Friday, July 10, 2026

TUJUH CAHAYA NUSANTARA


Bab Satu — Mercusuar Lemuru

Setiap pagi, sebelum matahari berani naik, Mala sudah berada di puncak mercusuar.

Ia menyukai jam itu. Jam ketika langit masih kelabu dan laut belum memutuskan akan berwarna apa. Untuk sampai ke puncak, ia harus menaiki seratus dua puluh tiga anak tangga batu yang melingkar — Mala sudah menghitungnya sejak umur lima tahun, dan ia hafal tiap-tiap anak tangga yang bunyinya mengerit, tiap-tiap tikungan tempat dinding terasa lembap dan dingin di telapak tangan. Di pagi buta, ia bisa menaikinya sambil memejamkan mata, dan ia sering melakukannya, sekadar untuk membuktikan bahwa kakinya lebih hafal mercusuar ini daripada kepalanya.

Dari puncak Mercusuar Lemuru, Mala bisa melihat seluruh pulaunya sekaligus: deret rumah panggung di tepi teluk, perahu-perahu yang ditambatkan miring di pasir, jalan setapak yang berkelok ke kebun pisang dan kebun singkong, dan di kejauhan, garis tipis tempat laut bertemu langit. Pulau Lemuru tidak besar. Orang bilang, kalau berjalan kaki dari ujung ke ujung, seekor ayam pun tak sempat bertelur dua kali. Tetapi bagi Mala, pulau ini adalah seluruh dunia. Di sinilah ia lahir. Di sinilah ia belajar berjalan, di lantai batu mercusuar yang dingin. Dan di sinilah, dua tahun lalu, ia berdiri di pantai sampai pagi, menunggu sebuah perahu yang tidak pernah kembali.

Di sampingnya, lampu besar mercusuar masih menyala. Nyalanya berputar pelan di dalam kaca yang berlapis-lapis, melempar seberkas cahaya jauh ke laut, lalu kembali, lalu pergi lagi, seperti seseorang yang sabar memanggil pulang. Mala mengusap kaca itu dengan kain. Itu tugasnya tiap pagi — membersihkan jelaga tipis yang menempel semalam, supaya cahaya tetap bening. Ia mengelapnya melingkar, perlahan, dan sambil bekerja ia mengamati wajahnya sendiri yang samar terpantul di kaca: anak perempuan dengan rambut diikat asal, mata yang menurut Kakek mirip mata ibunya.

“Cahaya yang baik,” kata Kakek dahulu, “bukan cahaya yang paling terang. Tetapi cahaya yang paling setia. Yang tetap menyala walau tak ada yang melihat.”

Kakek tahu banyak kalimat seperti itu. Ia menjaga mercusuar ini sejak masih muda, seperti ayahnya dahulu, dan ayah dari ayahnya. Keluarga Mala adalah keluarga penjaga cahaya. Itu bukan pekerjaan yang membuat orang kaya. Minyak lampu harus dijatah, kaca harus dijaga dari karat garam, dan pada musim badai Kakek bisa tidak tidur berhari-hari, memastikan nyala tidak padam. Tetapi setiap kali ada perahu nelayan yang tersesat di malam berkabut dan akhirnya menemukan jalan pulang karena melihat cahaya Lemuru, ada sesuatu yang menghangat di dada Mala. Sesuatu yang lebih baik daripada kaya.

Mala melipat kainnya dan bersandar pada pagar besi yang dingin. Angin pagi membawa bau garam dan bau minyak lampu. Di bawah, ombak menjilat batu karang dengan suara yang sudah ia hafal sejak bayi — suara yang oleh Mama dulu disebut “napas pulau”. Mala menarik napas pelan, ikut bernapas bersama pulaunya.

Dahulu, ketika Mama masih ada, malam-malam di Lemuru terasa berbeda.

Setiap malam, sebelum tidur, Mama naik menemui Mala di kamar kecil di kaki mercusuar — kamar yang dindingnya selalu sedikit bergetar oleh dengung lampu di atas. Mama duduk di tepi dipan, menyelimuti Mala sampai ke dagu, lalu bercerita. Ia tidak pernah membaca dari buku; cerita-cerita itu ada di kepalanya, diwariskan dari ibunya, dan dari ibu sebelum ibunya. Mama menceritakan tentang ikan raksasa yang menelan bulan lalu memuntahkannya kembali tiap pagi, tentang putri laut yang menukar sisiknya dengan sepasang kaki demi menari satu malam di darat, tentang penjaga mercusuar pertama di Lemuru yang konon menyalakan lampunya dengan nyanyian, bukan dengan minyak. Suara Mama bisa berbisik sampai Mala mencondongkan telinga, lalu tiba-tiba melonjak sampai Mala terpekik lalu tertawa, dan setiap kali Mala merasa cerita itu ditujukan hanya untuknya seorang.

Suatu malam, ketika hujan menampar jendela dan ombak terdengar marah di bawah, Mala kecil bertanya kenapa Kakek dan Mama harus repot-repot menjaga lampu itu tetap menyala, padahal mereka bisa tidur lebih nyenyak kalau membiarkannya padam sesekali.

Mama terdiam sebentar, mendengarkan badai. Lalu ia berkata, pelan, “Coba kau bayangkan ada perahu di luar sana malam ini, Kemala. Di tengah hujan seperti ini. Orang di dalamnya basah, takut, dan tidak tahu lagi mana arah darat. Lalu, jauh di kegelapan, ia melihat satu titik cahaya yang tidak menyerah. Cahaya kita.” Mama membelai rambut Mala. “Tugas penjaga mercusuar yang sebenarnya bukan menyalakan lampu, Sayang. Menyalakan lampu itu cuma caranya. Tugas kita yang sebenarnya adalah memastikan tidak ada seorang pun di laut yang merasa sendirian. Itu pekerjaan yang jauh lebih besar daripada lampu mana pun. Dan suatu hari nanti, itu akan menjadi pekerjaanmu juga.”

Lalu, seperti tiap malam, Mama mengajarinya satu lagu — lagu tentang perahu yang berlayar jauh dan selalu menemukan jalan pulang. Mereka menyanyikannya bersama, pelan, dua suara kecil di kamar kecil sementara badai mengamuk di luar, sampai Mala tertidur dengan lagu itu masih hangat di dadanya. Mama bilang lagu itu adalah cahaya milik Mala sendiri — cahaya yang bisa ia bawa ke mana saja, yang tidak butuh minyak, yang tidak akan pernah bisa dipadamkan badai mana pun, asal ia tidak pernah lupa menyanyikannya.

Lalu Mama pergi, di suatu malam badai seperti itu juga, dan tidak pernah kembali.

Dan sejak itu kamar kecil di kaki mercusuar menjadi sunyi tiap malam. Tidak ada lagi cerita sebelum tidur. Dan Mala, yang dulu menyanyikan lagu Mama tiap malam sampai tertidur, berhenti menyanyi sama sekali — sebab menyanyikan lagu itu berarti merindukan suara Mama yang seharusnya mengiringinya, dan ketiadaan suara itu lebih menyakitkan daripada diam. Maka Mala memilih diam. Ia menyimpan lagu itu rapat-rapat di suatu tempat di dalam dadanya, di balik pintu yang ia kunci, dan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia melakukannya supaya tidak sakit — tanpa menyadari bahwa mengunci sesuatu yang kita cintai supaya tidak terasa sakit adalah awal dari sejenis lupa yang lain.

Tetapi pagi ini ada yang berbeda.

Mula-mula Mala tidak tahu apa. Ia hanya merasa ada yang kurang, seperti ketika kita masuk ke kamar dan tahu ada benda yang dipindahkan, tanpa bisa menyebutkan benda apa. Ia menajamkan telinga. Ombak masih ada. Angin masih ada. Dengung samar lampu masih ada.

Lalu ia sadar.

Burung-burung tidak bernyanyi.

Biasanya, pada jam ini, langit di atas Lemuru penuh suara. Camar yang berebut ikan, burung-burung kecil yang ribut di pucuk kelapa, sepasang elang laut yang bersahutan dari karang. Pagi di Lemuru selalu riuh, seriuh pasar. Mama dulu suka berkata bahwa burung-burung itu sedang “bertukar kabar semalam”, dan kalau kita mau diam dan mendengarkan, kita bisa belajar bahasa mereka. Tetapi pagi ini, langit diam. Burung-burung itu tetap ada — Mala bisa melihat beberapa di kejauhan, hinggap di dahan — tetapi mereka diam saja. Tidak terbang. Tidak bersuara. Hanya duduk, seolah lupa bahwa mereka tahu cara bernyanyi.

Bulu kuduk Mala meremang.

“Kakek!” panggilnya, menuruni tangga melingkar mercusuar dua anak sekaligus. Tangan kanannya menyusuri dinding batu yang dingin, mengenali tiap tikungan dalam gelap. “Kakek, burung-burungnya —”

Ia menemukan Kakek di dapur, sedang menjerang air. Kakek menoleh, dan Mala langsung tahu bahwa Kakek pun sudah merasakannya. Wajah tua itu tidak terkejut. Wajah itu justru tampak seperti seseorang yang sudah lama menunggu kabar buruk, dan kini kabar itu tiba.

“Sudah Kakek dengar,” kata Kakek pelan. “Atau lebih tepatnya, sudah Kakek tidak dengar.”

“Mereka kenapa?”

Kakek tidak langsung menjawab. Ia menuang air panas ke dua cangkir tanah liat, satu untuknya, satu untuk Mala, lalu duduk di bangku kayu yang sudah mengilap karena bertahun-tahun diduduki. Uap mengepul di antara mereka, membawa bau jahe. Di luar jendela, laut tetap terlalu tenang, seperti cermin yang ditahan napasnya.

“Duduklah,” kata Kakek. “Ada cerita yang seharusnya sudah Kakek ceritakan sejak lama. Tetapi Kakek selalu berharap, kalau Kakek menundanya cukup lama, cerita itu tidak akan pernah perlu diceritakan.”

Mala duduk. Ia memeluk cangkirnya dengan kedua tangan. Hangatnya merambat ke jari-jarinya yang dingin oleh angin puncak mercusuar.

“Cerita apa, Kek?”

Kakek menatap keluar, ke arah cahaya pagi yang anehnya terasa lebih pucat dari biasanya. Warna-warna pulau — hijau daun, merah atap seng, biru perahu Pak Sangka — semuanya seperti diselimuti tipisnya kabut, padahal langit cerah. Seakan ada seseorang yang diam-diam mengencerkan cat dunia.

“Cerita tentang sesuatu yang sedang datang,” kata Kakek. “Sesuatu yang membuat negeri ini mulai lupa.”

Mala ingin tertawa, karena kalimat itu terdengar seperti pembuka dongeng. Dulu, di kursi yang sama ini, Mama sering membuka dongeng dengan kalimat-kalimat seperti itu, lalu Mala akan memeluk lututnya dan menunggu keajaiban. Tetapi pagi ini Mala tidak tertawa. Sebab di luar, burung-burung masih diam, dan untuk pertama kalinya seumur hidupnya, pagi di Lemuru terasa seperti sebuah ruangan yang ditinggalkan.

“Lupa apa, Kek?” tanya Mala. Suaranya nyaris berbisik.

Kakek menoleh padanya. Dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat dada Mala dingin.

“Lupa segalanya, Cucuku,” jawab Kakek. “Lupa nama. Lupa lagu. Lupa jalan pulang. Dan yang paling berbahaya — lupa bahwa kita pernah saling memiliki.”

Di kejauhan, di seberang teluk, terdengar suara seseorang berteriak. Bukan teriakan gembira. Bukan pula teriakan kesakitan. Itu teriakan seseorang yang tersesat di tempat yang seharusnya paling ia kenal. Cangkir di tangan Kakek berhenti di udara, separuh jalan ke bibirnya, dan untuk sesaat keduanya hanya duduk diam, mendengarkan suara yang tidak seharusnya ada di pagi Lemuru.