Saturday, July 18, 2026

TUJUH CAHAYA NUSANTARA

Bab Dua — Yang Hilang dari Pak Sangka

Yang berteriak ternyata Pak Sangka.

Mala mengenalnya sejak ia masih digendong. Pak Sangka adalah nelayan paling ahli di Lemuru. Orang bilang ia bisa menemukan ikan hanya dengan mencium angin, dan bisa pulang dalam gelap pekat hanya dengan mendengar bunyi ombak yang memecah di karang tertentu. Setiap subuh, perahunya yang bercat biru sudah lebih dulu menghilang ke laut, dan setiap senja, perahu itu kembali dengan jaring penuh, dan Pak Sangka akan melambai ke arah mercusuar sambil berseru, “Terima kasih cahayanya, Pak Tua!” kepada Kakek. Itu adalah salah satu suara paling tetap di pulau, setetap ombak.

Tetapi pagi ini, Pak Sangka berdiri di tengah jalan kampung, basah kuyup, sambil memandang rumah-rumah dengan tatapan kosong. Air laut menetes dari ujung sarungnya. Beberapa tetangga sudah mengerumuninya, dan makin banyak yang berdatangan, terbangun oleh teriakannya.

“Yang mana rumah saya?” tanya Pak Sangka. Suaranya bergetar. “Tolong… tolong tunjukkan, yang mana rumah saya.”

Mala dan Kakek mendekat, menembus kerumunan. Istri Pak Sangka, Bu Lina, sudah berdiri di depan suaminya sambil menggenggam kedua tangannya, air matanya mengalir.

“Ini saya, Bang,” kata Bu Lina. “Ini Lina. Abang tidak ingat?”

Pak Sangka menatap wajah istrinya lama sekali. Mala melihat usaha di mata lelaki itu — usaha yang menyakitkan, seperti orang yang meraba-raba di dalam gelap mencari benda yang baru saja dipegangnya. Bibirnya bergerak, seakan hendak menyebut sebuah nama, lalu berhenti. Akhirnya bahu Pak Sangka turun, dan ia menggeleng.

“Maaf,” bisiknya. “Maaf. Saya… saya rasa saya tahu wajah ini. Wajah ini baik. Wajah ini pernah membuat saya bahagia. Tetapi saya tidak bisa menemukan namanya. Seperti ada lubang. Seperti ada lubang di tempat yang seharusnya berisi.”

Kerumunan terdiam. Mala merasakan ketakutan menjalar dari orang ke orang, sehalus dan secepat kabut. Sebab semua orang di kampung itu tahu betapa Pak Sangka mencintai istrinya — bagaimana setiap pulang melaut ia selalu menyisihkan ikan yang paling bagus untuk Bu Lina, bagaimana mereka berdua sering duduk di dermaga sampai bintang keluar. Kalau ingatan tentang Bu Lina saja bisa hilang dari kepala Pak Sangka, ingatan apa lagi yang aman?

Kakek melangkah maju dengan tenang. Ia meletakkan tangan di bahu Pak Sangka, dan tangan tua itu, walau keriput, terasa kokoh.

“Sangka,” katanya. “Dengar suara Kakek. Tadi malam kau melaut. Kau ingat melaut?”

Pak Sangka mengangguk pelan. “Itu… itu saya ingat. Laut. Bintang. Lalu…” Ia mengernyit, mencengkeram dadanya sendiri. “Lalu bintang-bintangnya seperti padam. Bukan tertutup awan — saya tahu bedanya awan dan padam. Ini padam. Dan tiba-tiba saya tidak tahu lagi laut yang mana yang menuju pulang. Semua air terlihat sama. Semua gelap terlihat sama. Saya mendayung asal saja sampai pagi, sampai perahu menabrak pasir. Dan ketika saya naik ke darat, kampung ini… kampung ini terasa seperti tempat yang belum pernah saya datangi seumur hidup.”

“Lalu kau lupa nama istrimu,” kata Kakek.

“Lalu saya lupa nama istri saya,” ulang Pak Sangka, dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang masih bau garam dan ikan.

Mala merasa ada yang mencengkeram dadanya. Ia ingin lari pulang dan bersembunyi di balik selimut, seperti yang dulu ia lakukan pada malam-malam pertama setelah Mama tiada. Tetapi ia juga tahu, sembunyi tidak akan menolong siapa pun. Mama tidak pernah sembunyi dari apa pun.

Kakek menoleh kepada para tetangga. Suaranya tidak keras, tetapi semua orang mendengarnya, sebab di Lemuru, kalau penjaga mercusuar bicara, orang mendengar.

“Bawa Sangka ke rumahnya. Lina, duduklah di dekatnya. Ceritakan kepadanya hal-hal kecil — di mana ia biasa menyimpan kailnya, lagu apa yang ia senandungkan saat memperbaiki jaring, nama anjing kecil kalian. Jangan paksa ia mengingat sekaligus. Tetapi jangan biarkan ia sendirian dengan lupanya.” Kakek menatap mereka satu per satu, mata tuanya singgah di tiap wajah. “Itu yang paling penting. Apa pun yang terjadi mulai hari ini, dan banyak hal akan terjadi, ingatlah satu hal ini: jangan biarkan siapa pun sendirian dengan lupanya.”

Para tetangga menuntun Pak Sangka pulang, Bu Lina memapahnya, suaranya yang lembut mulai menceritakan hal-hal kecil — tentang seekor anjing belang yang pernah mereka pelihara, tentang hujan pertama setelah mereka menikah. Sebelum pergi, Pak Sangka berhenti di depan Mala. Ia menatap gadis kecil itu dengan mata yang bingung, lalu sesuatu seperti pengenalan samar berkelebat di sana.

“Aku kenal kau,” katanya perlahan, seolah menemukan satu kepingan yang masih utuh di tengah reruntuhan. “Kau anak penyanyi itu. Anak Bu Lendra. Yang suaranya seperti…” Ia mencari kata. “Seperti cahaya.”

Sesuatu menusuk di dalam dada Mala. Mama. Sudah dua tahun, dan masih saja nama itu sanggup membuatnya kehabisan napas, seperti ombak yang datang dari belakang ketika kita sedang memandang ke arah lain.

“Iya, Pak,” jawab Mala, nyaris tak terdengar. “Saya anak Bu Lendra.”

“Ibumu masih suka menyanyi?”

Mala membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya menggeleng. Ia tidak mengatakan bahwa Mama sudah tiada. Ia juga tidak mengatakan bahwa ia sendiri pun sudah lama berhenti menyanyi — bahwa lagu-lagu Mama kini terkunci di suatu tempat di dalam dirinya, di balik pintu yang sengaja tidak pernah ia buka, karena setiap kali ia mencoba, rasa sakitnya terlalu besar, seperti membuka jendela ke arah badai.

Pak Sangka mengangguk samar, tidak mengerti, lalu dituntun pergi.

Mala dan Kakek berdiri berdua di jalan yang mulai sepi. Matahari sudah naik, tetapi sinarnya tetap terasa pucat.

“Kek,” kata Mala. “Apa yang sedang terjadi? Sebenarnya?”

Kakek memandang ke arah mercusuar, yang berdiri putih dan tenang di atas bukit karang, seperti penjaga yang tidak pernah tidur. Lalu ia memandang Mala, dan untuk pertama kalinya Mala melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di wajah Kakek sepanjang hidupnya.

Ketakutan.

“Ikut Kakek,” kata Kakek. “Ada sesuatu yang harus kau lihat. Sesuatu yang sudah menunggumu lebih lama daripada yang kau kira.”


Friday, July 10, 2026

TUJUH CAHAYA NUSANTARA


Bab Satu — Mercusuar Lemuru

Setiap pagi, sebelum matahari berani naik, Mala sudah berada di puncak mercusuar.

Ia menyukai jam itu. Jam ketika langit masih kelabu dan laut belum memutuskan akan berwarna apa. Untuk sampai ke puncak, ia harus menaiki seratus dua puluh tiga anak tangga batu yang melingkar — Mala sudah menghitungnya sejak umur lima tahun, dan ia hafal tiap-tiap anak tangga yang bunyinya mengerit, tiap-tiap tikungan tempat dinding terasa lembap dan dingin di telapak tangan. Di pagi buta, ia bisa menaikinya sambil memejamkan mata, dan ia sering melakukannya, sekadar untuk membuktikan bahwa kakinya lebih hafal mercusuar ini daripada kepalanya.

Dari puncak Mercusuar Lemuru, Mala bisa melihat seluruh pulaunya sekaligus: deret rumah panggung di tepi teluk, perahu-perahu yang ditambatkan miring di pasir, jalan setapak yang berkelok ke kebun pisang dan kebun singkong, dan di kejauhan, garis tipis tempat laut bertemu langit. Pulau Lemuru tidak besar. Orang bilang, kalau berjalan kaki dari ujung ke ujung, seekor ayam pun tak sempat bertelur dua kali. Tetapi bagi Mala, pulau ini adalah seluruh dunia. Di sinilah ia lahir. Di sinilah ia belajar berjalan, di lantai batu mercusuar yang dingin. Dan di sinilah, dua tahun lalu, ia berdiri di pantai sampai pagi, menunggu sebuah perahu yang tidak pernah kembali.

Di sampingnya, lampu besar mercusuar masih menyala. Nyalanya berputar pelan di dalam kaca yang berlapis-lapis, melempar seberkas cahaya jauh ke laut, lalu kembali, lalu pergi lagi, seperti seseorang yang sabar memanggil pulang. Mala mengusap kaca itu dengan kain. Itu tugasnya tiap pagi — membersihkan jelaga tipis yang menempel semalam, supaya cahaya tetap bening. Ia mengelapnya melingkar, perlahan, dan sambil bekerja ia mengamati wajahnya sendiri yang samar terpantul di kaca: anak perempuan dengan rambut diikat asal, mata yang menurut Kakek mirip mata ibunya.

“Cahaya yang baik,” kata Kakek dahulu, “bukan cahaya yang paling terang. Tetapi cahaya yang paling setia. Yang tetap menyala walau tak ada yang melihat.”

Kakek tahu banyak kalimat seperti itu. Ia menjaga mercusuar ini sejak masih muda, seperti ayahnya dahulu, dan ayah dari ayahnya. Keluarga Mala adalah keluarga penjaga cahaya. Itu bukan pekerjaan yang membuat orang kaya. Minyak lampu harus dijatah, kaca harus dijaga dari karat garam, dan pada musim badai Kakek bisa tidak tidur berhari-hari, memastikan nyala tidak padam. Tetapi setiap kali ada perahu nelayan yang tersesat di malam berkabut dan akhirnya menemukan jalan pulang karena melihat cahaya Lemuru, ada sesuatu yang menghangat di dada Mala. Sesuatu yang lebih baik daripada kaya.

Mala melipat kainnya dan bersandar pada pagar besi yang dingin. Angin pagi membawa bau garam dan bau minyak lampu. Di bawah, ombak menjilat batu karang dengan suara yang sudah ia hafal sejak bayi — suara yang oleh Mama dulu disebut “napas pulau”. Mala menarik napas pelan, ikut bernapas bersama pulaunya.

Dahulu, ketika Mama masih ada, malam-malam di Lemuru terasa berbeda.

Setiap malam, sebelum tidur, Mama naik menemui Mala di kamar kecil di kaki mercusuar — kamar yang dindingnya selalu sedikit bergetar oleh dengung lampu di atas. Mama duduk di tepi dipan, menyelimuti Mala sampai ke dagu, lalu bercerita. Ia tidak pernah membaca dari buku; cerita-cerita itu ada di kepalanya, diwariskan dari ibunya, dan dari ibu sebelum ibunya. Mama menceritakan tentang ikan raksasa yang menelan bulan lalu memuntahkannya kembali tiap pagi, tentang putri laut yang menukar sisiknya dengan sepasang kaki demi menari satu malam di darat, tentang penjaga mercusuar pertama di Lemuru yang konon menyalakan lampunya dengan nyanyian, bukan dengan minyak. Suara Mama bisa berbisik sampai Mala mencondongkan telinga, lalu tiba-tiba melonjak sampai Mala terpekik lalu tertawa, dan setiap kali Mala merasa cerita itu ditujukan hanya untuknya seorang.

Suatu malam, ketika hujan menampar jendela dan ombak terdengar marah di bawah, Mala kecil bertanya kenapa Kakek dan Mama harus repot-repot menjaga lampu itu tetap menyala, padahal mereka bisa tidur lebih nyenyak kalau membiarkannya padam sesekali.

Mama terdiam sebentar, mendengarkan badai. Lalu ia berkata, pelan, “Coba kau bayangkan ada perahu di luar sana malam ini, Kemala. Di tengah hujan seperti ini. Orang di dalamnya basah, takut, dan tidak tahu lagi mana arah darat. Lalu, jauh di kegelapan, ia melihat satu titik cahaya yang tidak menyerah. Cahaya kita.” Mama membelai rambut Mala. “Tugas penjaga mercusuar yang sebenarnya bukan menyalakan lampu, Sayang. Menyalakan lampu itu cuma caranya. Tugas kita yang sebenarnya adalah memastikan tidak ada seorang pun di laut yang merasa sendirian. Itu pekerjaan yang jauh lebih besar daripada lampu mana pun. Dan suatu hari nanti, itu akan menjadi pekerjaanmu juga.”

Lalu, seperti tiap malam, Mama mengajarinya satu lagu — lagu tentang perahu yang berlayar jauh dan selalu menemukan jalan pulang. Mereka menyanyikannya bersama, pelan, dua suara kecil di kamar kecil sementara badai mengamuk di luar, sampai Mala tertidur dengan lagu itu masih hangat di dadanya. Mama bilang lagu itu adalah cahaya milik Mala sendiri — cahaya yang bisa ia bawa ke mana saja, yang tidak butuh minyak, yang tidak akan pernah bisa dipadamkan badai mana pun, asal ia tidak pernah lupa menyanyikannya.

Lalu Mama pergi, di suatu malam badai seperti itu juga, dan tidak pernah kembali.

Dan sejak itu kamar kecil di kaki mercusuar menjadi sunyi tiap malam. Tidak ada lagi cerita sebelum tidur. Dan Mala, yang dulu menyanyikan lagu Mama tiap malam sampai tertidur, berhenti menyanyi sama sekali — sebab menyanyikan lagu itu berarti merindukan suara Mama yang seharusnya mengiringinya, dan ketiadaan suara itu lebih menyakitkan daripada diam. Maka Mala memilih diam. Ia menyimpan lagu itu rapat-rapat di suatu tempat di dalam dadanya, di balik pintu yang ia kunci, dan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia melakukannya supaya tidak sakit — tanpa menyadari bahwa mengunci sesuatu yang kita cintai supaya tidak terasa sakit adalah awal dari sejenis lupa yang lain.

Tetapi pagi ini ada yang berbeda.

Mula-mula Mala tidak tahu apa. Ia hanya merasa ada yang kurang, seperti ketika kita masuk ke kamar dan tahu ada benda yang dipindahkan, tanpa bisa menyebutkan benda apa. Ia menajamkan telinga. Ombak masih ada. Angin masih ada. Dengung samar lampu masih ada.

Lalu ia sadar.

Burung-burung tidak bernyanyi.

Biasanya, pada jam ini, langit di atas Lemuru penuh suara. Camar yang berebut ikan, burung-burung kecil yang ribut di pucuk kelapa, sepasang elang laut yang bersahutan dari karang. Pagi di Lemuru selalu riuh, seriuh pasar. Mama dulu suka berkata bahwa burung-burung itu sedang “bertukar kabar semalam”, dan kalau kita mau diam dan mendengarkan, kita bisa belajar bahasa mereka. Tetapi pagi ini, langit diam. Burung-burung itu tetap ada — Mala bisa melihat beberapa di kejauhan, hinggap di dahan — tetapi mereka diam saja. Tidak terbang. Tidak bersuara. Hanya duduk, seolah lupa bahwa mereka tahu cara bernyanyi.

Bulu kuduk Mala meremang.

“Kakek!” panggilnya, menuruni tangga melingkar mercusuar dua anak sekaligus. Tangan kanannya menyusuri dinding batu yang dingin, mengenali tiap tikungan dalam gelap. “Kakek, burung-burungnya —”

Ia menemukan Kakek di dapur, sedang menjerang air. Kakek menoleh, dan Mala langsung tahu bahwa Kakek pun sudah merasakannya. Wajah tua itu tidak terkejut. Wajah itu justru tampak seperti seseorang yang sudah lama menunggu kabar buruk, dan kini kabar itu tiba.

“Sudah Kakek dengar,” kata Kakek pelan. “Atau lebih tepatnya, sudah Kakek tidak dengar.”

“Mereka kenapa?”

Kakek tidak langsung menjawab. Ia menuang air panas ke dua cangkir tanah liat, satu untuknya, satu untuk Mala, lalu duduk di bangku kayu yang sudah mengilap karena bertahun-tahun diduduki. Uap mengepul di antara mereka, membawa bau jahe. Di luar jendela, laut tetap terlalu tenang, seperti cermin yang ditahan napasnya.

“Duduklah,” kata Kakek. “Ada cerita yang seharusnya sudah Kakek ceritakan sejak lama. Tetapi Kakek selalu berharap, kalau Kakek menundanya cukup lama, cerita itu tidak akan pernah perlu diceritakan.”

Mala duduk. Ia memeluk cangkirnya dengan kedua tangan. Hangatnya merambat ke jari-jarinya yang dingin oleh angin puncak mercusuar.

“Cerita apa, Kek?”

Kakek menatap keluar, ke arah cahaya pagi yang anehnya terasa lebih pucat dari biasanya. Warna-warna pulau — hijau daun, merah atap seng, biru perahu Pak Sangka — semuanya seperti diselimuti tipisnya kabut, padahal langit cerah. Seakan ada seseorang yang diam-diam mengencerkan cat dunia.

“Cerita tentang sesuatu yang sedang datang,” kata Kakek. “Sesuatu yang membuat negeri ini mulai lupa.”

Mala ingin tertawa, karena kalimat itu terdengar seperti pembuka dongeng. Dulu, di kursi yang sama ini, Mama sering membuka dongeng dengan kalimat-kalimat seperti itu, lalu Mala akan memeluk lututnya dan menunggu keajaiban. Tetapi pagi ini Mala tidak tertawa. Sebab di luar, burung-burung masih diam, dan untuk pertama kalinya seumur hidupnya, pagi di Lemuru terasa seperti sebuah ruangan yang ditinggalkan.

“Lupa apa, Kek?” tanya Mala. Suaranya nyaris berbisik.

Kakek menoleh padanya. Dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat dada Mala dingin.

“Lupa segalanya, Cucuku,” jawab Kakek. “Lupa nama. Lupa lagu. Lupa jalan pulang. Dan yang paling berbahaya — lupa bahwa kita pernah saling memiliki.”

Di kejauhan, di seberang teluk, terdengar suara seseorang berteriak. Bukan teriakan gembira. Bukan pula teriakan kesakitan. Itu teriakan seseorang yang tersesat di tempat yang seharusnya paling ia kenal. Cangkir di tangan Kakek berhenti di udara, separuh jalan ke bibirnya, dan untuk sesaat keduanya hanya duduk diam, mendengarkan suara yang tidak seharusnya ada di pagi Lemuru.