekurangan yang dilakukan, menyemangati, memberikan dukungan untuk memampukan kembali itu merupakan hal yang luar biasa.

sebuah pelukan, ciuman, usapan tangan, sentuhan, kata-kata, apapun yang anda gunakan untuk menyemangati atau menguatkan orang yang sedang membutuhkan, akan sangat besar artinya. hanya saja kadang kita terlalu asyik memperdulikan kepentingan kita, memperhatikan diri kita sendiri sehingga lupa dengan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan atau dukungan

semoga potongan ilustrasi sederhana ini memampukan kita, anda dan saya, untuk menjadi lebih peka dan lebih bisa bersikap positif serta suportif pada saat dibutuhkan...

Friday, February 12, 2010

life? you just need to live it

tadi sore saya pergi ke warung tegal di dekat tempat saya tinggal untuk mengisi perut setelah seharian kosong tidak terisi apapun selain air putih.

suasana warteg itu tidak terlalu ramai, ada empat orang yang sedang menghabiskan makanannya. "makan apa mas?" tanya mbak si penjual dengan ramah, kelihatannya dia habis mandi karena rambut panjangnya masih basah dan wajahnya segar berseri.
saya memilih menu makanan saya sore itu, "hmm harus yang bergizi tapi tidak menambah lemak di tubuh" pikiran saya ketika menunjuk satu demi satu sayur dan lauk yang saya inginkan. kemudian saya memesan teh tawar hangat untuk minumnya.

tidak berapa lama 4 orang yang terlebih dahulu makan sebelum saya satu persatu menyelesaikan makannya, membayar kemudian meninggalkan warung itu, tinggal mbak penjual dengan saya.

mungkin karena merasa pembelinya tinggak saya dan belum banyak yang datang lagi (saya datang lebih awal untuk makan malam karena baru jam setengah enam sore, langit masih terang), mbak itu kemudian menghidupkan radio. tidak berapa lama kemudian mengalun lagu-lagu dangdut dengan suara perempuan yang mendayu-mendayu. dikeraskannya suara radio itu sehingga bisa terdengar sampai ke luar warung. beberapa orang yang lewat menoleh karena suara lagu dangdut itu, tapi si mbak penjual tetap saja sambil tersenyum mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama lagu. saya jadi geli sendiri melihatnya begitu menikmati lagu-lagu dangdut itu.

saya perhatikan terus penjual makanan itu kemudian saya ingat lagi, dia memang ramah, tidak hanya kepada saya tetapi juga kepada pembeli yang lain. mungkin memang itu sebuah keharusan sebagai penjual akan tetapi juga mungkin karena memang sifatnya demikian. saya tidak tahu, dan saya melihat keramahan dan cara menikmati lagu itu sebagai cara si mbak memilih menjalani kehidupan ini.

selesai makan sambil membayar sambil membayar saya mencoba membuka percakapan, "mbak, keras banget muter lagu dangdutnya. suka yah?" tanya saya. sambil tersenyum dia berkata "iyah mas, lagunya enak didengarkan sore-sore gini". "emang ngga malu didengarkan orang di luar, mana suaranya kenceng banget" celetuk saya. "biarin aja, ngga ganggu orang ini" jawab dia masih sambil tersenyum dan memberikan kembalian kepada saya.

dalam perjalanan pulang, saya memikirkan lagi percakapan sederhana di warteg tadi. membandingkan hidup mbak penjual makanan tadi dengan hidup saya, dan dengan kehidupan orang-orang pada umumnya. saya berfikir mbak itu tidak mungkin tidak punya masalah, entah memikirkan apakah makanannya akan habis malam ini, apa yang akan dia beli dan dimasak besok pagi, sampai kapan warungnya akan bertahan, apa yang akan terjadi dengan hidupnya, dan mungkin masih banyak lagi. tidak berbeda dengan kita, anda, saya, dan orang-orang lain yang memiliki banyak pikiran dan masalah dalam hidup ini.

yang menarik adalah mbak itu memilih untuk tetap menjalani hidupnya dengan gembira, mandi di sore hari sebelum melayani pembeli sehingga tetap segar dan menarik orang untuk tidak malas makan di warungnya karena penjualnya kumuh misalnya. ramah dan murah senyum, kemudian di saat senggang melakukan hal-hal yang membahagiakan dan bisa dia nikmati. "tidak ganggu orang ini" prinsipnya ketika melakukan hal yang dia suka.

mungkin bukan sebuah pilihan yang mudah untuk selalu dilakukan setiap hari, mungkin tidak selalu dia akan ramah atau tersenyum terus, akan tetapi paling tidak dalam pandangan saya dia mencoba menjalani hidupnya dengan gembira dan dalam sikap positif.

ini mungkin sebuah teladan bagi kita, anda dan saya, tentang bagaimana sekali lagi kita melihat kehidupan ini. masalah? itu pasti tidak akan pernah berhenti. mungkin karena itulah kita dikaruniai akal budi.

jika demikian mungkin ada baiknya kita mengikuti mbak penjual tadi, live the life the best that we can. "tidak ganggu orang ini" tidak berarti kita menjadi tidak perduli akan tetapi lebih bahwa kita lakukan yang kita yakini dan kita bahagia dengan apa yang kita lakukan.

selamat menikmati hidup ini :)

Wednesday, February 10, 2010

The Man Who Selling Jagung Rebus

it was 11pm at sudirman street when i saw this man, the street seller.

he was standing beside the cart, old and tired, while there are still a lot of jagung rebus not yet sold. his eyes looking far as if thinking of something.


suddenly i felt that i had to buy it, so i stopped my car and park it in the alley next to the street. I came and asked him: good evening sir, how much you sell the jagung rebus?

he turned the face and looked very happy seeing someone want to buy his jagung rebus: it's three thousands rupiahs only..he replied with the hope that I will buy it.

i nodded my face and said: ok then i will buy five. and then i gave my money to him.

the smile became wider when receiving my money: thank you, thank you very much sir. and he kept smiling when i left him.


i don't want to show that i am a good person when i wrote this story. this money is not much for us, in fact it needs to be multiplied by six to have a shoot of tequila or a glass of chardonnay. it needs to be multiplied by ten to have mojito or lychee martini. in other word, it's little money for us, everyone can do the same.


the thing that i want to share is my feeling when i saw his smile. the feeling of sharing to others, it made me feel good and happy also. actually i am the one being blessed during the event.


my friends, this is just refreshment as i am sure all of you know it already.

small things for us can be big things for others who really need it. so be sensitive with others around you and be proactive to share what you have to others. you will never know, how your compassion can turn out someone's life into a better one.

at least, it makes this world more comfortable to live in...

Saturday, January 30, 2010

tentang masa depan

mulai dari minggu kemarin sampai minggu ini saya menjalani serangkaian interview di satu perusahaan. cukup melelahkan dan menyita energi karena setiap interview baik secara face to face maupun teleconference dilakukan selama lebih kurang tiga jam dan dalam bahasa inggris. akan tetapi saya tetap menjalaninya karena ini menjanjikan masa depan yang lebih baik untuk saya (at least seperti itulah yang saya pikirkan).

jumat malam kemarin ketika reuni dengan teman-teman sma saya, ada kakak kelas yang bercerita tentang pengalamannya bekerja di salah satu konsultan internasional yang hanya merekrut orang-orang terbaik, demikian secara tidak langsung dia menjelaskan. jam kerjanya pun tidak terbatas dan fokus yang diberikan setiap waktu. akan tetapi dia menjalaninya karena menurut dia ini menjanjikan masa depan yang lebih baik untuknya

siang tadi di kampus ada teman baru yang bercerita bagaimana dia berusaha memulai usaha dengan segala cara. jatuh bangun, di luar pekerjaan dan pendidikannya karena dia tidak mau masa depannya hanya menjadi seorang karyawan biasa.

semua hal di atas mempunyai benang merah lebih pada masa depan kita dalam hal pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak. Bagaimana kita mengusahakn itu dengan sebaik mungkin karena kita tidak mau masa depan kita berakhir tidak seperti yang kita cita-citakan. kita mengejar mimpi dan harapan kita sekuat tenaga.

kemudian saya teringat tentang 5 balls theory, 30 second Speech by Bryan Dyson (CEO of Coca Cola)yang diceritakan kepada saya pada waktu itu:
"Imagine life as a game in which you are juggling some five balls in the air.
You name them - Work, Family, Health, Friends and Spirit and you're keeping all of these in the Air.
You will soon understand that work is a rubber ball.
If you drop it, it will bounce back.....
But the other four Balls - Family, Health, Friends and Spirit - are made of glass.
If you drop one of these; they will be irrevocably scuffed, marked, nicked, damaged or even shattered.
They will never be the same.
You must understand that and strive for it.

Sekilas ada sesuatu yang bertentangan dari 5 balls theory itu dengan kejadian2 yang saya ceritakan di atas, tetapi ternyata tidak...
at least dari hasil pemikiran dan permenungan saya itu bisa berjalan berdampingan (saya tidak tahu apakah ini karena saya termasuk dalam penganut aliran jalan tengah yang berusaha untuk meraih semuanya)

kita mengusahakan masa depan kita, dalam segala hal yang kita lakukan sekarang. tidak hanya bagi kita sendiri akan tetapi juga bagi orang-orang tercinta, yang kita kasihi, yang ingin kita bahagiakan.
tekad dan keyakinan itu yang membuat kita bersemangat untuk melakukan apa yang sedang kita tekuni saat ini, dan kesadaran itu membuat kita juga menjaga kesehatan kita karena jika kita tidak sehat maka kita tidak akan mampu meraih apa yang menjadi impian kita. dan teman-teman adalah orang yang berjalan bersama kita, berinteraksi dengan kita dimanapun itu baik di sekolah, di kantor, maupun di lingkungan yang lain. yang mempunyai cita-cita, harapan, dan impian mereka sendiri, yang berjuang bersama kita, berinteraksi dan membantu kita baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mencapai tujuan masing-masing.

jadi masalahnya adalah bagaimana kita menempatkan semuanya secara proper pada tempat masing-masing. saya akan mengatakan bahwa semua hal dalam five balls theory itu penting dan saling berkaitan. kegagalan yang satu akan menyebabkan ketidak sempurnaan yang lain. dan yang harus kita latih adalah bagaimana menempatkan semua itu pada porsi masing-masing dengan benar...

lebih jauh lagi ada satu hal yang saya ingat dari buku how to win the people yang belum selesai saya baca, kita menjadi penting dan berhasil bukan pada saat kita berhasil saja, akan tetapi lebih jauh lagi, bagaimana kita bisa membuat orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang berelasi dengan kita berhasil mencapai impian masa depannya. itulah keberhasilan yang lebih besar...

jadi akhirnya, apapun masa depan yang kita impikan, perjuangkanlah itu sebaik mungkin! dengan tanpa mengorbankan hal-hal terbaik yang sudah kita miliki sekarang, yang juga akan menjadi bagian penting dalam keberhasilan masa depan kita nanti.

dan jangan lupa, perjuangan tak pernah dilakukan sendirian, kita butuh orang lain, dan orang lain membutuhkan kita untuk meraih masa depan bersama.

at the end, may god bless us and everyone striving for the best future, to make the dream come true...

Thursday, January 14, 2010

melakukan sesuatu bersama

tadi malam aku menonton film did you hear about the morgans
sebuah film drama yang tidak terlalu kuat menurutku dari jennifer aniston dan hugh grant dengan ending yang biasa saja.
(sebelum terlalu jauh melenceng menjadi sebuah resensi film) tapi ada satu hal yang menarik perhatianku dari cerita di film ini...

itu adalah tentang melakukan suatu hal bersama..

kesimpulanku adalah ini berlaku untuk kita semua: siapapun kita, dimanapun kita berada, dengan siapa kita melakukannya apakah itu dengan partner dalam pekerjaan, pasangan, maupun teman-teman kita
ketika intensitas kebersamaan meningkat, dan frekuensi melakukan banyak hal secara bersama menjadi semakin sering, maka itu akan meningkatkan kedekatan hati dan emosional kita.

tentu saja secara matematis ini belum menjadi sebuah aksioma, mungkin adalah dalil yang menuntut pengujian lebih lanjut. Akan tetapi itu yang aku alami, aku lihat, dan aku ingat dari melihat cerita tadi malam.
tentu saja apakah ini hanya bisa terjadi pada kondisi ceteris paribus atau tidak, well aku tidak mau menganalisa lebih jauh, karena dinamika yang terjadi pada setiap orang mungkin berlainan dan akan merujuk pada hasil akhir yang bisa berbeda satu dengan yang lain. Jadi keismpulan ini bukan untuk diperdebatkan :)

maka ketika aku membayangkan lebih lanjut, benarlah apa yang dikatakan ibu teresa waktu beliau menyatakan 'kemiskinan terbesar bukanlah terletak pada materi atau kekayaan akan tetapi ketika manusia merasa sendirian dan tidak dicintai'.
saat kita merasakan hanya sendirian menghadapai semuanya, tidak mempunyai siapapun untuk diajak melakukan sesuatu bersama, maka itulah kemiskinan yang sesungguhnya.
tidak heran banyak orang menggunakan apa yang mereka miliki: kepandaian, kekayaan, keindahan fisik, dll untuk bisa diterima dimana dia berada, mendapatkan teman sebanyak mungkin, untuk tidak sendirian dan terasingkan...

indahnya dunia, menariknya modernisasi, mungkin sesaat bisa membuat kita melupakan orang lain, akan tetapi sebagai makhluk sosial manusia tetap tidak akan bisa terlepas dari kebutuhannya akan orang lain. dan kebersamaan yang tidak semu, kebersamaan yang tulus, saling menerima apa adanya, saling menghormati dan menghargai, mengusahakan sesuatu secara bersama, itu yang akan terus membuat seseorang bertumbuh menjadi lebih baik, dan sebuah relasi apapun bentuknya tetap terjaga...

Wednesday, January 13, 2010

tentang sapaan

di kantorku yang baru, ada sebuah kebiasaan yang berbeda - at least belum pernah aku jumpai di kantor-kantorku sebelumnya.

hal yang berbeda itu adalah tentang sapaan:
setiap pagi, setiap orang yang datang ke kantor akan menyalami teman-teman yang sudah datang terlebih dahulu sambil mengucapkan selamat pagi, apa kabar, dan sebagainya.
Setiap sore, setiap orang yang akan pulang juga akan menyalami teman-teman yang masih tinggal di kantor sambil berpamitan, sampai ketemu besok, see you tomorrow, dll.

aku tidak tahu siapa yang mempopulerkan atau menerapkan ini untuk pertama kalinya, dan menurutku tidak penting juga untuk ditanyakan kepada teman-teman lain yang lebih lama di kantor ini :)

dan menurutku juga bukan karena jumlah karyawan di kantor ini yang tidak begitu banyak (tidak sampai 100 orang) yang menyebabkan kebiasaan ini masih bertahan sampai sekarang

lalu aku berpikir, mungkin yang menyebabkan kebiasaan itu masih bertahan sampai saat ini adalah karena kita semua nyaman melakukannya, itu membuat kita lebih dekat satu dengan yang lainnya. mungkin pada awalnya akan canggung untuk melakukannya di hari-hari pertama, atau mungkin ini dilakukan agar tidak menjadi orang aneh jika tidak melakukannya, akan tetapi lebih jauh lagi itu membuat kita merasa lebih akrab dalam lingkungan kerja kantor ini.
kadang mungkin kita menyapa dengan terburu-buru atau tidak dengan sepenuh hati, akan tetapi lebih sering kita melakukannya dengan iklas, dengan senyum yang tulus, dan ketika itu dilakukan, tatapan mata yang bersahabat, senyuman yang tulus, jabat tangan yang erat itu semua akan menghangatkan hati - baik untuk yang memberikan ataupun yang menerima.

sebuah sapaan, perhatian, sekecil apapun, jika itu diberikan dengan sepenuh hati, aku yakin akan mendamaikan dan membahagiakan orang yang memberi ataupun menerima.

masalah besar kita di dunia yang semakin maju dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta gelombang besar modernisasi dan materialisme ini adalah hilangnya perhatian dan keperdulian kita untuk peka dan menyapa orang-orang di sekitar kita, yang mungkin membutuhkannya.
orang menjadi teralienasi dari lingkungan sekitarnya, asyik dengan berbagai peralatan modern atau hal-hal yang bisa mengalihkannya dari dunia sekitarnya dan hilang pulalah kepekaan kita. individualisme yang akhirnya akan meraja. well aku boleh dibilang skeptis atau berlebihan dengan statement di atas, akan tetapi jika kita tidak dengan sadar menumbuhkan dan memelihara perhatian dan kepekaan kita terhadap orang lain di sekitar kita, dunia ini tidak akan pernah menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

dan sebuah sapaan, apapun bentuknya, sebuah perhatian, sekecil apapun itu, akan mampu membuat dunia ini menjadi lebih indah untuk semua orang.

kalau demikian:
selamat menyapa, selamat memperhatikan orang lain

Thursday, November 12, 2009

Homeless People (In Jogjakarta) How To End The Reality Of Poverty

A house is something visible. It is a place in which to be. It is where children study, play, and grow. It is where friends and family come to visit. “There is nobody who has peace without a house”. A house is incredibly important to a family. A house is to a family like what soil is to a plant. It is place to be rooted, a foundation on which children can grow, develop, and become all that they want to.
But millions of people all over the world do not have a decent house in which to live. Even in developed counties like the United States, Canada, and the United Kingdom, or New Zealand there are thousands of families who have no decent place to live. In developing countries, like Indonesia, the number of families who have no decent place to live are much greater.
Homeless people seems to be the endless story, because the reality have been existing for very long time. But it is our duty as human being to help them, solving their problems, and trying to make their life better.
Before thinking about how to solve the problems, first of all we have to know exactly about homeless people and their problems in order to make the best solution.
According to the Stewart B. McKinney Act, 42 U.S.C.  11301, et seq. (1994), a person is considered homeless who “lacks a fixed, regular, and adequate night-time residence and; …has a primary night time residency that is (A) a supervised publicly or privately operated shelter designed to provide temporary living accommodations…(B) an institution that provides a temporary residence for individuals intended to be institutionalized, or (C) a public or private place not designed for, or ordinarily used as, a regular sleeping accommodation for human beings”. In this essay I will compare the reality of homeless people in Jogjakarta as a focus of this project with homeless people in other culture (I choose U.S with American culture), and I will try to make the best and real solution based on both culture to help homeless people in Jogjakarta.

1. The Characteristic of Homeless People
I will explain the characteristic of homeless people in American Culture first. Based on the survey from U.S. Department of Agriculture, Rural Economic and Community Development who work together with National Coalition For the Homeless on February 1999, The majority of homeless are male; the largest proportion are single men. Illegal immigrants are swelling the ranks of the homeless. One child in five lives below the poverty line, making children the poorest age group in the U.S, which accounts for the growing percentage of children who are homeless. Many homeless people have completed high school; some have attended college and even graduate school, but they are among working poor. A person who earn minimum wage, therefore he can’t earn enough to pay inner-city rent. The homeless are found not only in cities, but also in small town, rural areas, and affluent suburbs. They usually live in the street or in the shelter provided by religious institutions, NGO, or the government. Millions are among the hidden homeless—people who are one crisis away from loosing their homes. They may be doubled or tripled up in housing or 48 hours from eviction or about to leave a hospital with nowhere to go. Rather different with homeless people in U.S, In Jogjakarta the major of homeless are family with or no children. We can see them living in the street, sleeping in public places, some of them make a shelter under the river’s bridge, and the others living in the shelter provided by the government. Usually they come from the rural area with lower education. Most of the homeless people are unemployment or person who has a job with lower income. Their job generally are pedicab driver, garbage collector, street singer and sometimes a blue collar worker.

2. The Causes Of Homeless People
In the U.S, the main factors which largely responsible for the rise in homelessness over the past 15-20 years according to the survey published by National Coalition for The Homeless on June, 1999 are a growing shortage of affordable rental housing and a simultaneous increase in poverty. Homelessness and poverty are inextricably linked. Poor people are frequently unable to pay for housing, food, child care, health care, and education. Difficult choices must be made when limited resources cover only some of these necessities. Often it is housing, which absorbs a high proportion of income, that must be dropped. Being poor means being illness, an accident, or a paycheck away from living on the streets. Two factors help account for increasing poverty : eroding employment opportunities for large segments of the workforce, and the declining value and availability of public assistance. Moreover, a lack of affordable housing and the limited scale of housing assistance programs have contributed to the current housing crisis and to homelessness.
Particularly within the context of the poverty and the lack of affordable housing, certain additional factors may push people into homelessness. Other major factor which can contribute to homelessness are Lack of Affordable Health Care, for families and individuals struggling to pay the rent, a serious illness or disability can start a downward spiral into homelessness, beginning with a lost job, depletion of savings to pay for care, and eventual eviction. Domestic Violence, battered women who live in poverty are often forced to choose between abusive relationships and homelessness. Mental Illness, approximately 20-25% of the single adult homeless population in U.S suffer from some form of severe and persistent mental illness (Koegel et al, 1996).
In Indonesia especially in Jogjakarta the causes is almost the same, but the situation become more complicated. As we already know that homeless people in Jogja usually does not have a job with good salary, so it is like an impossible thing for them although just to rent a house for a moment. The other factor is the price to built a house is increasing every year because of economic crises in Indonesia that also influence condition in Jogja, this condition become worse since the developer always make houses for the middle and upper class to give them a lot of profit. The price of the house can not be reached by the lower class. Sometimes it also related to the basic mental from the homeless people. Some people feel hopeless with their condition and just resign for their fate.
In other words, I can conclude that the causes for homeless people in Jogjakarta especially supported by the social construction in the society. People in the lower class can not try to change and improve their life because there is no way for them to exist. They are placed in the difficult condition and sometimes they become victims because of the development done by the government that factually have side effect to make wider range for poor and rich people. Unfortunately the hsomeless people sometimes become an objects for some institutions to get something from another institutions like funding, publicity, and other things by making some issues among them. It makes the condition becomes more terrible.

3. Why Should The Situation Change
I think both Indonesian and American cultures have same perspective about homelessness and poverty. Homeless people are also citizen and they have the same rights with other citizens to live as normal person who have houses for their family. Moreover, they are also human being and I think it is our duty to work together hand in hand helping them to improve their life. Homelessness and poverty are also our problems and we need to get some effective solutions for ending the bad reality.

Now the big question for us is what are the effective solutions to help the homeless (especially in Jogjakarta)?
The National Coalition for Homeless in America explains some solutions to help homeless people in U.S. According to them Permanent solutions to homelessness must address its fundamental cause; the inability to pay for housing. Permanent solutions to homelessness must address both the shortage of affordable housing and the inadequacy of income to meet basic needs. Permanent solutions must also address the additional need for treatment for people suffering from disabilities.
From the explanation it can concluded that the solutions must :
1. Ensure Affordable Housing. Provide subsidies to make existing housing affordable; create additional affordable housing through rehabilitation and where needed, new construction.
2. Ensure Adequate Income. Ensure that working men and women earn enough to meet basic needs, including housing; ensure that those able to work have access to jobs and job training; ensure that those not able to work are provided assistance adequate to meet basic needs, including housing.
3. Ensure Social Services. Ensure access to social services, including health care, child care, mental health care and substance abuse treatment.
4. Prohibit Discrimination. Prohibit laws that discriminate against homeless people, including laws that specifically target them or activities they must engage in because they are homeless.

Permanent solutions must also prevent people from becoming homeless. New policies that address the underlying structural causes of homelessness—by addressing housing, income, and treatment problems—must coincide with specific prevention policies to stem the rising tide of homelessness.
In U.S, increasingly, homelessness affects not only the very poor, but also working and middle class Americans (U.S Bureau of the Census. Poverty in the United States : 1997). Middle class families are increasingly unable to afford to buy, or even rent, their own homes. Middle class workers are now facing rising unemployment, coupled with declining assistance from “safety net” programs.
I believe that permanent solutions to homelessness reintegrate homeless people into society and foster self-empowerment. Policies that produce affordable housing by employing homeless people are among the necessary policies that strengthen the economy while also helping to end homelessness.
From the survey of U.S Bureau of the Census, pools consistently reveal that the majority of the American Public supports aid to the homeless. According to the pools, the majority of the public understands the underlying causes of homelessness, and 81 % would pay additional taxes to fund increase aid.
In the U.S there so many Non Government Organizations that build shelters or houses for the homeless people. Their action is supporting by the government. The U.S Government provide many laws to help the homeless people get their right, besides that the government also provide funding to built some houses and shelters for the homeless people. There is a synergy between government, religious institutions (like church), and the society to work together help each other making solutions for the homeless.
Maybe it is rather different in Indonesia and also in Jogjakarta. The solutions that applied by the Government to solve the problem of homelessness is not built a house for them but the government evacuates the homeless people in Java to other islands like Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, or Irian Jaya. (the program called transmigrasi). The fact that Indonesian’s government seems to give few attentions to the homeless people make the problem become difficult to be solved. Moreover the developers still ignore the homeless. They still build houses for middle and upper class.
Now, we will focus on homeless people in Jogjakarta. First of all we have to recover their mentality from the hopeless person into optimistic person to facing their future, because it is important for them to have good and strong mentality if they want to change and improve their life.
Considering the condition of the homeless, I think they need some skills to survive. Because most of them come from lower education background, they just have the opportunity to work in informal sectors that generally doesn’t need graduation certification. But they need to have enough skills and experiences. Therefore, we have to give them some courses, and we can cooperate with some institutions who capable for giving that.
Fortunately, in jogjakarta there are also some Non Government Organizations who care about the homelessness. One of the NGO like Habitat For Humanity built simple house to live for the homeless people. They can buy the house in credit without interests. Some students and members of the community work together to build the house in order to reduce the price, so people in lower class can reach it. Habitat For Humanity in Jogjakarta is the affiliate of Habitat For Humanity International whose headquarter is in U.S.
One thing that we also have to do is making our economic foundation become stronger, because homeless people very close to the poverty and it is related to the economic condition of the nation.
And the last, we have to renew our social construction to prevent discrimination for the poor and homeless people. In our national constitution, it is said that every citizens has the same right in working and the right to live as normal people. Based on the statement it is our duty to help each other improving our life.
In conclusion, I want to say that evacuating the homeless people into the new area sometimes is not the best conclusion for them. I think the best conclusion for the homeless people must address both the shortage of affordable housing and the inadequacy of income to meet basic needs. It is also important to reintegrate homeless people into society and empower the homeless people to face their future. Since we have the solutions, there must be no discrimination among people.
From the essay, I think that it is clear for us at this time that homelessness is one of the biggest problems in the world, which also related to poverty. We have to do something for the homeless because it is our duty as human being to help each other in order to make the world become a better place to live.
No Shacks anymore!




Sources
 Koegel, Paul et al. “The Causes of Homelessness” in Homelessness in America, 1996, Oryx Press.
 Fuller, Millard et al. “More Than Houses”, 1999, Word Publishing, Nashville, Tennese.
 Fuller, Millard et al. “The Theology of The Hammer”, 1994, Smyth & Helwys Publishing, Inc. Macon, Georgia.
 Smith, Hedrick et al. “Rethinking America”, 1996, Avon Books, New York.
 Fuller, Milard et al. “A Simple, Decent Place To Live”, 1995, Habitat For Humanity, International, Inc.
 Wright, James D. “Evaluation Review”, 1992, Sage Publications, 2455 Teller Rd, California.
 National Coalition for The Homeless. “Homelessness in America : Unabated and Increasing”, 1997, Washington, DC. E-mail : nrc@prainc.com
 U.S. Bureau of the Census. “Poverty in the United States: 1997”, http://www.census.gov/hhes/www/poverty.html
 Institute of Medicine. “Homelessness, Health, and Human Needs”, 1998, National Academy Press, Washington, DC.
 Burt, Martha, and Barbara Cohen. “America’s Homeless: Number, Characteristics, and Programs that serve them”, 1989, The Urban Institute, Washington, DC.

Kuesioner Yayasan Griya Asih

A.
1. Tokoh yang aku kagumi:
__________________________________________________________________________________
2. Bila sudah besar aku ingin bekerja menjadi:
__________________________________________________________________________________

B.
3. Kegiatan yang aku sukai atau sering aku lakukan di waktu luangku (boleh lebih dari satu):
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________

4. Buku-buku yang aku sukai atau sering aku baca (boleh lebih dari satu):
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________

5. Olah raga yang aku sukai atau sering aku lakukan (boleh lebih dari satu):
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________

6. Aku lebih suka (urutkan dari yang paling disukai):
a. Menggambar ___________
b. Menulis ___________
c. Membaca ___________
d. Berhitung ___________
e. Bernyanyi ___________
f. OlahRaga ___________
g. Komputer ___________
h. Lainnya (sebutkan) ___________

7. Aku ingin belajar lebih banyak lagi tentang (boleh lebih dari satu):
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________

C.
8. Kegiatan di Griya Asih yang paling aku sukai
__________________________________________________________________________________

9. Kegiatan yang aku ingin diadakan di Griya Asih
__________________________________________________________________________________