TUJUH CAHAYA NUSANTARA
Bab Dua — Yang Hilang dari Pak Sangka
Yang berteriak ternyata Pak Sangka.
Mala mengenalnya sejak ia masih digendong. Pak Sangka
adalah nelayan paling ahli di Lemuru. Orang bilang ia bisa menemukan ikan hanya
dengan mencium angin, dan bisa pulang dalam gelap pekat hanya dengan mendengar
bunyi ombak yang memecah di karang tertentu. Setiap subuh, perahunya yang
bercat biru sudah lebih dulu menghilang ke laut, dan setiap senja, perahu itu
kembali dengan jaring penuh, dan Pak Sangka akan melambai ke arah mercusuar
sambil berseru, “Terima kasih cahayanya, Pak Tua!” kepada Kakek. Itu adalah
salah satu suara paling tetap di pulau, setetap ombak.
Tetapi pagi ini, Pak Sangka berdiri di tengah jalan
kampung, basah kuyup, sambil memandang rumah-rumah dengan tatapan kosong. Air
laut menetes dari ujung sarungnya. Beberapa tetangga sudah mengerumuninya, dan
makin banyak yang berdatangan, terbangun oleh teriakannya.
“Yang mana rumah saya?” tanya Pak Sangka. Suaranya
bergetar. “Tolong… tolong tunjukkan, yang mana rumah saya.”
Mala dan Kakek mendekat, menembus kerumunan. Istri Pak
Sangka, Bu Lina, sudah berdiri di depan suaminya sambil menggenggam kedua
tangannya, air matanya mengalir.
“Ini saya, Bang,” kata Bu Lina. “Ini Lina. Abang tidak
ingat?”
Pak Sangka menatap wajah istrinya lama sekali. Mala
melihat usaha di mata lelaki itu — usaha yang menyakitkan, seperti orang yang
meraba-raba di dalam gelap mencari benda yang baru saja dipegangnya. Bibirnya
bergerak, seakan hendak menyebut sebuah nama, lalu berhenti. Akhirnya bahu Pak
Sangka turun, dan ia menggeleng.
“Maaf,” bisiknya. “Maaf. Saya… saya rasa saya tahu wajah
ini. Wajah ini baik. Wajah ini pernah membuat saya bahagia. Tetapi saya tidak
bisa menemukan namanya. Seperti ada lubang. Seperti ada lubang di tempat yang
seharusnya berisi.”
Kerumunan terdiam. Mala merasakan ketakutan menjalar
dari orang ke orang, sehalus dan secepat kabut. Sebab semua orang di kampung
itu tahu betapa Pak Sangka mencintai istrinya — bagaimana setiap pulang melaut
ia selalu menyisihkan ikan yang paling bagus untuk Bu Lina, bagaimana mereka
berdua sering duduk di dermaga sampai bintang keluar. Kalau ingatan tentang Bu
Lina saja bisa hilang dari kepala Pak Sangka, ingatan apa lagi yang aman?
Kakek melangkah maju dengan tenang. Ia meletakkan tangan
di bahu Pak Sangka, dan tangan tua itu, walau keriput, terasa kokoh.
“Sangka,” katanya. “Dengar suara Kakek. Tadi malam kau
melaut. Kau ingat melaut?”
Pak Sangka mengangguk pelan. “Itu… itu saya ingat. Laut.
Bintang. Lalu…” Ia mengernyit, mencengkeram dadanya sendiri. “Lalu
bintang-bintangnya seperti padam. Bukan tertutup awan — saya tahu bedanya awan
dan padam. Ini padam. Dan tiba-tiba saya tidak tahu lagi laut yang mana yang
menuju pulang. Semua air terlihat sama. Semua gelap terlihat sama. Saya
mendayung asal saja sampai pagi, sampai perahu menabrak pasir. Dan ketika saya
naik ke darat, kampung ini… kampung ini terasa seperti tempat yang belum pernah
saya datangi seumur hidup.”
“Lalu kau lupa nama istrimu,” kata Kakek.
“Lalu saya lupa nama istri saya,” ulang Pak Sangka, dan
ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang masih bau garam dan ikan.
Mala merasa ada yang mencengkeram dadanya. Ia ingin lari
pulang dan bersembunyi di balik selimut, seperti yang dulu ia lakukan pada
malam-malam pertama setelah Mama tiada. Tetapi ia juga tahu, sembunyi tidak
akan menolong siapa pun. Mama tidak pernah sembunyi dari apa pun.
Kakek menoleh kepada para tetangga. Suaranya tidak
keras, tetapi semua orang mendengarnya, sebab di Lemuru, kalau penjaga
mercusuar bicara, orang mendengar.
“Bawa Sangka ke rumahnya. Lina, duduklah di dekatnya.
Ceritakan kepadanya hal-hal kecil — di mana ia biasa menyimpan kailnya, lagu
apa yang ia senandungkan saat memperbaiki jaring, nama anjing kecil kalian.
Jangan paksa ia mengingat sekaligus. Tetapi jangan biarkan ia sendirian dengan
lupanya.” Kakek menatap mereka satu per satu, mata tuanya singgah di tiap
wajah. “Itu yang paling penting. Apa pun yang terjadi mulai hari ini, dan
banyak hal akan terjadi, ingatlah satu hal ini: jangan biarkan siapa pun
sendirian dengan lupanya.”
Para tetangga menuntun Pak Sangka pulang, Bu Lina
memapahnya, suaranya yang lembut mulai menceritakan hal-hal kecil — tentang seekor
anjing belang yang pernah mereka pelihara, tentang hujan pertama setelah mereka
menikah. Sebelum pergi, Pak Sangka berhenti di depan Mala. Ia menatap gadis
kecil itu dengan mata yang bingung, lalu sesuatu seperti pengenalan samar
berkelebat di sana.
“Aku kenal kau,” katanya perlahan, seolah menemukan satu
kepingan yang masih utuh di tengah reruntuhan. “Kau anak penyanyi itu. Anak Bu
Lendra. Yang suaranya seperti…” Ia mencari kata. “Seperti cahaya.”
Sesuatu menusuk di dalam dada Mala. Mama. Sudah dua tahun,
dan masih saja nama itu sanggup membuatnya kehabisan napas, seperti ombak yang
datang dari belakang ketika kita sedang memandang ke arah lain.
“Iya, Pak,” jawab Mala, nyaris tak terdengar. “Saya anak
Bu Lendra.”
“Ibumu masih suka menyanyi?”
Mala membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ia hanya menggeleng. Ia tidak mengatakan bahwa Mama sudah tiada. Ia juga tidak
mengatakan bahwa ia sendiri pun sudah lama berhenti menyanyi — bahwa lagu-lagu
Mama kini terkunci di suatu tempat di dalam dirinya, di balik pintu yang
sengaja tidak pernah ia buka, karena setiap kali ia mencoba, rasa sakitnya
terlalu besar, seperti membuka jendela ke arah badai.
Pak Sangka mengangguk samar, tidak mengerti, lalu
dituntun pergi.
Mala dan Kakek berdiri berdua di jalan yang mulai sepi.
Matahari sudah naik, tetapi sinarnya tetap terasa pucat.
“Kek,” kata Mala. “Apa yang sedang terjadi? Sebenarnya?”
Kakek memandang ke arah mercusuar, yang berdiri putih
dan tenang di atas bukit karang, seperti penjaga yang tidak pernah tidur. Lalu
ia memandang Mala, dan untuk pertama kalinya Mala melihat sesuatu yang belum
pernah ia lihat di wajah Kakek sepanjang hidupnya.
Ketakutan.
“Ikut Kakek,” kata Kakek. “Ada sesuatu yang harus kau
lihat. Sesuatu yang sudah menunggumu lebih lama daripada yang kau kira.”
No comments:
Post a Comment