Showing posts with label Personal. Show all posts
Showing posts with label Personal. Show all posts

Sunday, June 14, 2026

 Mimpi yang dicicil

Aku menemukan gitar itu di sudut gudang, tertimbun kardus-kardus berisi dokumen lama dan mainan anak yang sudah tak terpakai.

Serpihan debu beterbangan ketika tanganku menyentuh sarungnya yang lusuh. Lima belas tahun. Lima belas tahun aku menyimpannya di sana, di kegelapan yang sama dengan sudut hati yang sengaja kututup rapat-rapat.

Senar-senarnya sudah kendur. Persis seperti hatiku.

"Mama sedih ya?"

Suara Kirana membuatku tersentak. Anak semata wayangku itu berdiri di ambang pintu gudang, tubuh mungilnya membentuk siluet di tengah cahaya sore yang menerobos masuk. Matanya yang jernih—mata yang sama dengan mata ayahnya yang sudah tiada—memandangku dengan tatapan yang terlalu paham untuk seorang anak sepuluh tahun.

"Enggak, sayang. Mama cuma..."

"Bohong," potongnya lembut. "Mama selalu bilang, kalau orang berbohong, matanya nggak mau ketemu sama mata orang yang diajak bicara."

Aku tertawa kecil. Pahit. Kenapa anak-anak selalu tahu cara menangkap kepalsuan kita yang paling rapi?

"Ini gitar Mama waktu muda dulu," kataku, duduk bersimpuh di lantai gudang yang dingin dan lembap. Kirana mendekat, tangannya yang mungil menyentuh bodi gitar yang sudah kusam dengan kelembutan yang menghancurkanku. "Dulu, Mama bermimpi jadi musisi."

"Terus kenapa sekarang jadi auditor?"

Pertanyaan polos yang menancap di ulu hati. Bagaimana aku menjelaskan pada seorang anak tentang mimpi yang terpaksa dikorbankan demi tanggung jawab? Tentang ayahku yang terbaring di rumah sakit dengan kanker yang menggerogoti tubuhnya—dan tabungannya—secara perlahan. Tentang Mama yang bekerja sebagai buruh cuci dari subuh hingga malam. Tentang adikku yang baru masuk kuliah, harapan satu-satunya keluarga kami.

Aku ingat malam itu. Malam yang mengubah segalanya.

* * *

Dua puluh tahun lalu, di kamar kos sempit yang bocor kalau hujan, aku memegang dua amplop.

Amplop pertama: surat penerimaan dari Jakarta Institute of Music—sekolah musik terbaik di Indonesia. Beasiswa penuh untuk tiga tahun. Kesempatan emas yang hanya datang sekali seumur hidup. Aku menangis ketika membuka surat itu, tanganku gemetar membaca: "Kami dengan senang hati menerima Anda sebagai mahasiswa program Komposisi dan Performance..."

Amplop kedua: tagihan rumah sakit. Ayah sudah stadium tiga. Kemoterapi yang harus dimulai segera. Angka-angka yang membuat kepalaku pusing. Angka yang tidak mungkin dibayar oleh Mama yang hanya buruh cuci, atau oleh adikku yang masih SMA.

Di luar jendela, hujan turun deras.

Aku mengingat kata-kata Pak Arif, guru musikku di SMA. "Hana, kamu punya telinga yang luar biasa. Kamu bisa mendengar musik di tempat-tempat yang orang lain hanya mendengar kebisingan. Jangan sia-siakan itu."

Tapi aku juga mengingat batuk Ayah yang semakin parah. Wajah Mama yang semakin kurus. Adikku yang belajar sampai larut malam dengan penerangan seadanya, bermimpi jadi dokter—mimpi yang juga mahal, yang juga butuh pengorbanan.

Aku menatap gitar di sudut kamar. Gitar bekas yang kubeli dari hasil mengamen di perempatan selama setahun. Teman setiaku yang tahu semua lagu yang pernah kutulis, semua air mata yang pernah kutumpahkan.

"Maafin aku," bisikku pada gitar itu. "Maafin aku."

Lalu aku merobek surat penerimaan itu. Perlahan. Satu sobek untuk setiap not yang tak akan pernah kutulis. Satu sobek untuk setiap panggung yang tak akan pernah kupijak. Satu sobek untuk setiap mimpi yang kubunuh dengan tanganku sendiri.

Keesokan harinya, aku mendaftar ke fakultas ekonomi. Jurusan yang tidak pernah kubayangkan. Jurusan yang menjanjikan pekerjaan stabil, gaji tetap, bonus tahunan. Jurusan yang akan membuatku bisa menghidupi keluarga.

Jurusan yang akan membunuhku perlahan-lahan, tanpa aku sadari.

* * *

"Mama?" Suara Kirana menarikku kembali ke masa kini. "Mama nangis?"

Aku menyentuh pipiku. Basah. Aku tidak sadar kapan air mataku mulai mengalir.

"Karena kadang, sayang," suaraku bergetar, "hidup meminta kita memilih hal yang tidak kita mau, tapi harus kita lakukan."

Kirana diam sebentar. Matanya yang terlalu tua untuk usianya menatapku dalam-dalam. Lalu dia bilang, dengan nada yang membuatku merinding, "Berarti Mama nggak cuma sedih. Mama marah juga, kan? Marah sama hidup. Marah sama takdir. Marah sama... Mama sendiri."

Dan aku menangis.

Di gudang berdebu itu, di depan anakku yang masih terlalu muda untuk memahami betapa berat dunia ini, aku menangis untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun. Aku menangis untuk semua lagu yang tak pernah kutulis. Untuk semua panggung yang tak pernah kupijak.

Aku menangis untuk gadis delapan belas tahun yang merobek surat mimpinya demi orang-orang yang dicintainya.

Dan untuk wanita tiga puluh delapan tahun yang baru menyadari bahwa pengorbanan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

* * *

Hari Senin pagi di kantor sama seperti seribu Senin sebelumnya. Ruang kubikel yang dingin dan steril, aroma kopi instan yang pahit. Tumpukan laporan keuangan menunggu untuk diaudit.

Aku duduk di mejaku, menatap layar komputer yang menyala dingin. Jari-jariku yang dulu terlatih menekan senar kini hanya terlatih menekan keyboard.

"Lembur lagi hari ini, Hana?" Tanya Dita, rekan kerjaku yang duduk di kubikel sebelah. Wajahnya lelah—sama lelahnya dengan semua wajah di kantor ini.

"Kayaknya," jawabku datar.

"Tumben lo pendiam. Biasanya pagi-pagi udah cerita panjang lebar."

Aku hanya tersenyum tipis. Bagaimana aku bilang bahwa sejak menemukan gitar itu tiga hari lalu, ada sesuatu yang retak di dalam dadaku? Bukan retak baru—lebih seperti retakan lama yang selama ini kupura-purakan tidak ada, yang tiba-tiba terbuka lebar dan mengeluarkan nanah kesedihan yang kupikir sudah kering. Luka yang kukira sudah mati ternyata hanya tidur, dan sekarang ia bangun dengan rasa sakit yang berlipat ganda.

Sore itu, saat rapat evaluasi kuartal ketiga, aku menatap wajah-wajah rekan kerjaku satu per satu.

Pak Bambang yang akan pensiun tahun depan—empat puluh tahun mengabdi, dan wajahnya lebih mirip orang yang menunggu eksekusi daripada orang yang akan menikmati masa tua.

Bu Ratna yang selalu makan siang sendirian di pojok kantin, matanya tak pernah lepas dari foto keluarganya—suami dan dua anak yang tinggal di kota lain karena mutasi kerja.

Doni yang baru tiga tahun kerja tapi matanya sudah kehilangan kilau.

Apakah kita semua seperti ini? Zombie yang berjalan ke kantor setiap hari, melakukan pekerjaan yang tidak membuat jantung berdetak lebih cepat?

"Hana, kamu dengerin nggak sih?"

Suara Pak Joko, manajer kami, membuatku tersadar. Semua mata memandangku—belasan mata mati yang sebentar lagi akan kembali menatap layar komputer masing-masing.

"Maaf, Pak. Bisa diulang?"

Dia menghela napas panjang, jelas kesal. "Aku tanya, kamu bersedia nggak handle klien baru? Perusahaan konstruksi besar. PT Karya Megah. Proyeknya kompleks, butuh dedikasi penuh. Bonusnya lumayan—bisa dapat dua puluh juta kalau proyeknya selesai tepat waktu."

Dulu, aku akan langsung bilang ya. Bonus dua puluh juta berarti bisa bayar cicilan rumah lebih cepat, bisa tabung lebih banyak untuk kuliah Kirana nanti. Dulu, aku tidak pernah menolak apapun—karena menolak berarti egois, dan aku sudah cukup egois ketika aku diam-diam menyimpan gitar di gudang alih-alih menjualnya.

Tapi sore itu, entah kenapa, aku merasa sangat lelah.

"Saya... pikir-pikir dulu, Pak."

Ruangan hening. Pak Joko menatapku dengan alis terangkat tinggi, tidak percaya. Di kantor ini, menolak bonus itu seperti menolak oksigen.

"Pikir-pikir?" Pak Joko mengulangi, nada suaranya dingin. "Hana, ini kesempatan bagus. Klien besar. Kalau kamu nolak, Dita yang akan ambil. Dan kamu tahu kan, penilaian kinerja kita di akhir tahun nanti."

Ancaman halus. Aku mengenali itu. Terima proyek ini, atau kariermu stagnan. Terima proyek ini, atau kamu dianggap tidak loyal. Terima proyek ini, atau lupakan promosi yang sudah kamu kejar bertahun-tahun.

"Saya mengerti, Pak," kataku pelan. "Tapi saya butuh waktu untuk mikir."

Setelah rapat, Dita mendatangiku di kubikel. Wajahnya khawatir tapi juga... ada sesuatu yang lain. Harapan, mungkin?

"Han, kamu kenapa sih? Kamu nggak biasanya gini. Kamu sakit?"

"Nggak. Aku cuma..."

"Cuma apa? Kamu tahu kan, kalau kamu nolak, aku yang bakal dapet proyeknya? Dan sejujurnya," dia menurunkan suaranya, "aku butuh bonus itu. Suamiku baru kena PHK bulan lalu. Aku harus bayar cicilan mobil, cicilan rumah, uang sekolah anak..."

Rasa bersalah menyeruak di dadaku. Aku tahu Dita butuh uang itu. Tapi aku juga tahu bahwa kalau aku terima proyek ini, aku harus lembur hampir setiap hari. akhir pekan akan hilang. Sabtu pagi akan hilang.

Dan aku baru saja menemukan sesuatu yang membuat Sabtu pagi berarti lagi.

"Maaf, Dit. Aku... aku lagi ada sesuatu yang harus kukerjain."

"Sesuatu yang lebih penting dari kerja?" Dia menatapku tidak percaya. "Han, kamu gila? Di tengah ekonomi kayak gini?"

Mungkin aku memang gila. Mungkin gitar berdebu di gudang itu sudah menginfeksi otakku dengan nostalgia yang berbahaya. Mungkin aku sedang mengalami krisis paruh baya yang bodoh dan tidak produktif.

Tapi untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku merasa ada yang lebih penting dari angka-angka di rekening bank.

* * *

Malam itu, setelah Kirana tidur dengan boneka beruangnya yang sudah usang—warisan dari almarhum ayahnya—aku duduk di teras belakang rumah. Langit gelap tanpa bintang.

Gitar itu ada di pangkuanku. Aku sudah ganti senarnya siang tadi—pergi ke toko musik saat istirahat kantor, merasa asing dan rindu sekaligus ketika mencium bau kayu dan logam yang dulu begitu familiar. Penjaga toko—seorang pria tua dengan rambut putih—menatapku dengan senyum yang aneh.

"Lama tidak main?" tanyanya.

"Sangat lama," jawabku. "Lima belas tahun."

"Tapi kamu datang lagi," dia mengangguk bijak. "Musik itu seperti cinta pertama. Kita bisa melupakannya untuk sementara, tapi dia tidak pernah benar-benar pergi."

Kata-katanya menggantung di udara saat aku pulang, dan sekarang bergema di teras belakang rumah yang sunyi ini.

Jari-jariku mencoba menekan fret, mengingat kembali akord G mayor.

Sakit.

Ujung jari-jariku yang dulu keras dan berkapalan kini lunak. Lima belas tahun tanpa latihan telah mengkhianati otot-otot yang dulu kubangun dengan susah payah. Tapi aku tetap mencoba. C mayor. D mayor. E minor. Setiap perpindahan akord terasa asing tapi familiar, menyakitkan tapi juga melegakan.

"Mama jago ya?"

Kirana tiba-tiba muncul di ambang pintu, mata mengantuknya berbinar.

"Kamu belum tidur, sayang?"

"Aku denger suara gitarnya," dia duduk di sampingku, tubuh mungilnya menempel hangat. "Mama, kenapa nggak main musik lagi aja?"

"Nggak semudah itu, sayang."

"Kenapa?"

Satu kata. Enam huruf. Pertanyaan yang terlalu berat untuk dijawab.

"Karena Mama sudah terlalu tua. Sudah terlalu lama nggak latihan. Dan dunia musik itu keras, Kirana. Lebih keras dari yang Mama kira dulu. Lebih kejam dari yang pernah Mama bayangkan."

Aku ingat kata-kata Pak Arif, guru musikku, ketika aku bilang padanya bahwa aku memilih ekonomi. Wajahnya pucat, matanya sedih.

"Hana, kamu sedang membunuh dirimu sendiri," katanya. "Mungkin bukan sekarang. Mungkin tidak terasa hari ini atau besok. Tapi suatu hari, kamu akan bangun dan menyadari bahwa kamu sudah hidup dua puluh, tiga puluh tahun tanpa musik. Dan bagian dari dirimu yang paling hidup sudah lama mati."

Aku tidak percaya kata-katanya waktu itu. Aku pikir beliau hanya seorang idealis yang tidak mengerti realitas kehidupan.

Tapi sekarang, dua puluh tahun kemudian, aku duduk dengan gitar berdebu di pangkuan dan menyadari bahwa beliau benar.

Bagian dari diriku yang paling hidup memang sudah mati.

Dan aku bahkan tidak tahu kapan pemakaman itu terjadi.

Kirana diam sebentar. Angin malam membelai rambut kami berdua. Lalu dia bertanya, dengan suara yang begitu lembut hingga hampir tidak terdengar, "Tapi Mama masih cinta musik, kan?"

Aku menatap anakku. Kapan dia jadi sebijak ini? Kapan dia belajar mengajukan pertanyaan yang bisa merobek hati?

"Masih," bisikku, dan suaraku pecah seperti senar yang ditarik terlalu kencang. "Sangat."

"Kalau masih cinta, berarti belum terlambat."

Logika anak-anak. Sederhana. Polos. Tidak terkontaminasi oleh ketakutan dan keraguan yang kita pelajari seiring bertambahnya usia. Dan entah kenapa, malam itu, logika sederhana itu terasa lebih jujur dari semua perhitungan rasional yang selalu kubuat.

* * *

Sabtu pagi itu, aku menemani Kirana les matematika di sebuah yayasan pendidikan di daerah pinggiran kota. Tempatnya sederhana—rumah tua yang diubah jadi ruang belajar, dengan papan tulis yang sudah kusam dan kursi-kursi kayu yang tidak rata. Cat dindingnya mengelupas di beberapa bagian, dan langit-langitnya bernoda air hujan.

Tapi ada kehangatan di sana yang tidak pernah kutemukan di kantor berpendingin udara.

"Bu Hana, mau tunggu di ruang guru aja? Ada kopi," tawar Bu Wulan, kepala yayasan—seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah memutih dan senyum yang tidak pernah padam meski hidupnya jauh dari mudah.

Aku mengikutinya ke sebuah ruangan kecil yang berfungsi sebagai ruang guru, ruang makan, dan kadang ruang tidur untuk relawan yang datang dari jauh. Di sana, mataku tertumbuk pada poster yang tertempel di dinding yang mengelupas:

"Kami Butuh Pengajar Musik Sukarela"

"Itu posternya udah lama," kata Bu Wulan, mengikuti arah pandangku. "Udah dua tahun nggak ada yang minat. Padahal anak-anak di sini pengen banget belajar musik. Mereka sering nanya, kapan ada yang ngajarin main gitar atau piano."

"Kenapa nggak ada yang minat?"

"Ya, mungkin karena nggak ada bayarannya," dia tertawa kecil, tawa yang menyimpan kepahitan. "Di zaman sekarang, siapa yang mau kerja gratis? Semua orang sibuk cari uang, Bu. Sibuk bertahan hidup."

Aku menatap poster itu. Kertas yang sudah menguning, tinta yang sudah memudar. Tapi ada sesuatu yang bergetar di dadaku—getaran yang sudah lama tidak kurasakan. Seperti senar gitar yang dipetik setelah bertahun-tahun diam.

"Bu," suaraku tercekat, "saya... saya bisa main gitar."

Bu Wulan menoleh cepat, matanya berbinar. "Serius, Bu?"

"Saya nggak jago-jago amat. Dan saya juga udah lama banget nggak main—lima belas tahun. Jari-jari saya kaku, ingatan saya tentang not-not sudah berkarat. Tapi kalau memang Bu Wulan nggak keberatan dengan pengajar yang... biasa-biasa aja, yang masih harus belajar lagi sendiri, saya... saya bersedia coba."

Senyum Bu Wulan mengembang—senyum yang lebih terang dari lampu neon di ruangan redup ini. "Bu Hana, di sini kami nggak butuh yang sempurna. Kami butuh yang tulus. Dan dari cara Ibu bicara tentang musik barusan, saya tahu Ibu punya ketulusan itu."

* * *

Sabtu pertama mengajar, aku gugup setengah mati. Tanganku gemetar ketika memegang gitar, seperti pengantin yang akan memasuki pelaminan setelah sekian lama menjadi perawan.

Ada tujuh anak di kelas itu, usia mereka antara sembilan sampai empat belas tahun. Mereka duduk di lantai yang dingin—tidak ada kursi cukup untuk semua—tapi mata mereka berbinar seperti bintang-bintang kecil yang baru dinyalakan.

"Selamat pagi, anak-anak. Nama Ibu Hana. Ibu akan ngajarin kalian main gitar."

"Ibu artis ya?" Tanya seorang anak laki-laki bernama Rendi—wajahnya kotor, rambutnya kusut, tapi senyumnya menerangi ruangan.

Aku tersenyum, dan ada rasa pahit yang familiar di tenggorokanku. Artis. Dulu itu mimpi terbesarku. Dulu aku membayangkan wajahku di poster konser, namaku disebut di berita, laguku dinyanyikan jutaan orang.

"Bukan. Ibu cuma orang biasa yang suka musik."

"Tapi Ibu pasti jago kan?" sahut Tari, anak perempuan yang duduk paling depan. Tubuhnya kurus—terlalu kurus—dan bajunya sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci.

"Ibu... dulu mungkin jago. Sekarang masih belajar lagi. Jari Ibu sudah kaku, ingatan Ibu sudah berkarat."

Kejujuran itu membuat mereka terdiam sebentar. Lalu Rendi nyengir lebar dan bilang, "Sama kayak kita dong, Bu. Kita juga masih belajar. Berarti kita bisa belajar bareng!"

Dan aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak dengan cara yang berbeda.

Di mata anak-anak ini, aku bukan orang yang gagal mewujudkan mimpi. Aku bukan auditor yang terjebak dalam pekerjaan tanpa jiwa. Aku bukan wanita tiga puluh delapan tahun yang menangis di gudang karena menyesali keputusan dua puluh tahun lalu.

Di mata mereka, aku adalah orang yang membawa musik ke dalam hidup mereka. Aku adalah jembatan antara mereka dan keajaiban yang mungkin akan mereka cintai seumur hidup.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku merasa berharga.

* * *

Minggu-minggu berlalu seperti not-not yang mengalir dari senar gitar. Setiap Sabtu pagi, aku datang ke yayasan itu dengan gitar di punggung dan hati yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Tapi kebahagiaan itu datang dengan harga.

Di kantor, suasana berubah. Pak Joko semakin dingin padaku. Dia memberikan proyek besar itu pada Dita, dan sejak itu Dita hampir tidak pernah bicara denganku lagi—terlalu sibuk, terlalu lelah, dan mungkin juga terlalu kecewa.

Suatu sore, Pak Joko memanggilku ke ruangannya.

"Hana, duduk."

Aku duduk, jantungku berdegup kencang. Ruangannya dingin, pendingin udara dinyalakan terlalu kencang seperti biasa.

"Penilaian kinerja kamu turun," dia melempar map di atas meja. "Tiga bulan terakhir, produktivitas kamu menurun. Kamu sering pulang tepat waktu—yang mana nggak biasa untuk senior auditor. Kamu nolak proyek penting. Dan kemarin, Dita bilang kamu kesulitan fokus saat meeting."

Aku terdiam. Semua yang dia bilang benar.

"Kamu ada masalah pribadi?" tanyanya, tapi nada suaranya tidak simpatis. Lebih seperti interogasi.

"Tidak, Pak."

"Kalau nggak ada masalah, kenapa kinerja kamu drop?"

Aku ingin bilang: karena aku baru saja menemukan kembali bagian dari diriku yang sudah mati. Karena untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku punya sesuatu yang membuat aku ingin bangun di pagi hari. Karena aku baru sadar bahwa hidup bukan hanya tentang angka-angka di laporan keuangan.

Tapi aku tahu dia tidak akan mengerti.

"Saya akan perbaiki kinerja saya, Pak."

"Kamu harus," dia bersandar di kursinya, menatapku dingin. "Kalau nggak, jangan harap promosi. Atau bahkan, kamu bisa masuk daftar kandidat untuk... penyesuaian. Kamu tahu kan, perusahaan lagi efisiensi."

Ancaman yang jelas. Perbaiki kinerja atau siap-siap dipecat.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikiran-pikiran mengerikan berputar di kepalaku.

Bagaimana kalau aku dipecat? Bagaimana aku bayar cicilan rumah? Bagaimana aku biayai sekolah Kirana? Apakah aku egois karena mengajar gratis setiap Sabtu ketika aku seharusnya fokus pada karier yang memberi makan keluargaku?

Apakah musik—lagi-lagi—adalah kemewahan yang tidak bisa kupertahankan?

* * *

Sabtu berikutnya, aku hampir tidak datang ke yayasan. Hampir.

Tapi ketika aku melihat wajah Kirana yang bersemangat pagi itu—"Hari ini Mama ngajar lagi kan?"—aku tidak sanggup mengecewakan dia. Atau anak-anak yang menunggu.

Di kelas, Rendi sudah mahir memainkan tiga akord. Dia memainkannya untukku dengan bangga, dan aku bisa melihat kilau di matanya—kilau yang sama yang dulu kumiliki.

"Bu, aku udah latihan setiap hari," katanya. "Papa aku bilang, aku berbakat. Dia bilang, dulu dia juga suka musik, tapi nggak ada yang ngajarin."

Tari datang mendekat setelah kelas selesai. Tangannya gemetar ketika menyentuh lenganku.

"Bu, boleh aku cerita sesuatu?"

"Tentu, sayang."

"Kemarin, Mama aku ulang tahun. Dia kerja sampai malem kayak biasa. Aku... aku mainkan 'Happy Birthday' buat dia di gitar. Dia nangis, Bu. Tapi dia bilang, itu hadiah ulang tahun terbaik yang pernah dia terima."

Air mataku menggenang. Aku menarik Tari ke dalam pelukan.

"Kamu tahu kenapa dia nangis?" bisikku. "Karena kamu memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kamu memberikan cinta yang berbentuk musik."

Tari mengangguk di pelukanku, tubuh kurusnya bergetar.

Dan di saat itu, aku tahu. Apapun yang terjadi di kantor, apapun ancaman yang dilontarkan Pak Joko, aku tidak bisa berhenti datang ke sini. Karena anak-anak ini butuh musik. Dan aku—ternyata—butuh mereka juga.

* * *

Dua minggu sebelum pertunjukan yang direncanakan Bu Wulan, aku dipanggil lagi ke ruangan Pak Joko.

Kali ini, dia tidak sendirian. Ada Pak Budi dari HR.

Perutku melilit.

"Hana, kita perlu bicara serius," kata Pak Joko. "Kinerja kamu tidak membaik. Malah semakin turun. Minggu lalu kamu salah menghitung depresiasi aset untuk klien Pak Budi, dan itu hampir jadi masalah besar."

Aku ingat kesalahan itu. Aku terlalu lelah, terlalu terburu-buru karena harus pulang tepat waktu untuk latihan dengan anak-anak.

"Maaf, Pak. Saya—"

"Maaf tidak cukup, Hana," potong Pak Budi. "Kita menghargai kontribusi kamu selama ini. Tapi perusahaan butuh profesional yang fokus. Yang memberikan seratus persen."

Seratus persen. Kata-kata yang sering kudengar. Seperti hidup kita harus selalu seratus persen untuk pekerjaan, tidak boleh ada yang tersisa untuk hal lain.

"Kita memberikan kamu pilihan," lanjut Pak Joko. "Perbaiki kinerja dalam sebulan ke depan—drastis—atau kita akan mempertimbangkan untuk..."

Dia tidak melanjutkan. Tidak perlu. Aku tahu apa yang dia maksud.

Keluar dari ruangan itu, kakiku lemas. Aku pergi ke toilet kantor dan terkunci di dalam cubicle, menangis tanpa suara.

Dua puluh tahun. Dua puluh tahun aku memberikan segalanya untuk pekerjaan ini. Aku mengorbankan mimpi, mengorbankan musik, mengorbankan kebahagiaan. Dan sekarang, hanya karena aku mencoba—HANYA MENCOBA—menemukan sedikit makna di luar angka-angka, aku diancam akan kehilangan semua yang sudah kubangun.

Aku menatap pantulanku di cermin toilet. Wajah yang lelah. Mata yang sudah tidak bercahaya. Kerutan-kerutan yang muncul terlalu cepat.

Siapa aku?

Auditor yang baik tapi tidak bahagia? Ibu yang berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya, tapi dengan mengorbankan jiwa? Atau musisi yang sudah mati, yang sekarang mencoba bangkit dari kubur?

* * *

Malam itu, aku bicara dengan Kirana. Kami duduk di teras belakang, gitar di antara kami.

"Mama mungkin harus berhenti ngajar di yayasan," kataku pelan.

Wajah Kirana pucat. "Kenapa?"

"Karena kantor Mama... mereka bilang Mama harus fokus. Kalau nggak, Mama bisa kehilangan pekerjaan."

Kirana diam lama. Lalu dia bertanya, "Kalau Mama kehilangan pekerjaan, kita jadi miskin?"

"Mungkin."

"Tapi kalau Mama berhenti ngajar, Mama jadi sedih lagi? Kayak waktu Mama nemu gitar di gudang?"

Pertanyaan yang menghancurkanku.

"Mungkin juga."

Kirana menatapku dengan mata yang terlalu tua untuk seorang anak sepuluh tahun. "Mama, Papa dulu pernah bilang sesuatu sebelum dia meninggal. Dia bilang, 'Hidup bukan tentang seberapa banyak uang yang kita punya. Tapi tentang seberapa banyak kita bisa tertawa dengan tulus.'"

Aku ingat kata-kata suamiku. Dia meninggal dalam kecelakaan ketika Kirana masih empat tahun. Tapi bahkan di hari-hari terakhirnya, di ranjang rumah sakit, dia masih bisa tersenyum.

"Sejak Mama ngajar di yayasan," lanjut Kirana, "Mama lebih sering senyum. Mama pulang kerja dan cerita tentang anak-anak yang lucu. Mama latihan gitar sambil senyum-senyum sendiri. Aku... aku suka Mama yang seperti itu."

"Tapi, sayang—"

"Aku nggak apa-apa kalau kita jadi agak miskin," potongnya. "Asal Mama nggak sedih lagi."

Dan aku menangis. Untuk kesekian kalinya, aku menangis. Tapi kali ini, aku memeluk anakku dan menangis karena aku punya hadiah terbesar di dunia: anak yang mengerti bahwa kebahagiaan lebih berharga dari uang.

* * *

Minggu berikutnya, aku membuat keputusan.

Aku datang ke ruangan Pak Joko tanpa dipanggil.

"Pak, saya ingin bicara."

Dia mengangkat alis. "Silakan."

"Saya... saya akan melamar posisi senior staff. Turun posisi."

Dia menatapku tidak percaya. "Turun posisi? Hana, kamu tahu itu berarti gaji lebih rendah? Tidak ada bonus tahunan? Kenapa?"

"Karena saya butuh waktu lebih untuk hal-hal di luar kantor. Saya tetap akan bekerja profesional, Pak. Tapi saya tidak bisa lagi memberikan seratus persen untuk pekerjaan. Saya punya kehidupan lain yang juga penting."

"Kehidupan lain?" Dia tertawa sinis. "Hana, kamu sedang bunuh diri secara profesional. Kamu tahu itu?"

"Mungkin," jawabku tenang. "Atau mungkin saya sedang menyelamatkan diri."

Dia terdiam, menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu dia menghela napas panjang.

"Baiklah. Kalau itu keputusan kamu. Tapi jangan menyesal nanti."

Keluar dari ruangan itu, aku merasa ringan. Ada beban yang terangkat.

Ya, gajiku akan berkurang. Ya, karier yang sudah kubangun dua puluh tahun akan terhenti. Ya, mungkin aku akan kesulitan secara finansial.

Tapi aku akan punya Sabtu pagi. Aku akan punya musik. Aku akan punya bagian dari diriku yang sempat mati dan sekarang hidup kembali.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku merasa itu adalah pertukaran yang adil.

* * *

Enam bulan kemudian, kami mengadakan pertunjukan kecil di yayasan.

Tidak ada panggung mewah dengan lampu sorot yang menyilaukan. Tidak ada kursi empuk berlapis beludru merah. Tidak ada penonton ratusan orang yang membayar tiket mahal.

Hanya ruang sederhana dengan kursi-kursi kayu yang tidak rata, dihadiri oleh orang tua murid—sebagian besar buruh dan pedagang kecil yang mengambil cuti dari kerja keras mereka—dan beberapa donatur yayasan.

Tapi bagiku, ini adalah konser terbesar yang pernah ada.

Anak-anak tampil satu per satu dengan gugup dan bangga.

Rendi membawakan lagu "Bintang Kecil" dengan versi yang sudah dia modifikasi sendiri—ada petikan-petikan nakal yang dia tambahkan, sentuhan khas anak jalanan yang tidak pernah diajarkan di buku manapun. Ayahnya—seorang tukang ojek dengan pakaian yang sudah lusuh—menangis di barisan belakang, tidak malu dengan air matanya. Setelah penampilan, dia memeluk Rendi erat-erat dan berbisik, "Papa bangga sama kamu, Nak. Papa bangga."

Lalu giliran Tari.

Dia berdiri di depan dengan gitar yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Jari-jarinya gemetar ketika menyentuh senar. Tapi ketika dia mulai memetik nada pertama "Kasih Ibu," seluruh ruangan hening.

Suaranya tidak sempurna. Nadanya kadang meleset. Tapi ada sesuatu dalam cara dia menyanyi yang membuat air mata menggenang di pelupuk mata semua orang.

"Kasih ibu kepada beta... tak terhingga sepanjang masa..."

Di barisan depan, ibu Tari—wanita kurus dengan tangan yang kasar dan pecah-pecah—menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang sudah keriput sebelum waktunya.

Tari juga menangis. Tapi dia terus bernyanyi.

"Hanya memberi tak harap kembali... bagai sang surya menyinari dunia..."

Ketika lagu selesai, ibu Tari berdiri dengan kaki yang gemetar. Dia berjalan ke depan dengan langkah yang lambat, seperti orang yang sedang bermimpi dan takut terbangun. Lalu dia memeluk anaknya—memeluknya erat-erat seperti tidak akan pernah melepaskan.

Mereka berdua menangis di depan semua orang, tidak peduli siapa yang melihat, tidak malu dengan air mata mereka. Dan aku menyadari bahwa ini—momen ini—adalah alasan mengapa musik ada.

Bukan untuk album yang laris. Bukan untuk konser di stadion besar. Bukan untuk nama yang tercetak di poster atau disebut di radio.

Tapi untuk momen seperti ini. Untuk pelukan antara ibu dan anak yang tidak punya banyak harta, tapi punya cinta yang lebih kaya dari apapun di dunia ini.

Setelah semua anak tampil, Bu Wulan memanggilku ke depan.

"Bu Hana, mau main sesuatu untuk kami?"

Aku melihat wajah-wajah yang menatapku penuh harap. Kirana yang duduk di samping neneknya—ibuku yang sudah tua dan lelah tapi datang jauh-jauh untuk mendukungku—tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Anak-anak muridku bersorak, menyemangati dengan antusiasme yang hanya dimiliki oleh hati yang belum terkontaminasi keraguan. Bu Wulan mengangguk, senyumnya hangat seperti pelukan.

Aku tidak main lagu populer yang semua orang kenal.

Aku main lagu yang kutulis sendiri dua puluh tahun lalu—lagu terakhir yang kuciptakan sebelum aku meninggalkan musik. Lagu yang kutulis di malam ketika aku merobek surat penerimaan dari sekolah musik. Lagu yang kuciptakan sambil menangis di kamar, dengan gitar di pangkuan dan hati yang hancur.

Judulnya "Cicilan Langit."

Tentang mimpi-mimpi kecil yang dikumpulkan pelan-pelan, seperti koin receh yang dimasukkan ke celengan retak. Tentang harapan yang tidak datang sekaligus tapi dicicil setiap hari—kadang dengan air mata, kadang dengan senyum yang dipaksakan, kadang dengan keberanian yang ditemukan di tempat-tempat yang tidak terduga.

Jari-jariku tidak sempurna. Ada nada yang meleset, ada petikan yang kurang tepat. Suaraku sudah tidak sejernih dulu—dua puluh tahun tidak bernyanyi telah mengkhianati pita suaraku.

Tapi aku menyanyi dengan seluruh hatiku. Dengan semua luka yang pernah kubawa. Dengan semua penyesalan yang pernah membuatku terjaga di malam-malam sunyi. Dengan semua harapan yang baru saja kutemukan kembali.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku merasa utuh.

Ketika lagu selesai, ruangan hening sebentar. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, bisa merasakan senar yang masih bergetar di bawah jemariku.

Lalu tepuk tangan meledak.

Bukan tepuk tangan ribuan orang di panggung besar yang dulu kubayangkan. Bukan standing ovation di gedung konser mewah. Bukan sorak sorai penggemar yang meneriakkan namaku.

Hanya tepuk tangan puluhan tangan—tangan kasar para buruh, tangan kecil anak-anak, tangan keriput orang tua—yang tulus dan hangat. Tepuk tangan yang membuat dadaku penuh dengan sesuatu yang tidak bisa kubeli dengan bonus apapun di kantor.

Kirana berlari ke depan dan memelukku. "Mama keren banget," bisiknya di telingaku, dan suaranya bergetar.

Ibuku—yang sudah tua dan lelah, yang dulu bekerja sebagai buruh cuci untuk membiayai hidupku—datang mendekat dengan langkah yang sudah tidak sekokoh dulu. Air matanya mengalir di pipinya yang keriput.

"Ibu bangga sama kamu," katanya, suaranya pecah. "Ibu selalu tahu kamu punya musik di dalam hatimu. Ibu cuma nggak pernah tau caranya bilang... maaf. Maaf karena dulu Ibu nggak bisa kasih kamu kesempatan untuk..."

"Sudah, Bu," aku memeluknya, merasakan tubuhnya yang sudah ringkih gemetar di pelukanku. "Nggak ada yang perlu dimaafkan. Semua yang Ibu lakukan adalah untuk keluarga. Dan aku... aku akhirnya mengerti. Aku mengerti bahwa cinta punya banyak bentuk. Termasuk bentuk pengorbanan."

Kami berdiri di sana, ibu dan anak, berpelukan di tengah ruangan sederhana yang penuh dengan orang-orang yang mencintai musik. Dan aku menyadari bahwa ini adalah panggung yang sesungguhnya. Ini adalah konser yang sebenarnya.

Bukan tentang seberapa banyak orang yang mendengar. Tapi tentang seberapa dalam musik itu dirasakan oleh yang mendengar.

* * *

Malam itu, setelah sampai rumah, Kirana memelukku erat di sofa ruang tamu.

"Mama keren banget tadi."

"Mama cuma main satu lagu, sayang. Masih banyak yang salah."

"Tapi Mama bahagia," dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang sama jernihnya dengan mata ayahnya yang sudah tiada. "Mama senyum kayak... kayak matahari. Kayak Mama yang baru bangun setelah tidur lama."

Aku mencium puncak kepalanya, menghirup aroma shampo dan masa kecil yang cepat berlalu.

Malam itu, aku duduk di teras belakang lagi. Gitar di pangkuan, langit penuh bintang di atas kepala. Aku memetik senar pelan-pelan, tidak ada lagu khusus, hanya bunyi-bunyian yang mengalir begitu saja—seperti air sungai yang akhirnya menemukan jalannya setelah sekian lama terbendung.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuat air mataku mengalir lagi—tapi kali ini, air mata yang berbeda. Air mata yang tidak pahit. Air mata yang hangat, seperti hujan di musim kemarau yang panjang.

Aku tidak kehilangan mimpiku.

Mimpiku hanya berubah bentuk.

Dulu, aku bermimpi jadi musisi profesional yang tampil di panggung-panggung besar—lampu sorot menyilaukan, penonton berteriak, albumku didengar jutaan orang, namaku disebut-sebut di radio dan televisi. Aku membayangkan hidup glamor, dikelilingi orang-orang terkenal, mendapat pengakuan dari kritikus musik.

Tapi sekarang, mimpiku adalah tujuh anak yang bisa bermain gitar. Tujuh anak yang tahu bahwa musik bisa menjadi pelukan ketika dunia terasa dingin. Tujuh anak yang mungkin suatu hari akan meneruskan musik ini ke orang-orang yang mereka cintai, menciptakan gelombang yang tidak akan pernah berhenti.

Mimpiku adalah Sabtu pagi yang tidak lagi kusesali, tapi kutunggu dengan hati yang berdetak lebih cepat. Mimpiku adalah bangun pagi dan merasa ada sesuatu yang berarti menungguku.

Mimpiku adalah jari-jari kecil yang belajar menekan senar, dan mata berbinar yang percaya bahwa musik bisa mengubah sesuatu—percaya dengan kepercayaan polos yang dulu juga kumiliki, sebelum dunia mengajariku untuk ragu.

Mimpiku adalah diriku yang akhirnya bisa menyanyi lagi—bukan untuk ribuan orang yang tidak kukenal, tapi untuk orang-orang yang benar-benar mendengar. Yang mendengar bukan hanya dengan telinga, tapi dengan hati.

Ini bukan mimpi yang kurencanakan.

Ini bukan mimpi yang pernah kubayangkan ketika aku masih gadis delapan belas tahun dengan gitar lusuh dan hati penuh harapan.

Tapi ini mimpiku. Dan ia indah dengan caranya sendiri—indah yang tidak berkilau, tapi hangat. Indah yang tidak tersorot lampu, tapi terasa sampai ke tulang sumsum.

Hidup jarang tentang semua atau tidak sama sekali. Hidup lebih sering tentang menemukan jalan yang tidak pernah kita lihat di peta—jalan setapak yang tersembunyi di balik semak-semak keraguan dan ketakutan. Tentang mencintai sesuatu dengan cara yang berbeda dari yang kita duga—cara yang kadang lebih dalam, lebih bermakna, lebih nyata daripada yang pernah kita impikan.

Aku masih auditor di pagi hari—dengan posisi yang lebih rendah, gaji yang lebih kecil, tapi dengan jiwa yang lebih hidup. Aku masih menghidupi keluargaku dengan angka-angka dan laporan—dan aku tidak lagi malu dengan itu. Karena pekerjaan itu adalah bagian dari pengorbananku, bagian dari cintaku pada orang-orang yang kupilih untuk dijaga.

Tapi setiap Sabtu, aku adalah musisi.

Bukan musisi yang namanya tercetak di sampul album atau disebut di stasiun radio. Tapi musisi yang namanya dikenang oleh tujuh anak sebagai orang yang pertama kali mengajarkan mereka bahwa jari-jari mereka bisa menciptakan keajaiban.

Dan minggu depan, akan ada lima anak lagi yang mendaftar. Bu Wulan menelepon tadi malam, suaranya bersemangat. "Bu Hana, ada orang tua yang minta anaknya ikut kelas Ibu. Mereka dengar dari Tari dan Rendi. Ibu sanggup?"

Aku bilang ya tanpa ragu.

Karena ini bukan lagi tentang apakah aku sanggup atau tidak. Ini tentang apakah aku mau atau tidak—dan aku sangat mau.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang selalu kumaksud ketika aku bilang ingin jadi musisi.

Aku ingin hidup dengan musik. Bukan sekadar karier, bukan sekadar profesi, tapi bagian dari siapa diriku.

Ternyata, aku tidak harus berdiri di panggung besar untuk itu.

Kadang mimpi tidak hilang. Ia hanya menunggu kita cukup bijak untuk menemukannya dalam bentuk yang baru.

Dari teras belakang rumahku yang sederhana, di bawah langit yang penuh bintang, aku memetik gitar. Kirana tidur di dalam, boneka beruangnya menemani. Besok aku akan kembali ke kantor dengan posisi yang lebih rendah dan gaji yang lebih kecil.

Tapi malam ini, aku punya musik.

Dan itu sudah cukup.

* * *


“Mimpi yang tertunda bukan mimpi yang mati. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk bangun.”

Sunday, October 23, 2016

nyanyi sunyi pusara sepi (elegi penantian)

dalam diam sendiri tak berkawan
panas matahari yang menyengat, dinginnya malam atau hujan yang datang silih berganti
aku sepi, sendiri..
purnama demi purnama, lewat dalam diam, tak juga ucapkan salam, apalagi berhenti: sekedar menyapa atau bertukar pelukan
aku menanti, dalam sepi

apakah salah iri hati, saat kulihat laksmi mendapatkan kehangatan
dari cucuran air mata dan doa-doa yang dipanjatkan,
meski itu hanya terjadi mungkin setahun sekali

aku tak memendam benci, pada narendra dan nareswari
yang bergelimang bahagia dalam puja puji dan gelak tawa
dimana sentuhan seperti udara yang menyelubungi, dalam dekapan kasih tiada henti

mungkin aku lebih beruntung dari yamaraja,
yang hilang tak tahu dimana, terlupa dalam masa
tugu tugu peringatanku masih berdiri megah, bersama dengan para pepunden,
leluhur yang mengelilingi dan menjagaku, dalam sepi..

apakah aku ini seperti wisanggeni, anak bajang yang harus berjuang untuk sebuah pengakuan?
tapi untuk apa lagi pengakuan itu bagiku? pada saat tak ada lagi yang harus kubuktikan
tak ada lagi yang harus kutunjukkan, atas nama kewajiban atau ujud syukur

aku juga bukan antareja, yang membaktikan diri dengan meregang nyawa
demi kemenangan yang dianggap sebagai keluhuran budi pekerti
saat pengorbanan, adalah jaminan swarga loka bersama dewa dewi

aku merasa seperti karna, yang terbuang karena tak diinginkan, karena malu ibu kunthi dan nama baik kerajaan, sehingga aku harus dihanyutkan
yang kemudian dianggap bersalah karena membela kejahatan, walaupun darma ksatria membuat aku harus berterima kasih untuk setiap pertolongan dan budi baik yang aku dapatkan
walaupun kemudian harus melihat senja terakhir di kurusetra saat panah pasopati mencabut nyawa
tapi aku bukan karna! aku yakin aku bukan karna, karena aku diinginkan, dinanti dalam setiap doa-doa yang didaraskan, yang diharapkan sebagai sang penerus tahta dan penyambung dinasti
walaupun tak sempat kurasakan hangat peluk dan ciuman, karna kelahiran dan kematian menyambutku bersamaan

aku ingin menemani! dalam setiap pahit manis kehidupan yang terjadi
aku ingin selalu ada! dan aku ingin selalu diingat...

selalu diingat... selalu diingat...
aku tahu aku selalu diingat..meski tidak setiap malam doa didaraskan,
aku tahu aku selalu diingat, dalam ucapan-ucapan yang dinyatakan

aku ingin dikenang, kenangan yang tak hanya dalam ingatan akan tetapi melalui perjumpaan
mungkin tak ada lagi air mata, tapi kehangatan doa doa yang diikuti sentuhan dan usapan
itu pasti menghangatkan jiwaku..

ini bukan tuntutan, dalam asih cinta tiada henti aku madahkan nanyian restu
untuk setiap kehidupan yang masih terus berjalan, agar sang maha cinta tiada henti memberkati

sampai saatnya nanti, saat keabadiaan menjadi milik kita bersama,
dan perjumpaan berujung pada kebersamaan tak terpisahkan
aku selalu menanti saat itu, dalam keramaian, terlebih dalam kesepian

aku yang merindu...

/dwe

Sunday, September 18, 2016

berkaca pada masa lalu, kemudian melangkahkan kaki ke depan

sekarang sudah 2016, sudah lebih dari tiga tahun tidak ada penambahan tulisan di blog ini,
hanya sekedar kembali untuk mengingat kenangan, atau diingatkan teman bahwa blog ini ada dan kemudian membukanya lagi

orang sudah makin maju sekarang, blog tidak hanya berupa tulisan akan tetapi merambah ke video, vlog namanya, dan bukan lagi blogger melainkan vlogger, cara baru untuk berekspresi dan berkreasi di jaman digital yang semakin menggila ini, saat batas batas pribadi menghilang larut dalam laju modernisasi sosial media

satu paragraph, dua paragraph, ah tapi masih menyenangkan rasanya menulis seperti ini, tanpa harus dengan foto, tanpa harus dengan video. mungkin ini pengaruh usia, mungkin aku yang semakin menua dan mulai tertinggal dengan apa yang disebut kekinian dan trend masa kini. memang saat usia mulai berawal dengan angka tiga, hidup mulai terlihat sedikit berbeda dengan saat kemudaan masih nyaman mendekap kita.

melihat pada apa yang tertulis di masa lalu, membawa banyak rona emosi dan berbagai perasaan yang datang kembali,
diriku tergoda untuk berkaca lebih detail, apakah langkah hidup sekarang lebih terarah dan teratur, apakah hidup menjadi lebih baik dan berguna, apakah ada banyak hal yang bisa menjadi manfaat bukan mudarat bagi sesama, cinta kasih, pemberian diri, ataukah kemudian terkubur atas nama kewajiban dan tanggung jawab. skeptis dan apatis terhadap sekitar lebih memilih untuk melakukan yang menghasilkan dan menguntungkan kemudian membersihkan diri dan membangun kenyamanan dengan alasan telah banyak memberi dan berbagi..

rasanya tak pernah teraih kesempurnaan dan kepenuhan, kegagalan tak pernah mau jauh dari keberhasilan, layaknya malam yang terus menggantikan siang, jatuh bangun silih berganti, kadang bahkan lebih bodoh dari keledai dan terus masuk dalam kedagingan yang sama lalu membuncah beribu rupa alasan dan pembenaran.

ketika tak kunjung dapatkan kesesuaian dengan idealisme, kemudian di satu titik lalu berserah: life is still going on, panggung pertunjukan hidup ini belum ditutup, seperti gunungan pada wayang kulit yang belum ditancapkan saat subuh pagi untuk membubarkan para penontonnya, mengembalikan orang orang pada kenyataan yang harus dihadapi

tak mengapa masih sering putus asa saat gelap menyapa, kadang hanya dalam gelap bintang gemintang indah terlihat sinarnya..

satu hal yang tiba-tiba terlintas datang, harusnya makin bertambah usia, makin pandai pula menjalani setiap langkah dan menempatkan diri dalam setiap kondisi, jika tak begitu lalu apa yang kau dapat selama ini selain bertambahnya usia belaka?

semoga saja, pagi pagi yang datang menjelang, selalu bisa disambut dengan tanpa penyesalan

11:23 PM

Thursday, January 24, 2013

there's nothing god can't do

sebentar lagi imlek, suasananya mulai terasa. beberapa teman di kantor sudah mulai mengajukan cuti untuk merayakan imlek bersama keluarga masing-masing. toko-toko sudah mulai menjual pernak-pernik imlek dan warna merah mendominasi sangat menarik dipandang mata.

tahun depan tahun ular katanya, setelah tahun naga. beberapa orang yang percaya ramalan mulai sibuk mencari bagaimana nasib dan peruntungan mereka di tahun ular nanti. mengkaitkan apa kata ramalan dengan kondisi mereka saat ini.

hal ini menarik diriku juga untuk ikut mencari tahu. meskipun bukan chinese, latar belakang jawa yang dekat dengan ramalan dan mencoba mereka masa depan membuatku tertarik bagaimana nasibku di tahun ular nanti. karena tidak punya sumber-sumber untuk dtanyai, layaknya manusia sekarang, internet dan google menjadi pilihan utama sebagai sumber referensi.

and the result was unexpected, damn!
tahun ular akan membawa chiong bagi shio anda, kata seorang suhu dalam ramalannya. ada resiko kehilangan pekerjaan, pertengkaran dengan pasangan. sebaiknya berhati-hati sebelum membeli sesuatu yang bernilai besar. lebih baik tinggal di rumah. lebih banyak amal untuk memperbaiki peruntungan.

lalu aku menjadi panik, membayangkan hari-hari yang mungkin sulit di tahun ular nanti. hari-hari yang belum pasti. ini bukan tahun kejayaanku, kataku pelan. aku menjadi tidak percaya diri karenanya, banyak pikiran buruk yang lalu melintas dan memenuhi isi kepalaku. setahun kedepan mungkin jadi tidak menyenangkan.

and after all night, there comes a sunrise.
siapakah di antara kamu, yang karena kekuatiranmu bisa menambahkan sedikit saja panjang umurmu?... tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku. dia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, tongkatnya yang membimbing aku melewati lorong-lorong kegelapan.
ajaran-ajaran dan kepercayaan yang aku yakini muncul menguatkan untuk tidak takut akan masa depan.

aku bersyukur untuk bisa melewatkan hari-hari di awal tahun ini dengan doa, ini sungguh menguatkan dalam menjalani masa-masa yang penuh ketidakpastian.
dan ini berlaku untuk kita semua, siapapun kita, siapapun nama tuhan kita dan dengan cara apapun kita menyembahnya. dia yang penuh cinta, tidak pernah lalai untuk menjaga hidup kita.

jadi alih-alih merasa cemas, aku membaca lagi ramalan suhu itu dan menemukan banyak hal baik di sana. aku memang harus bekerja dengan baik karena itu kewajibanku dan tuhan menempatkan aku di situ pasti dengan suatu rencana. pertengkaran dengan pasangan pasti bisa terjadi karena ada dua pribadi yang berdinamika, tapi bersyukurlah bahwa ada seseorang yang masih ada di sisi kita. selalu berhati-hati sebelum membelanjakan sesuatu, karena tidak ada faedah dari hedonisme. lebih banyak amal karena kita sudah begitu beruntung dan menjadi kewajiban untuk saling menolong dengan sesama.

dan semua jadi lebih indah dan menyenangkan, masa depan yang tidak pasti adalah sebuah petualangan. namun petualangan yang menyenangkan karena layaknya asuransi, ada tuhan yang menjaga dan melindungi hidup kita.

jadi mau tahun naga, tahun ular, atau tahun apapun juga, datanglah! and let's cherish this life!

Thursday, November 22, 2012

para pilihan yang menemani

sejauh mata memandang, hamparan menghijau yang membentang
di pucuk cakrawala sana, ada kabut abu-abu menggantung diam - mungkin itu polusi, atau mendung menunggu untuk menurunkan hujan
ruangan ini putih dan kosong, dari dinding, pintu, jendela, sampai satu-satunya kursi yang aku duduki, putih dan kosong..tidak ada lagi barang lain yang aku temui



"namaku kecerdasan.." satu suara memecah keheningan. aku akan menemanimu dengan ilmu dan pengetahuan, kau akan mengerti hal-hal besar yang terjadi di alam. orang akan mencarimu untuk bertanya tentang semua hal yang mereka tidak mengerti. bersama kita akan menjadi yang cendekia, menguasai jaman..

hujan mulai turun, rintik kecil air dalam gerimis menghapuskan kabut abu-abu
hamparan hijau itu mulai basah dan lebih merekah

"aku adalah yang rupawan.." sebuah suara lain memecah diam ku. orang-orang senang dekat denganku karena kekaguman yang mereka rasakan, keinginan untuk menjadi sepertiku. aku akan menghiasmu dengan keelokan sehingga tak jenuh semua mata yang memandang. bersamaku kita akan menjadi permata dunia yang selalu dibicarakan orang..

ruangan putih ini terasa lebih dingin saat hujan di luar
mungkin karena kosong sehingga dingin lebih leluasa menyergap dan memeluk erat

"aku adalah penerimaan..." lembut suara menyahut dari dekat jendela yang terbuka. orang setia bersamaku karena kenyamanan yang mereka dapatkan. aku memahamimu untuk semua hal yang engkau putuskan dan engkau lakukan, semua yang terjadi dan akan kau alami nanti. engkau akan tenang bersamaku karena aku mengerti - biarpun jaman terus berganti...

aku terhenyak saat kemudian muncul banyak suara lain yang mengikuti: kesabaran, penyerahan diri, nafsu, integritas, dan begitu banyak bermunculan.
suara-suara yang membentuk aura berputar mengelilingiku, menunjukkan keindahan masing-masing, menanti untuk ditarik dan dipeluk dalam ruangan putih kosong ini.

berapa lama kau bisa bertahan?! teriakku memecah sepi, membuncahkan emosi.

namun tak ada yang menjawab lagi, beberapa tersenyum, beberapa melengos, atau mengerling dalam tatapan yang tak pasti.

dan tanganku tak cukup lebar untuk memeluk mereka semua, seiring waktu yang berputar..



Wednesday, October 26, 2011

suatu hari yang temaram, selepas senja rembang petang

di suatu hari yang temaram, selepas senja rembang petang
ada diam yang digenggam, tidak tau kemana arahnya
ada sepi yang melingkupi, walau di luaran pekak keramaian
ah tidak semuanya ramai, ada juga tenang dalam peristirahatan

di suatu hari yang temaram, meski dimulai pagi yang berseri
matahari menyengat terik, tak peduli kemana arahnya
orang-orang mengusahakan kemanusiaannya, dibawah langit yang sama
ada hedon, ada compassion, tanggungjawab, bela rasa, kewajiban
di setiap hari, cerita-cerita silih berganti

saat siang begitu berkuasa, dan muntahan cahaya begitu bebasnya
saat semua hal dilakukan atas nama kewajiban
emosi-emosi dicurahkan dalam rona-rona yang berkeliaran
terkadang liar, terkadang banal, tidak mengerti apa itu kesopanan

lihat siang di sini bisa begitu cerahnya, udara terasa hangat
siang di sana mungkin berkabut, awan hitam menutupi langit seakan petang menjelang
siang yang lain mungkin sudah hujan, dingin udara, dingin di hati
siang bisa berbeda beda, kadang menggembirakan bagi beberapa orang, sakit untuk yang lainnya

di suatu hari, urutan waktu tak pernah berganti
ada siklus yang seakan sudah menjadi aturan alam yang harus dipatuhi
jika itu berubah, kiamat namanya. saat kita mempertanggungjawabkan semua hal yang dilakukan

namun di suatu hari, sebuah asa bisa berganti-ganti
layaknya permainan dadu seorang penjudi, kadang yang ada hanyalah keuntungan
kita untung jika semua hal menjadi baik dan indah, mudah dan menyenangkan
namun sering, keuntungan hanyalah khayalan yang hanya ada dalam impian

apakah suatu hari akan abadi, mampukah kita menahannya
hari pasti berganti, jika malam menutupnya, mengantarkan pada peraduan dalam sepi
di suatu hari yang temaram, selepas senja rembang petang
ada diam yang digenggam, ada bayangan yang berkeliaran

di hari ini: perasaan, angan, dan impian mengaburkan batasannya



Thursday, October 13, 2011

kesombongan tak pernah menghasilkan kesempurnaan

sudah lama aku menginginkan sertifikasi ini, selain menambah pengetahuan juga bisa melengkapi expertise yang aku punya dalam pekerjaan. sertifikasi terakhir yang aku miliki di tahun 2008, sebelum aku memilih meneruskan kuliah lagi, sesudah lulus baru terpikir untuk kembali mengambil program-program sertifikasi yang aku perlukan. maka ketika ada kesempatan dan biaya, aku memutuskan untuk belajar lagi dan mengambil ujian sertifikasi. untunglah proses belajar nya bisa berjalan dengan lancar. ada web training juga di kantor yang bisa aku gunakan untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan sebelum ujian. ketika tiba saat ujian sertifikasi, aku berangkat dengan yakin. sudah satu minggu aku tidak nonton televisi setelah pulang kerja karena aku gunakan untuk belajar demi ujian ini (salah satu yang diajarkan ibuku sejak kecil dulu adalah waktu belajar apalagi mau ujian jangan nonton tv sesudahnya, karena nanti yang dipelajari akan hilang. ingatannya tergantikan oleh acara televisi yang ditonton. jadi habis belajar langsung tidur biar besoknya bangun segar dan masih ingat semua yang dipelajari) rasanya persiapanku sudah lengkap semua, maka aku masuk ruang ujian dengan percaya diri. waktu ujiannya satu jam, ada 40 soal dan pilihan ganda. bagiku ini menguntungkan karena at least ada pilihan jika mau ngawur jawab, walaupun di lain pihak bisa membingungkan juga jika tidak tahu. begitu membaca sekilas soal-soalnya aku tersenyum lebar, rasanya pertanyaannya mudah dan sudah aku pelajari semua. langsung aku kerjakan semua soal itu dengan yakin. tidak butuh waktu yang lama, hanya sekitar 15 menit aku sudah bisa menyelesaikan menjawab semua soal itu. ah pasti dapat 100 ini pikirku dengan yakin karena semua soal aku jawab dengan percaya diri. tanpa menunggu lama langsung aku submit semua jawabanku tanpa terpikir untuk memeriksa nya lagi dari depan satu demi satu (hal lain yang diajarkan orang tua ku saat ujian, kalau sudah selesai, jangan buru-buru, jika masih ada sisa waktu periksa lagi dari depan untuk memastikan semua soal sudah dijawab dan dikerjakan dengan benar). langsung aku keluar ruangan, menuju ke ruang reception dengan senyum lebar, "mbak saya sudah selesai". "oh cepat sekali pak" kata mbak reception itu "sebentar yah saya check dulu, hasil nyua bisa langsung dilihat kok pak, lulus atau tidaknya". tidak berapa lama dia online lalu hasilnya di print, "selamat yah pak, sudah lulus!, ini hasilnya" katanya sambil menyerahkan print hasil ujian kepadaku. senyumku masih lebar saat menerima kertas itu lalu aku melihat hasilnya, damn! hasilnya tidak perfect! lalu aku teringat ada dua atau tiga soal yang sepertinya ada jawaban yang ragu karena pilihan jawabannya semuanya nampak benar. aku langsung menyesal kenapa aku buru-buru yah, tidak aku check lebih dahulu. ini sama dengan saat EBTANAS Matematika SD dahulu ada satu jawaban yang salah karena aku tidak check. Sudah aku perbaiki dengan sempurna saat SMP dulu kesalahannya tapi sekarang aku ulang kembali. telo! telo! menyesal rasanya, karena bayaran dan usaha belajar yang sudah aku lakukan jadi kurang optimal karena terlalu percaya diri dan tidak memeriksa lagi. sorenya aku cerita ke orang tuaku aku mengulang kesalahan yang sama lagi dengan dulu, sambil tersenyum mereka bicara di telefon "memang kesombongan itu membuat jatuh to le, yo wis makanya lebih hati-hati ke depan. sekarang ya sudah yang penting lulus toh, hasilnya juga bagus kok" terlepas dari soal perfeksionis dan lama ngga ujian sehingga lupa best practice-nya, saya disadarkan lagi bahwa kesombongan memang tidak akan membuahkan hal-hal baik untuk dinikmati, tidak pernah ada kesempurnaan yang dihasilkan karena kesombongan. hanya keterbukaan dan kerendahan hati yang membuat kita bisa menerima dan melakukan banyak hal, berujung pada kebaikan, dan hal-hal yang lebih baik lainnya. semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, saya dan anda...

Sunday, July 24, 2011

waktu tak pernah menunggu

"
Hidupku dalam keadaan koma,
kosong seperti hidup Adam di Surga,
ketika aku melihat Selma berdiri di hadapanku seperti berkas cahaya.
Perempuan itu adalah Hawa hatiku yang memenuhinya dengan rahasia dan keajaiban
dan membuatku paham akan makna hidup…………….

Namun,
sekarangkah saatnya kehidupan akan memisahkan kita agar engkau bisa memperoleh keagungan seorang lelaki
dan aku kewajiban seorang perempuan?

Untuk inikah maka lembah menelan nyanyian burung bul-bul ke dalam relung-relungnya,
dan angin memporakporandakan daun-daun mahkota bunga mawar,
dan kaki-kaki menginjak-injak piala anggur?
Sia-siakah segala malam yang kita lalui bersama dalam cahaya rembulan di bawah pohon melati,
tempat dua jiwa kita menyatu?

Apakah kita terbang dengan gagah perkasa menuju bintang-bintang hingga lelap sayap-sayap kita,
lalu sekarang kita turun ke dalam jurang?
Atau tidurkah cinta ketika ia mendatangi kita, lalu, ketika ia terbangun, menjadi marah dan memutuskan untuk menghukum kita?

Ataukah jiwa-jiwa kita mengubah angin malam yang sepoi menjadi angin ribut yang mengoyak-ngoyak kita menjadi berkeping-keping dan meniup kita bagai debu ke dasar lembah? Kita tak melanggar perintah apa pun; kita pun tak mencicipi buah terlarang; lalu apa yang memaksa kita meninggalkan sorga ini?

Kita tidak pernah berkomplot atau menggerakkan pemberontakan, lalu mengapa sekarang terjun ke neraka? Tidak, tidak, saat-saat yang menyatukan kita lebih agung daripada abad-abad yang berlalu, dan cahaya yang menerang jiwa-jiwa kita lebih perkasa daripada kegelapan; dan jika sang prahara memisahkan kita di lautan yang buas ini, sang bayu akan menyatukan kita di pantai yang tenang, dan jika hidup ini membantai kita, maut akan menyatukan kita lagi.

Hati nurani seorang wanita tak berubah oleh waktu dan musim; bahkan jika mati abadi, hati itu takkan hilang murca. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah jadi medan pertempuran; seudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi karena musim semi dan musim gugur datang pada waktunya dan memulai pekerjaannya…

---------------------------------------
“Guru, bagaimanakah perihal Waktu?”

Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat anak sungai, di mana atas tebingnya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesedaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok adalah harapan dan impian utk hari ini.
Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas, terkandung di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?

Tapi jika di dalam fikiranmu baru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkumi semua musim yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan."
-----------------------------

kedua tulisan di atas milik Gibran. siapa yang tidak kenal dengan Sang Kahlil ini yang karya-karyanya menjadi inspirasi bagi semua orang yang membacanya. kisah cintanya dengan Mary Haskell (yang dituangkan dalam sayap-sayap patah, untuk Selma Karami) yang bertahan sampai akhir hidupnya...

dan menjelang dini hari ini, Gibran memberi pelajaran kepadaku. mengajarkan aku untuk menggunakan semua waktu yang masih aku punya, dengan sebaik mungkin, tanpa ada kesia-siaan...

kata-kata tidak pernah cukup untuk menjelaskan, atau mengurai apa yang ada dalam pikiran atau perasaan..
satu hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua, dan juga kepada diriku sendiri: untuk semua hal baik yang ingin kalian lakukan, untuk semua cinta yang ingin kalian bagikan, untuk semua impian yang ingin kalian wujudkan. kerjakan sekarang dan jangan tunda lagi, karena waktu tak pernah menunggu...

"Jemariku lembut bermain pada jendela-jendela kaca
Dan berita yang kubawa membawa bahagia,
Semua orang dapat mendengarnya, namun hanya yang peka, dapat memahami maknanya."
(Kahlil Gibran - Nyanyian Hujan)

Thursday, July 21, 2011

jujur pada diri sendiri

saya suka dengan samuel mulia, kolumnis kompas yang setiap hari minggu muncul dengan tulisan-tulisannya yang menggelitik dan selalu menarik. menggelitik karena apa yang ditulisnya itu sebenarnya adalah potret kehidupan harian kita. menarik karena beliau menulis tanpa melukai, kenapa bisa begitu? samuel mulia mengajar melalui dirinya sendiri..tanpa malu dia buka kekurangannya, perasaan dan keinginan yang sangat manusiawi dalam segala positif dan negatifnya; untuk kemudian dia tertawakan dan kritik dirinya sendiri..yang membuat kita nyaman, dan belajar tanpa merasa diserang..

seperti samuel mulia, saya mencoba untuk menelanjangi diri sendiri dan kemudian berani menertawakan serta menceritakannya pada semua orang. bukan sebagai pemenuhan narsistis, tapi semoga bisa menjadi bahan permenungan. atau at least bacaan pengisi waktu luang.

sebagai pemegang kekuasaan tertinggi egositas dibandingkan semua makhluk lain, keinginan untuk selalu aman dan nyaman serta terlihat baik dan sempurna tanpa cacat selalu menjadi bagian dan kebutuhan mendasar dalam hidup saya.
kecenderungan itu yang membuat saya menjadi memilih-milih untuk bergaul dan lebih akrab dengan orang-orang yang satu ide atau punya kesamaan. ada rasa tidak aman di antara lingkungan orang-orang yang berbeda entah itu idealisme, cara pandang, pemikiran. apalagi jika saya tahu mereka tidak suka atau memusuhi saya.
perilaku ini yang membatasi pergaulan. sehingga mudah mengelompokkan orang dalam hitungan sahabat, teman dekat, teman biasa, teman yang harus dihindari, atau bahkan saingan dan lawan. tendensi yang ada ini kemudian diwujudkan melalui pengaruh, kekuasaan, dan apapun yang bisa dilakukan untuk membuat lingkungan turut dan sesuai dengan keinginan. supaya saya menjadi lebih nyaman ada di dalamnya..

untuk selalu terlihat baik dan sempurna tanpa cacat, saya sering menggunakan topeng-topeng yang bisa dipakai. entah itu kesopanan,keramahan, dan segala hal lain yang bisa membuat orang menjadi lebih suka dan nyaman di dekat saya.
sering jika ada masalah yang terpikirkan pertama kali adalah bagaimana bukan saya yang dipersalahkan tapi orang lain yang harus bertanggung jawab. alih-alih menghadapi secara kesatria, saya cenderung untuk melarikan diri dari masalah dan meninggalkannya tidak terselesaikan atau membuat orang lain menjadi korban.

dan sama seperti layaknya manusia yang berakal budi, saya juga sering sekali sadar akan kondisi ini. mencoba untuk mulai berubah dan menjadi lebih baik dalam semua hal. walaupun seringnya akan kembali jatuh dalam lubang yang sama untuk kemudian menyalahkan lagi semua orang selain diri saya sendiri. bahkan tuhan pun saya tempatkan dalam posisi yang berlawanan karena tidak memihak saya sepenuhnya.

tulisan ini tidak akan di akhiri dengan kesimpulan apapun, sama seperti tulisan samuel mulia yang sering kita jumpai terus setiap minggu, saya juga akan terus mencoba mencari tahu semua hal pada diri saya yang bisa saya tertawakan dan kritisi. tanpa harus muluk-muluk berjanji untuk berubah dan menjadi lebih baik, saya hanya akan jalani hidup ini semampu yang saya bisa. apapun adanya.
jika ada yang bisa diperbaiki dan dilakukan serta bermanfaat, so be it. jika ada kesalahan yang terulang dan dilakukan lagi, yah saya memang masih manusia.
tapi proses penyadaran dan pembelajaran ini, yang semoga menjadi milik kita semua. untuk tidak pernah puas dengan apa yang ada pada kita saat ini, meskipun kita sudah baik, atau terlihat baik, atu berusaha kita buat supaya terlihat baik..

perlu untuk sejenak melepaskan topeng-topeng yang selalu saya pakai ini, untuk melihat diri saya sendiri sebenarnya dan seutuhnya.

jujur saja pada diri kita masing-masing, jujur pada saya sendiri, tentang semua kelemahan saya, tentang semua hal buruk yang mesti saya ubah dan saya perbaiki jika waktu masih berpihak dan bersama hidup ini. sehingga setiap hari tidak akan menjadi hari yang terlewat dengan sia-sia...

salam...

Tuesday, June 21, 2011

berdiri menghadap fatamorgana

berlari dengan dada membusung dan wajah tengadah
tangan terkembang sorakkan pekik kemenangan
siang terasa panjang, dalam jelasnya cahaya yang menyinari

kadang bergerak pun terasa enggan
peluh yang bercampur dengan debu, kadang luka dan darah yang mengering
tatap mata yang menyelidik seakan bertanya kau kenapa
namun diam tak mau menyapa
bahkan bulan pun sembunyi di balik awan
desahan setan seakan menunggu datangnya kesempatan

mencari sebentuk bantuan, apakah itu diperlukan
menghapus seberkas tulisan berbunyi tuhan
lalu berjalan, kadang tertatih, tapi tetap tegak mencoba terlihat

tanggalkan kepala, meneliti kenapa ada mimpi-mimpi jahanam yang tertanam
saat yang terjadi seharusnya pelangi terang, dan suara desau angin di ujung lembayung senja
betapa sulit diurai satu per satu. yang ada kemudian pasrah, dan menyerah pada keadaan.
tapi mata yang nyalang itu menandakan semangat belum padam
belum mati, masih ada yang harus dikejar, harus dilakukan

satu persatu tiap pribadi berpelukan
sebisa mungkin semua diajak bersalaman, kenapa menabur kebencian
kenapa memupuk benih benih kecurigaan? bukankah penat menuai permusuhan

melihat ke depan, menjangkau lebih dari yang cakrawala
berdiri di depan jalan membentang
apakah itu fatamorgana, saat terlihat ada air yang menggenang di jalanan
ah lihatlah
jalanan masih memantulkan butir-butir pengharapan

langit mungkin berganti merah saga dan kemudian temaram
sang malam mungkin merengkuh disaksikan dewi bulan
apakah ada fatamorgana di waktu malam?
ataukah semaian impian kosong dalam jalan keterpurukan
sisihkan kepercayaan atau iman. seperti lagu yang meninabobokkan
tapi kemudian hilang saat bangun dalam kesadaran

tidak, ini belum berhenti
masih banyak kisah-kisah harus digambarkan
tarian tarian pagi, yang menggelinjang bersemangat dalam terik siang
kemudian menggeliat dalam sore yang temaram sebelum akhirnya beristirahat
dalam peraduan malam
masih ada banyak cerita untuk dituturkan. pribadi-pribadi yang menemani
kadang datang dan pergi dalam peziarahan. beberapa menemani untuk saling berkembang

tak ada yang sama,
kebodohan, keberhasilan, kegagalan, senyum kemenangan
kenapa melekatkan diri pada yang akan terhilang

sementara fatamorgana memantulan butiran-butiran peristiwa
yang tak pernah terkirakan...

invictus - yang tak terkalahkan

Wednesday, June 15, 2011

bagi jiwa bebasku aku adalah kapten jiwaku

saya mendapat cerita tentang film bagus malam ini.
judulnya adalah invictus, artinya yang tak terkalahkan...
bercerita tentang memaafkan, seorang leader visioner yang memampukan kelompoknya melakukan sesuatu melebihi kemampuan dirinya.

ada cuplikan menarik dari film itu: Apapun Tuhan jadikan aku, aku kedepankan syukurku, sebab jiwaku yang tak terkalahkan. Bagaimana menyeberang rintangan aku takkan risau. Akulah penentu sendiri takdir hidupku. Bagi jiwa bebasku, aku adalah kapten jiwaku.

saya tidak ingin membahas tuhan malam ini.

bagi saya, invictus dan quote terakhir di atas memberikan semangat tersendiri: bagi jiwa bebasku, aku adalah kapten jiwaku..
siapa yang bisa membelenggu jiwa yang bebas. hidup kita bisa dikendalikan oleh pikiran, perasaan ketakutan atau emosi-emosi yang berlebihan. tubuh fisik bereaksi terhadap kondisi pikiran dan perasaan.
tapi jiwa tak bisa dikekang. jiwa yang bebas, menarikan tariannya sendiri di jalan-jalan kehidupan. dan kita, diri kita sendiri, adalah pemimpin dan empunya jiwa bebas itu.
saya seakan disadarkan kembali bahwa kelekatan terhadap semua hal di dunia, penyesalan, kepuasan, kesombongan, kesedihan, dan semuanya itu tidak akan bisa menghalangi tarian jiwa yang ingin mengisi kehidupan ini dengan penuh, dan utuh.

dan bagi jiwa bebasku, aku adalah kapten jiwaku...

Wednesday, June 1, 2011

everything will be fine...

everything will be fine, itu salah satu quote dari film terakhir yang saya tonton sekitar 3 minggu yang lalu. dan seorang teman berkata hal yang sama: "before, i was thinking that everything will be OK. Now I am saying, everything may not always be OK, but it will be fine, it goes better"

kemarin di akhir bulan mei saya pulang ke jogja dengan membawa bermacam perasaan: antara semangat karena sebentar lagi saya akan menyelesaikan salah satu tugas belajar saya, dengan perasaan bahwa saya tidak cukup baik mempersiapkan diri untuk menghadapinya. kesibukan kerja yang sangat menyita waktu, pikiran, dan emosi saya membuat saya tidak sempat belajar dengan sungguh menghadapi ujian sidang saya kali ini.

gerimisnya jogja di waktu malam ketika saya landing itu belum mampu mendinginkan perasaan saya. biasanya saya selalu tenang dan sangat menghayati suasana kota ini. suasana yang selalu menarik saya untuk rindu dan kembali padanya.
tapi malam kemarin kecemasan saya terus berlanjut. memang dua minggu terakhir setelah mendapatkan jadwal sidang saya berusaha semaksimal mungkin untuk mengambil waktu belajar, membuat presentasi, dan terus memperbaikinya. tapi saya merasa belum cukup. malam hari kemarin di rumah saya juga tidak punya cukup waktu karena bapak ibu kemudian membuat saya hanyut dalam percakapan panjang setelah lama tidak pulang.

tapi saya sungguh beruntung. saya didukung oleh banyak orang yang memberikan perhatian, semangat, bantuan, dan dukungan bahwa saya mampu melewatinya. "mas, ini hanya salah satu dari sekian banyak presentasi yang pernah kamu lakukan. you will be great. it's not about the song, it's the singer". "aku percaya kamu mampu melakukannya, kamu hebat!" dan masih banyak lagi perkataan dan dukungan yang saya terima. beberapa orang membantu memeriksa presentasi saya dan memberikan saran-saran yang sangat bermanfaat. orang tua saya bahkan berdoa novena untuk saya.

dan tadi sore, dengan semua dukungan, perhatian, dan bantuan yang diberikan itu. saya berhasil melewatinya. saya lulus dengan nilai A untuk Thesis dengan tanpa revisi. Nilai akhir saya Cum Laude.
Bagi orang lain ini mungkin hal yang biasa, dan saya juga tidak bermaksud untuk menyombongkan pencapaian ini kepada siapapun. at least saya lega bahwa apa yang saya mulai dua tahun lalu bisa selesai dan tidak sia-sia puluhan juta rupiah yang saya keluarkan selama ini (jumlah yang tidak sedikit untuk saya sekarang).

Bagi saya, malam ini saat refleksi, saya memaknai ini menjadi dua hal:
1. bahwa cinta, perhatian, bantuan, dan dukungan dari orang-orang terdekat kita, dari teman dan sahabat di sekitar kita, sungguh merupakan satu kekuatan yang akan memampukan kita menghadapi apapun. yang akan menegakkan kaki kita saat berdiri dan membawa kita melewati semua hal yang harus dihadapi.
2. bahwa semua masalah dan kesulitan yang kita hadapi tidak akan berlangsung selamanya. akan ada saatnya kita melewatinya. mungkin tidak selalu mulus dan OK, akan tetapi it will get better, it will be fine. kita akan mampu melaluinya

jadi saat anda membaca tulisan ini, bermurah hatilah; karena dukungan, perhatian, cinta, dan bantuan yang anda sebarkan pada siapapun akan menjadi kekuatan bagi mereka menapaki jalan-jalan kehidupan ini.
dan jika saat ini anda merasa bahwa beban hidup yang ditanggung sangat berat dan terasa sulit diterima, yakinlah, ini hanya sementara. everything will be fine, karena kehidupan akan terus berjalan bersama kita.

bahagialah kawan! dan bermurah hatilah!
salam sayang,
wisnu