Mimpi yang dicicil
Aku menemukan
gitar itu di sudut gudang, tertimbun kardus-kardus berisi dokumen lama dan
mainan anak yang sudah tak terpakai.
Serpihan debu
beterbangan ketika tanganku menyentuh sarungnya yang lusuh. Lima belas tahun.
Lima belas tahun aku menyimpannya di sana, di kegelapan yang sama dengan sudut
hati yang sengaja kututup rapat-rapat.
Senar-senarnya
sudah kendur. Persis seperti hatiku.
"Mama sedih
ya?"
Suara Kirana
membuatku tersentak. Anak semata wayangku itu berdiri di ambang pintu gudang,
tubuh mungilnya membentuk siluet di tengah cahaya sore yang menerobos masuk.
Matanya yang jernih—mata yang sama dengan mata ayahnya yang sudah
tiada—memandangku dengan tatapan yang terlalu paham untuk seorang anak sepuluh
tahun.
"Enggak,
sayang. Mama cuma..."
"Bohong,"
potongnya lembut. "Mama selalu bilang, kalau orang berbohong, matanya
nggak mau ketemu sama mata orang yang diajak bicara."
Aku tertawa
kecil. Pahit. Kenapa anak-anak selalu tahu cara menangkap kepalsuan kita yang
paling rapi?
"Ini gitar
Mama waktu muda dulu," kataku, duduk bersimpuh di lantai gudang yang
dingin dan lembap. Kirana mendekat, tangannya yang mungil menyentuh bodi gitar
yang sudah kusam dengan kelembutan yang menghancurkanku. "Dulu, Mama
bermimpi jadi musisi."
"Terus
kenapa sekarang jadi auditor?"
Pertanyaan polos
yang menancap di ulu hati. Bagaimana aku menjelaskan pada seorang anak tentang
mimpi yang terpaksa dikorbankan demi tanggung jawab? Tentang ayahku yang
terbaring di rumah sakit dengan kanker yang menggerogoti tubuhnya—dan
tabungannya—secara perlahan. Tentang Mama yang bekerja sebagai buruh cuci dari
subuh hingga malam. Tentang adikku yang baru masuk kuliah, harapan satu-satunya
keluarga kami.
Aku ingat malam
itu. Malam yang mengubah segalanya.
* * *
Dua puluh tahun
lalu, di kamar kos sempit yang bocor kalau hujan, aku memegang dua amplop.
Amplop pertama:
surat penerimaan dari Jakarta Institute of Music—sekolah musik terbaik di
Indonesia. Beasiswa penuh untuk tiga tahun. Kesempatan emas yang hanya datang
sekali seumur hidup. Aku menangis ketika membuka surat itu, tanganku gemetar
membaca: "Kami dengan senang hati menerima Anda sebagai mahasiswa program
Komposisi dan Performance..."
Amplop kedua:
tagihan rumah sakit. Ayah sudah stadium tiga. Kemoterapi yang harus dimulai
segera. Angka-angka yang membuat kepalaku pusing. Angka yang tidak mungkin
dibayar oleh Mama yang hanya buruh cuci, atau oleh adikku yang masih SMA.
Di luar jendela,
hujan turun deras.
Aku mengingat
kata-kata Pak Arif, guru musikku di SMA. "Hana, kamu punya telinga yang
luar biasa. Kamu bisa mendengar musik di tempat-tempat yang orang lain hanya
mendengar kebisingan. Jangan sia-siakan itu."
Tapi aku juga
mengingat batuk Ayah yang semakin parah. Wajah Mama yang semakin kurus. Adikku
yang belajar sampai larut malam dengan penerangan seadanya, bermimpi jadi
dokter—mimpi yang juga mahal, yang juga butuh pengorbanan.
Aku menatap
gitar di sudut kamar. Gitar bekas yang kubeli dari hasil mengamen di perempatan
selama setahun. Teman setiaku yang tahu semua lagu yang pernah kutulis, semua
air mata yang pernah kutumpahkan.
"Maafin
aku," bisikku pada gitar itu. "Maafin aku."
Lalu aku merobek
surat penerimaan itu. Perlahan. Satu sobek untuk setiap not yang tak akan
pernah kutulis. Satu sobek untuk setiap panggung yang tak akan pernah kupijak.
Satu sobek untuk setiap mimpi yang kubunuh dengan tanganku sendiri.
Keesokan
harinya, aku mendaftar ke fakultas ekonomi. Jurusan yang tidak pernah
kubayangkan. Jurusan yang menjanjikan pekerjaan stabil, gaji tetap, bonus
tahunan. Jurusan yang akan membuatku bisa menghidupi keluarga.
Jurusan yang
akan membunuhku perlahan-lahan, tanpa aku sadari.
* * *
"Mama?"
Suara Kirana menarikku kembali ke masa kini. "Mama nangis?"
Aku menyentuh
pipiku. Basah. Aku tidak sadar kapan air mataku mulai mengalir.
"Karena
kadang, sayang," suaraku bergetar, "hidup meminta kita memilih hal
yang tidak kita mau, tapi harus kita lakukan."
Kirana diam
sebentar. Matanya yang terlalu tua untuk usianya menatapku dalam-dalam. Lalu
dia bilang, dengan nada yang membuatku merinding, "Berarti Mama nggak cuma
sedih. Mama marah juga, kan? Marah sama hidup. Marah sama takdir. Marah sama...
Mama sendiri."
Dan aku
menangis.
Di gudang
berdebu itu, di depan anakku yang masih terlalu muda untuk memahami betapa
berat dunia ini, aku menangis untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun. Aku
menangis untuk semua lagu yang tak pernah kutulis. Untuk semua panggung yang
tak pernah kupijak.
Aku menangis
untuk gadis delapan belas tahun yang merobek surat mimpinya demi orang-orang
yang dicintainya.
Dan untuk wanita
tiga puluh delapan tahun yang baru menyadari bahwa pengorbanan itu meninggalkan
luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
* * *
Hari Senin pagi
di kantor sama seperti seribu Senin sebelumnya. Ruang kubikel yang dingin dan
steril, aroma kopi instan yang pahit. Tumpukan laporan keuangan menunggu untuk
diaudit.
Aku duduk di
mejaku, menatap layar komputer yang menyala dingin. Jari-jariku yang dulu
terlatih menekan senar kini hanya terlatih menekan keyboard.
"Lembur
lagi hari ini, Hana?" Tanya Dita, rekan kerjaku yang duduk di kubikel
sebelah. Wajahnya lelah—sama lelahnya dengan semua wajah di kantor ini.
"Kayaknya,"
jawabku datar.
"Tumben lo
pendiam. Biasanya pagi-pagi udah cerita panjang lebar."
Aku hanya
tersenyum tipis. Bagaimana aku bilang bahwa sejak menemukan gitar itu tiga hari
lalu, ada sesuatu yang retak di dalam dadaku? Bukan retak baru—lebih seperti
retakan lama yang selama ini kupura-purakan tidak ada, yang tiba-tiba terbuka
lebar dan mengeluarkan nanah kesedihan yang kupikir sudah kering. Luka yang
kukira sudah mati ternyata hanya tidur, dan sekarang ia bangun dengan rasa
sakit yang berlipat ganda.
Sore itu, saat
rapat evaluasi kuartal ketiga, aku menatap wajah-wajah rekan kerjaku satu per
satu.
Pak Bambang yang
akan pensiun tahun depan—empat puluh tahun mengabdi, dan wajahnya lebih mirip
orang yang menunggu eksekusi daripada orang yang akan menikmati masa tua.
Bu Ratna yang
selalu makan siang sendirian di pojok kantin, matanya tak pernah lepas dari
foto keluarganya—suami dan dua anak yang tinggal di kota lain karena mutasi
kerja.
Doni yang baru
tiga tahun kerja tapi matanya sudah kehilangan kilau.
Apakah kita
semua seperti ini? Zombie yang berjalan ke kantor setiap hari, melakukan
pekerjaan yang tidak membuat jantung berdetak lebih cepat?
"Hana, kamu
dengerin nggak sih?"
Suara Pak Joko,
manajer kami, membuatku tersadar. Semua mata memandangku—belasan mata mati yang
sebentar lagi akan kembali menatap layar komputer masing-masing.
"Maaf, Pak.
Bisa diulang?"
Dia menghela
napas panjang, jelas kesal. "Aku tanya, kamu bersedia nggak handle klien
baru? Perusahaan konstruksi besar. PT Karya Megah. Proyeknya kompleks, butuh
dedikasi penuh. Bonusnya lumayan—bisa dapat dua puluh juta kalau proyeknya
selesai tepat waktu."
Dulu, aku akan
langsung bilang ya. Bonus dua puluh juta berarti bisa bayar cicilan rumah lebih
cepat, bisa tabung lebih banyak untuk kuliah Kirana nanti. Dulu, aku tidak
pernah menolak apapun—karena menolak berarti egois, dan aku sudah cukup egois
ketika aku diam-diam menyimpan gitar di gudang alih-alih menjualnya.
Tapi sore itu,
entah kenapa, aku merasa sangat lelah.
"Saya...
pikir-pikir dulu, Pak."
Ruangan hening.
Pak Joko menatapku dengan alis terangkat tinggi, tidak percaya. Di kantor ini,
menolak bonus itu seperti menolak oksigen.
"Pikir-pikir?"
Pak Joko mengulangi, nada suaranya dingin. "Hana, ini kesempatan bagus.
Klien besar. Kalau kamu nolak, Dita yang akan ambil. Dan kamu tahu kan,
penilaian kinerja kita di akhir tahun nanti."
Ancaman halus.
Aku mengenali itu. Terima proyek ini, atau kariermu stagnan. Terima proyek ini,
atau kamu dianggap tidak loyal. Terima proyek ini, atau lupakan promosi yang
sudah kamu kejar bertahun-tahun.
"Saya
mengerti, Pak," kataku pelan. "Tapi saya butuh waktu untuk
mikir."
Setelah rapat,
Dita mendatangiku di kubikel. Wajahnya khawatir tapi juga... ada sesuatu yang
lain. Harapan, mungkin?
"Han, kamu
kenapa sih? Kamu nggak biasanya gini. Kamu sakit?"
"Nggak. Aku
cuma..."
"Cuma apa?
Kamu tahu kan, kalau kamu nolak, aku yang bakal dapet proyeknya? Dan
sejujurnya," dia menurunkan suaranya, "aku butuh bonus itu. Suamiku
baru kena PHK bulan lalu. Aku harus bayar cicilan mobil, cicilan rumah, uang
sekolah anak..."
Rasa bersalah
menyeruak di dadaku. Aku tahu Dita butuh uang itu. Tapi aku juga tahu bahwa
kalau aku terima proyek ini, aku harus lembur hampir setiap hari. akhir pekan
akan hilang. Sabtu pagi akan hilang.
Dan aku baru
saja menemukan sesuatu yang membuat Sabtu pagi berarti lagi.
"Maaf, Dit.
Aku... aku lagi ada sesuatu yang harus kukerjain."
"Sesuatu
yang lebih penting dari kerja?" Dia menatapku tidak percaya. "Han,
kamu gila? Di tengah ekonomi kayak gini?"
Mungkin aku
memang gila. Mungkin gitar berdebu di gudang itu sudah menginfeksi otakku
dengan nostalgia yang berbahaya. Mungkin aku sedang mengalami krisis paruh baya
yang bodoh dan tidak produktif.
Tapi untuk
pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku merasa ada yang lebih penting dari
angka-angka di rekening bank.
* * *
Malam itu,
setelah Kirana tidur dengan boneka beruangnya yang sudah usang—warisan dari
almarhum ayahnya—aku duduk di teras belakang rumah. Langit gelap tanpa bintang.
Gitar itu ada di
pangkuanku. Aku sudah ganti senarnya siang tadi—pergi ke toko musik saat
istirahat kantor, merasa asing dan rindu sekaligus ketika mencium bau kayu dan
logam yang dulu begitu familiar. Penjaga toko—seorang pria tua dengan rambut
putih—menatapku dengan senyum yang aneh.
"Lama tidak
main?" tanyanya.
"Sangat
lama," jawabku. "Lima belas tahun."
"Tapi kamu
datang lagi," dia mengangguk bijak. "Musik itu seperti cinta pertama.
Kita bisa melupakannya untuk sementara, tapi dia tidak pernah benar-benar
pergi."
Kata-katanya
menggantung di udara saat aku pulang, dan sekarang bergema di teras belakang
rumah yang sunyi ini.
Jari-jariku
mencoba menekan fret, mengingat kembali akord G mayor.
Sakit.
Ujung
jari-jariku yang dulu keras dan berkapalan kini lunak. Lima belas tahun tanpa
latihan telah mengkhianati otot-otot yang dulu kubangun dengan susah payah.
Tapi aku tetap mencoba. C mayor. D mayor. E minor. Setiap perpindahan akord
terasa asing tapi familiar, menyakitkan tapi juga melegakan.
"Mama jago
ya?"
Kirana tiba-tiba
muncul di ambang pintu, mata mengantuknya berbinar.
"Kamu belum
tidur, sayang?"
"Aku denger
suara gitarnya," dia duduk di sampingku, tubuh mungilnya menempel hangat.
"Mama, kenapa nggak main musik lagi aja?"
"Nggak
semudah itu, sayang."
"Kenapa?"
Satu kata. Enam
huruf. Pertanyaan yang terlalu berat untuk dijawab.
"Karena
Mama sudah terlalu tua. Sudah terlalu lama nggak latihan. Dan dunia musik itu
keras, Kirana. Lebih keras dari yang Mama kira dulu. Lebih kejam dari yang
pernah Mama bayangkan."
Aku ingat
kata-kata Pak Arif, guru musikku, ketika aku bilang padanya bahwa aku memilih
ekonomi. Wajahnya pucat, matanya sedih.
"Hana, kamu
sedang membunuh dirimu sendiri," katanya. "Mungkin bukan sekarang.
Mungkin tidak terasa hari ini atau besok. Tapi suatu hari, kamu akan bangun dan
menyadari bahwa kamu sudah hidup dua puluh, tiga puluh tahun tanpa musik. Dan
bagian dari dirimu yang paling hidup sudah lama mati."
Aku tidak
percaya kata-katanya waktu itu. Aku pikir beliau hanya seorang idealis yang
tidak mengerti realitas kehidupan.
Tapi sekarang,
dua puluh tahun kemudian, aku duduk dengan gitar berdebu di pangkuan dan
menyadari bahwa beliau benar.
Bagian dari
diriku yang paling hidup memang sudah mati.
Dan aku bahkan
tidak tahu kapan pemakaman itu terjadi.
Kirana diam
sebentar. Angin malam membelai rambut kami berdua. Lalu dia bertanya, dengan
suara yang begitu lembut hingga hampir tidak terdengar, "Tapi Mama masih
cinta musik, kan?"
Aku menatap
anakku. Kapan dia jadi sebijak ini? Kapan dia belajar mengajukan pertanyaan
yang bisa merobek hati?
"Masih,"
bisikku, dan suaraku pecah seperti senar yang ditarik terlalu kencang.
"Sangat."
"Kalau
masih cinta, berarti belum terlambat."
Logika
anak-anak. Sederhana. Polos. Tidak terkontaminasi oleh ketakutan dan keraguan
yang kita pelajari seiring bertambahnya usia. Dan entah kenapa, malam itu,
logika sederhana itu terasa lebih jujur dari semua perhitungan rasional yang
selalu kubuat.
* * *
Sabtu pagi itu,
aku menemani Kirana les matematika di sebuah yayasan pendidikan di daerah
pinggiran kota. Tempatnya sederhana—rumah tua yang diubah jadi ruang belajar,
dengan papan tulis yang sudah kusam dan kursi-kursi kayu yang tidak rata. Cat
dindingnya mengelupas di beberapa bagian, dan langit-langitnya bernoda air
hujan.
Tapi ada
kehangatan di sana yang tidak pernah kutemukan di kantor berpendingin udara.
"Bu Hana,
mau tunggu di ruang guru aja? Ada kopi," tawar Bu Wulan, kepala
yayasan—seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah memutih dan senyum
yang tidak pernah padam meski hidupnya jauh dari mudah.
Aku mengikutinya
ke sebuah ruangan kecil yang berfungsi sebagai ruang guru, ruang makan, dan
kadang ruang tidur untuk relawan yang datang dari jauh. Di sana, mataku
tertumbuk pada poster yang tertempel di dinding yang mengelupas:
"Kami Butuh
Pengajar Musik Sukarela"
"Itu
posternya udah lama," kata Bu Wulan, mengikuti arah pandangku. "Udah
dua tahun nggak ada yang minat. Padahal anak-anak di sini pengen banget belajar
musik. Mereka sering nanya, kapan ada yang ngajarin main gitar atau
piano."
"Kenapa
nggak ada yang minat?"
"Ya,
mungkin karena nggak ada bayarannya," dia tertawa kecil, tawa yang
menyimpan kepahitan. "Di zaman sekarang, siapa yang mau kerja gratis?
Semua orang sibuk cari uang, Bu. Sibuk bertahan hidup."
Aku menatap
poster itu. Kertas yang sudah menguning, tinta yang sudah memudar. Tapi ada
sesuatu yang bergetar di dadaku—getaran yang sudah lama tidak kurasakan.
Seperti senar gitar yang dipetik setelah bertahun-tahun diam.
"Bu,"
suaraku tercekat, "saya... saya bisa main gitar."
Bu Wulan menoleh
cepat, matanya berbinar. "Serius, Bu?"
"Saya nggak
jago-jago amat. Dan saya juga udah lama banget nggak main—lima belas tahun.
Jari-jari saya kaku, ingatan saya tentang not-not sudah berkarat. Tapi kalau
memang Bu Wulan nggak keberatan dengan pengajar yang... biasa-biasa aja, yang
masih harus belajar lagi sendiri, saya... saya bersedia coba."
Senyum Bu Wulan
mengembang—senyum yang lebih terang dari lampu neon di ruangan redup ini.
"Bu Hana, di sini kami nggak butuh yang sempurna. Kami butuh yang tulus.
Dan dari cara Ibu bicara tentang musik barusan, saya tahu Ibu punya ketulusan
itu."
* * *
Sabtu pertama
mengajar, aku gugup setengah mati. Tanganku gemetar ketika memegang gitar,
seperti pengantin yang akan memasuki pelaminan setelah sekian lama menjadi
perawan.
Ada tujuh anak
di kelas itu, usia mereka antara sembilan sampai empat belas tahun. Mereka
duduk di lantai yang dingin—tidak ada kursi cukup untuk semua—tapi mata mereka
berbinar seperti bintang-bintang kecil yang baru dinyalakan.
"Selamat
pagi, anak-anak. Nama Ibu Hana. Ibu akan ngajarin kalian main gitar."
"Ibu artis
ya?" Tanya seorang anak laki-laki bernama Rendi—wajahnya kotor, rambutnya
kusut, tapi senyumnya menerangi ruangan.
Aku tersenyum,
dan ada rasa pahit yang familiar di tenggorokanku. Artis. Dulu itu mimpi
terbesarku. Dulu aku membayangkan wajahku di poster konser, namaku disebut di berita,
laguku dinyanyikan jutaan orang.
"Bukan. Ibu
cuma orang biasa yang suka musik."
"Tapi Ibu
pasti jago kan?" sahut Tari, anak perempuan yang duduk paling depan.
Tubuhnya kurus—terlalu kurus—dan bajunya sudah pudar warnanya karena terlalu
sering dicuci.
"Ibu...
dulu mungkin jago. Sekarang masih belajar lagi. Jari Ibu sudah kaku, ingatan
Ibu sudah berkarat."
Kejujuran itu
membuat mereka terdiam sebentar. Lalu Rendi nyengir lebar dan bilang,
"Sama kayak kita dong, Bu. Kita juga masih belajar. Berarti kita bisa
belajar bareng!"
Dan aku
menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak dengan cara yang berbeda.
Di mata
anak-anak ini, aku bukan orang yang gagal mewujudkan mimpi. Aku bukan auditor
yang terjebak dalam pekerjaan tanpa jiwa. Aku bukan wanita tiga puluh delapan
tahun yang menangis di gudang karena menyesali keputusan dua puluh tahun lalu.
Di mata mereka,
aku adalah orang yang membawa musik ke dalam hidup mereka. Aku adalah jembatan
antara mereka dan keajaiban yang mungkin akan mereka cintai seumur hidup.
Dan untuk
pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku merasa berharga.
* * *
Minggu-minggu
berlalu seperti not-not yang mengalir dari senar gitar. Setiap Sabtu pagi, aku
datang ke yayasan itu dengan gitar di punggung dan hati yang berdetak lebih
cepat dari biasanya.
Tapi kebahagiaan
itu datang dengan harga.
Di kantor,
suasana berubah. Pak Joko semakin dingin padaku. Dia memberikan proyek besar
itu pada Dita, dan sejak itu Dita hampir tidak pernah bicara denganku
lagi—terlalu sibuk, terlalu lelah, dan mungkin juga terlalu kecewa.
Suatu sore, Pak
Joko memanggilku ke ruangannya.
"Hana,
duduk."
Aku duduk,
jantungku berdegup kencang. Ruangannya dingin, pendingin udara dinyalakan
terlalu kencang seperti biasa.
"Penilaian
kinerja kamu turun," dia melempar map di atas meja. "Tiga bulan
terakhir, produktivitas kamu menurun. Kamu sering pulang tepat waktu—yang mana
nggak biasa untuk senior auditor. Kamu nolak proyek penting. Dan kemarin, Dita
bilang kamu kesulitan fokus saat meeting."
Aku terdiam.
Semua yang dia bilang benar.
"Kamu ada
masalah pribadi?" tanyanya, tapi nada suaranya tidak simpatis. Lebih
seperti interogasi.
"Tidak,
Pak."
"Kalau
nggak ada masalah, kenapa kinerja kamu drop?"
Aku ingin
bilang: karena aku baru saja menemukan kembali bagian dari diriku yang sudah
mati. Karena untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku punya sesuatu
yang membuat aku ingin bangun di pagi hari. Karena aku baru sadar bahwa hidup
bukan hanya tentang angka-angka di laporan keuangan.
Tapi aku tahu
dia tidak akan mengerti.
"Saya akan
perbaiki kinerja saya, Pak."
"Kamu
harus," dia bersandar di kursinya, menatapku dingin. "Kalau nggak,
jangan harap promosi. Atau bahkan, kamu bisa masuk daftar kandidat untuk...
penyesuaian. Kamu tahu kan, perusahaan lagi efisiensi."
Ancaman yang
jelas. Perbaiki kinerja atau siap-siap dipecat.
Malam itu, aku
tidak bisa tidur. Terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang
gelap. Pikiran-pikiran mengerikan berputar di kepalaku.
Bagaimana kalau
aku dipecat? Bagaimana aku bayar cicilan rumah? Bagaimana aku biayai sekolah
Kirana? Apakah aku egois karena mengajar gratis setiap Sabtu ketika aku
seharusnya fokus pada karier yang memberi makan keluargaku?
Apakah
musik—lagi-lagi—adalah kemewahan yang tidak bisa kupertahankan?
* * *
Sabtu
berikutnya, aku hampir tidak datang ke yayasan. Hampir.
Tapi ketika aku
melihat wajah Kirana yang bersemangat pagi itu—"Hari ini Mama ngajar lagi
kan?"—aku tidak sanggup mengecewakan dia. Atau anak-anak yang menunggu.
Di kelas, Rendi
sudah mahir memainkan tiga akord. Dia memainkannya untukku dengan bangga, dan
aku bisa melihat kilau di matanya—kilau yang sama yang dulu kumiliki.
"Bu, aku
udah latihan setiap hari," katanya. "Papa aku bilang, aku berbakat.
Dia bilang, dulu dia juga suka musik, tapi nggak ada yang ngajarin."
Tari datang
mendekat setelah kelas selesai. Tangannya gemetar ketika menyentuh lenganku.
"Bu, boleh
aku cerita sesuatu?"
"Tentu,
sayang."
"Kemarin,
Mama aku ulang tahun. Dia kerja sampai malem kayak biasa. Aku... aku mainkan
'Happy Birthday' buat dia di gitar. Dia nangis, Bu. Tapi dia bilang, itu hadiah
ulang tahun terbaik yang pernah dia terima."
Air mataku
menggenang. Aku menarik Tari ke dalam pelukan.
"Kamu tahu
kenapa dia nangis?" bisikku. "Karena kamu memberikan sesuatu yang
tidak bisa dibeli dengan uang. Kamu memberikan cinta yang berbentuk
musik."
Tari mengangguk
di pelukanku, tubuh kurusnya bergetar.
Dan di saat itu,
aku tahu. Apapun yang terjadi di kantor, apapun ancaman yang dilontarkan Pak
Joko, aku tidak bisa berhenti datang ke sini. Karena anak-anak ini butuh musik.
Dan aku—ternyata—butuh mereka juga.
* * *
Dua minggu
sebelum pertunjukan yang direncanakan Bu Wulan, aku dipanggil lagi ke ruangan
Pak Joko.
Kali ini, dia
tidak sendirian. Ada Pak Budi dari HR.
Perutku melilit.
"Hana, kita
perlu bicara serius," kata Pak Joko. "Kinerja kamu tidak membaik.
Malah semakin turun. Minggu lalu kamu salah menghitung depresiasi aset untuk
klien Pak Budi, dan itu hampir jadi masalah besar."
Aku ingat
kesalahan itu. Aku terlalu lelah, terlalu terburu-buru karena harus pulang
tepat waktu untuk latihan dengan anak-anak.
"Maaf, Pak.
Saya—"
"Maaf tidak
cukup, Hana," potong Pak Budi. "Kita menghargai kontribusi kamu
selama ini. Tapi perusahaan butuh profesional yang fokus. Yang memberikan
seratus persen."
Seratus persen.
Kata-kata yang sering kudengar. Seperti hidup kita harus selalu seratus persen
untuk pekerjaan, tidak boleh ada yang tersisa untuk hal lain.
"Kita
memberikan kamu pilihan," lanjut Pak Joko. "Perbaiki kinerja dalam
sebulan ke depan—drastis—atau kita akan mempertimbangkan untuk..."
Dia tidak
melanjutkan. Tidak perlu. Aku tahu apa yang dia maksud.
Keluar dari
ruangan itu, kakiku lemas. Aku pergi ke toilet kantor dan terkunci di dalam
cubicle, menangis tanpa suara.
Dua puluh tahun.
Dua puluh tahun aku memberikan segalanya untuk pekerjaan ini. Aku mengorbankan
mimpi, mengorbankan musik, mengorbankan kebahagiaan. Dan sekarang, hanya karena
aku mencoba—HANYA MENCOBA—menemukan sedikit makna di luar angka-angka, aku diancam
akan kehilangan semua yang sudah kubangun.
Aku menatap
pantulanku di cermin toilet. Wajah yang lelah. Mata yang sudah tidak bercahaya.
Kerutan-kerutan yang muncul terlalu cepat.
Siapa aku?
Auditor yang
baik tapi tidak bahagia? Ibu yang berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya,
tapi dengan mengorbankan jiwa? Atau musisi yang sudah mati, yang sekarang
mencoba bangkit dari kubur?
* * *
Malam itu, aku
bicara dengan Kirana. Kami duduk di teras belakang, gitar di antara kami.
"Mama
mungkin harus berhenti ngajar di yayasan," kataku pelan.
Wajah Kirana
pucat. "Kenapa?"
"Karena
kantor Mama... mereka bilang Mama harus fokus. Kalau nggak, Mama bisa
kehilangan pekerjaan."
Kirana diam
lama. Lalu dia bertanya, "Kalau Mama kehilangan pekerjaan, kita jadi
miskin?"
"Mungkin."
"Tapi kalau
Mama berhenti ngajar, Mama jadi sedih lagi? Kayak waktu Mama nemu gitar di
gudang?"
Pertanyaan yang
menghancurkanku.
"Mungkin
juga."
Kirana menatapku
dengan mata yang terlalu tua untuk seorang anak sepuluh tahun. "Mama, Papa
dulu pernah bilang sesuatu sebelum dia meninggal. Dia bilang, 'Hidup bukan
tentang seberapa banyak uang yang kita punya. Tapi tentang seberapa banyak kita
bisa tertawa dengan tulus.'"
Aku ingat
kata-kata suamiku. Dia meninggal dalam kecelakaan ketika Kirana masih empat
tahun. Tapi bahkan di hari-hari terakhirnya, di ranjang rumah sakit, dia masih
bisa tersenyum.
"Sejak Mama
ngajar di yayasan," lanjut Kirana, "Mama lebih sering senyum. Mama
pulang kerja dan cerita tentang anak-anak yang lucu. Mama latihan gitar sambil
senyum-senyum sendiri. Aku... aku suka Mama yang seperti itu."
"Tapi,
sayang—"
"Aku nggak
apa-apa kalau kita jadi agak miskin," potongnya. "Asal Mama nggak
sedih lagi."
Dan aku
menangis. Untuk kesekian kalinya, aku menangis. Tapi kali ini, aku memeluk
anakku dan menangis karena aku punya hadiah terbesar di dunia: anak yang
mengerti bahwa kebahagiaan lebih berharga dari uang.
* * *
Minggu
berikutnya, aku membuat keputusan.
Aku datang ke
ruangan Pak Joko tanpa dipanggil.
"Pak, saya
ingin bicara."
Dia mengangkat
alis. "Silakan."
"Saya...
saya akan melamar posisi senior staff. Turun posisi."
Dia menatapku
tidak percaya. "Turun posisi? Hana, kamu tahu itu berarti gaji lebih
rendah? Tidak ada bonus tahunan? Kenapa?"
"Karena
saya butuh waktu lebih untuk hal-hal di luar kantor. Saya tetap akan bekerja
profesional, Pak. Tapi saya tidak bisa lagi memberikan seratus persen untuk
pekerjaan. Saya punya kehidupan lain yang juga penting."
"Kehidupan
lain?" Dia tertawa sinis. "Hana, kamu sedang bunuh diri secara
profesional. Kamu tahu itu?"
"Mungkin,"
jawabku tenang. "Atau mungkin saya sedang menyelamatkan diri."
Dia terdiam,
menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu dia menghela napas panjang.
"Baiklah.
Kalau itu keputusan kamu. Tapi jangan menyesal nanti."
Keluar dari
ruangan itu, aku merasa ringan. Ada beban yang terangkat.
Ya, gajiku akan
berkurang. Ya, karier yang sudah kubangun dua puluh tahun akan terhenti. Ya,
mungkin aku akan kesulitan secara finansial.
Tapi aku akan
punya Sabtu pagi. Aku akan punya musik. Aku akan punya bagian dari diriku yang
sempat mati dan sekarang hidup kembali.
Dan untuk
pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku merasa itu adalah pertukaran yang
adil.
* * *
Enam bulan
kemudian, kami mengadakan pertunjukan kecil di yayasan.
Tidak ada
panggung mewah dengan lampu sorot yang menyilaukan. Tidak ada kursi empuk
berlapis beludru merah. Tidak ada penonton ratusan orang yang membayar tiket
mahal.
Hanya ruang
sederhana dengan kursi-kursi kayu yang tidak rata, dihadiri oleh orang tua
murid—sebagian besar buruh dan pedagang kecil yang mengambil cuti dari kerja
keras mereka—dan beberapa donatur yayasan.
Tapi bagiku, ini
adalah konser terbesar yang pernah ada.
Anak-anak tampil
satu per satu dengan gugup dan bangga.
Rendi membawakan
lagu "Bintang Kecil" dengan versi yang sudah dia modifikasi
sendiri—ada petikan-petikan nakal yang dia tambahkan, sentuhan khas anak
jalanan yang tidak pernah diajarkan di buku manapun. Ayahnya—seorang tukang
ojek dengan pakaian yang sudah lusuh—menangis di barisan belakang, tidak malu
dengan air matanya. Setelah penampilan, dia memeluk Rendi erat-erat dan
berbisik, "Papa bangga sama kamu, Nak. Papa bangga."
Lalu giliran
Tari.
Dia berdiri di
depan dengan gitar yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Jari-jarinya
gemetar ketika menyentuh senar. Tapi ketika dia mulai memetik nada pertama
"Kasih Ibu," seluruh ruangan hening.
Suaranya tidak
sempurna. Nadanya kadang meleset. Tapi ada sesuatu dalam cara dia menyanyi yang
membuat air mata menggenang di pelupuk mata semua orang.
"Kasih ibu
kepada beta... tak terhingga sepanjang masa..."
Di barisan
depan, ibu Tari—wanita kurus dengan tangan yang kasar dan pecah-pecah—menangis
tanpa suara. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang sudah keriput
sebelum waktunya.
Tari juga
menangis. Tapi dia terus bernyanyi.
"Hanya
memberi tak harap kembali... bagai sang surya menyinari dunia..."
Ketika lagu
selesai, ibu Tari berdiri dengan kaki yang gemetar. Dia berjalan ke depan
dengan langkah yang lambat, seperti orang yang sedang bermimpi dan takut
terbangun. Lalu dia memeluk anaknya—memeluknya erat-erat seperti tidak akan
pernah melepaskan.
Mereka berdua
menangis di depan semua orang, tidak peduli siapa yang melihat, tidak malu
dengan air mata mereka. Dan aku menyadari bahwa ini—momen ini—adalah alasan
mengapa musik ada.
Bukan untuk
album yang laris. Bukan untuk konser di stadion besar. Bukan untuk nama yang
tercetak di poster atau disebut di radio.
Tapi untuk momen
seperti ini. Untuk pelukan antara ibu dan anak yang tidak punya banyak harta,
tapi punya cinta yang lebih kaya dari apapun di dunia ini.
Setelah semua
anak tampil, Bu Wulan memanggilku ke depan.
"Bu Hana,
mau main sesuatu untuk kami?"
Aku melihat
wajah-wajah yang menatapku penuh harap. Kirana yang duduk di samping
neneknya—ibuku yang sudah tua dan lelah tapi datang jauh-jauh untuk
mendukungku—tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Anak-anak muridku bersorak,
menyemangati dengan antusiasme yang hanya dimiliki oleh hati yang belum
terkontaminasi keraguan. Bu Wulan mengangguk, senyumnya hangat seperti pelukan.
Aku tidak main
lagu populer yang semua orang kenal.
Aku main lagu
yang kutulis sendiri dua puluh tahun lalu—lagu terakhir yang kuciptakan sebelum
aku meninggalkan musik. Lagu yang kutulis di malam ketika aku merobek surat
penerimaan dari sekolah musik. Lagu yang kuciptakan sambil menangis di kamar,
dengan gitar di pangkuan dan hati yang hancur.
Judulnya
"Cicilan Langit."
Tentang
mimpi-mimpi kecil yang dikumpulkan pelan-pelan, seperti koin receh yang
dimasukkan ke celengan retak. Tentang harapan yang tidak datang sekaligus tapi
dicicil setiap hari—kadang dengan air mata, kadang dengan senyum yang
dipaksakan, kadang dengan keberanian yang ditemukan di tempat-tempat yang tidak
terduga.
Jari-jariku
tidak sempurna. Ada nada yang meleset, ada petikan yang kurang tepat. Suaraku
sudah tidak sejernih dulu—dua puluh tahun tidak bernyanyi telah mengkhianati
pita suaraku.
Tapi aku
menyanyi dengan seluruh hatiku. Dengan semua luka yang pernah kubawa. Dengan
semua penyesalan yang pernah membuatku terjaga di malam-malam sunyi. Dengan
semua harapan yang baru saja kutemukan kembali.
Dan untuk
pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku merasa utuh.
Ketika lagu
selesai, ruangan hening sebentar. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri,
bisa merasakan senar yang masih bergetar di bawah jemariku.
Lalu tepuk
tangan meledak.
Bukan tepuk
tangan ribuan orang di panggung besar yang dulu kubayangkan. Bukan standing
ovation di gedung konser mewah. Bukan sorak sorai penggemar yang meneriakkan
namaku.
Hanya tepuk
tangan puluhan tangan—tangan kasar para buruh, tangan kecil anak-anak, tangan
keriput orang tua—yang tulus dan hangat. Tepuk tangan yang membuat dadaku penuh
dengan sesuatu yang tidak bisa kubeli dengan bonus apapun di kantor.
Kirana berlari
ke depan dan memelukku. "Mama keren banget," bisiknya di telingaku,
dan suaranya bergetar.
Ibuku—yang sudah
tua dan lelah, yang dulu bekerja sebagai buruh cuci untuk membiayai
hidupku—datang mendekat dengan langkah yang sudah tidak sekokoh dulu. Air
matanya mengalir di pipinya yang keriput.
"Ibu bangga
sama kamu," katanya, suaranya pecah. "Ibu selalu tahu kamu punya
musik di dalam hatimu. Ibu cuma nggak pernah tau caranya bilang... maaf. Maaf
karena dulu Ibu nggak bisa kasih kamu kesempatan untuk..."
"Sudah,
Bu," aku memeluknya, merasakan tubuhnya yang sudah ringkih gemetar di
pelukanku. "Nggak ada yang perlu dimaafkan. Semua yang Ibu lakukan adalah
untuk keluarga. Dan aku... aku akhirnya mengerti. Aku mengerti bahwa cinta
punya banyak bentuk. Termasuk bentuk pengorbanan."
Kami berdiri di
sana, ibu dan anak, berpelukan di tengah ruangan sederhana yang penuh dengan
orang-orang yang mencintai musik. Dan aku menyadari bahwa ini adalah panggung
yang sesungguhnya. Ini adalah konser yang sebenarnya.
Bukan tentang
seberapa banyak orang yang mendengar. Tapi tentang seberapa dalam musik itu
dirasakan oleh yang mendengar.
* * *
Malam itu,
setelah sampai rumah, Kirana memelukku erat di sofa ruang tamu.
"Mama keren
banget tadi."
"Mama cuma
main satu lagu, sayang. Masih banyak yang salah."
"Tapi Mama
bahagia," dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang sama
jernihnya dengan mata ayahnya yang sudah tiada. "Mama senyum kayak...
kayak matahari. Kayak Mama yang baru bangun setelah tidur lama."
Aku mencium
puncak kepalanya, menghirup aroma shampo dan masa kecil yang cepat berlalu.
Malam itu, aku
duduk di teras belakang lagi. Gitar di pangkuan, langit penuh bintang di atas
kepala. Aku memetik senar pelan-pelan, tidak ada lagu khusus, hanya
bunyi-bunyian yang mengalir begitu saja—seperti air sungai yang akhirnya
menemukan jalannya setelah sekian lama terbendung.
Dan aku
menyadari sesuatu yang membuat air mataku mengalir lagi—tapi kali ini, air mata
yang berbeda. Air mata yang tidak pahit. Air mata yang hangat, seperti hujan di
musim kemarau yang panjang.
Aku tidak
kehilangan mimpiku.
Mimpiku hanya
berubah bentuk.
Dulu, aku
bermimpi jadi musisi profesional yang tampil di panggung-panggung besar—lampu
sorot menyilaukan, penonton berteriak, albumku didengar jutaan orang, namaku
disebut-sebut di radio dan televisi. Aku membayangkan hidup glamor, dikelilingi
orang-orang terkenal, mendapat pengakuan dari kritikus musik.
Tapi sekarang,
mimpiku adalah tujuh anak yang bisa bermain gitar. Tujuh anak yang tahu bahwa
musik bisa menjadi pelukan ketika dunia terasa dingin. Tujuh anak yang mungkin
suatu hari akan meneruskan musik ini ke orang-orang yang mereka cintai,
menciptakan gelombang yang tidak akan pernah berhenti.
Mimpiku adalah
Sabtu pagi yang tidak lagi kusesali, tapi kutunggu dengan hati yang berdetak
lebih cepat. Mimpiku adalah bangun pagi dan merasa ada sesuatu yang berarti
menungguku.
Mimpiku adalah
jari-jari kecil yang belajar menekan senar, dan mata berbinar yang percaya
bahwa musik bisa mengubah sesuatu—percaya dengan kepercayaan polos yang dulu
juga kumiliki, sebelum dunia mengajariku untuk ragu.
Mimpiku adalah
diriku yang akhirnya bisa menyanyi lagi—bukan untuk ribuan orang yang tidak
kukenal, tapi untuk orang-orang yang benar-benar mendengar. Yang mendengar
bukan hanya dengan telinga, tapi dengan hati.
Ini bukan mimpi
yang kurencanakan.
Ini bukan mimpi
yang pernah kubayangkan ketika aku masih gadis delapan belas tahun dengan gitar
lusuh dan hati penuh harapan.
Tapi ini
mimpiku. Dan ia indah dengan caranya sendiri—indah yang tidak berkilau, tapi
hangat. Indah yang tidak tersorot lampu, tapi terasa sampai ke tulang sumsum.
Hidup jarang
tentang semua atau tidak sama sekali. Hidup lebih sering tentang menemukan
jalan yang tidak pernah kita lihat di peta—jalan setapak yang tersembunyi di
balik semak-semak keraguan dan ketakutan. Tentang mencintai sesuatu dengan cara
yang berbeda dari yang kita duga—cara yang kadang lebih dalam, lebih bermakna,
lebih nyata daripada yang pernah kita impikan.
Aku masih
auditor di pagi hari—dengan posisi yang lebih rendah, gaji yang lebih kecil,
tapi dengan jiwa yang lebih hidup. Aku masih menghidupi keluargaku dengan
angka-angka dan laporan—dan aku tidak lagi malu dengan itu. Karena pekerjaan
itu adalah bagian dari pengorbananku, bagian dari cintaku pada orang-orang yang
kupilih untuk dijaga.
Tapi setiap
Sabtu, aku adalah musisi.
Bukan musisi
yang namanya tercetak di sampul album atau disebut di stasiun radio. Tapi
musisi yang namanya dikenang oleh tujuh anak sebagai orang yang pertama kali
mengajarkan mereka bahwa jari-jari mereka bisa menciptakan keajaiban.
Dan minggu
depan, akan ada lima anak lagi yang mendaftar. Bu Wulan menelepon tadi malam,
suaranya bersemangat. "Bu Hana, ada orang tua yang minta anaknya ikut
kelas Ibu. Mereka dengar dari Tari dan Rendi. Ibu sanggup?"
Aku bilang ya
tanpa ragu.
Karena ini bukan
lagi tentang apakah aku sanggup atau tidak. Ini tentang apakah aku mau atau
tidak—dan aku sangat mau.
Dan mungkin,
pada akhirnya, itulah yang selalu kumaksud ketika aku bilang ingin jadi musisi.
Aku ingin hidup
dengan musik. Bukan sekadar karier, bukan sekadar profesi, tapi bagian dari
siapa diriku.
Ternyata, aku
tidak harus berdiri di panggung besar untuk itu.
Kadang mimpi
tidak hilang. Ia hanya menunggu kita cukup bijak untuk menemukannya dalam
bentuk yang baru.
Dari teras
belakang rumahku yang sederhana, di bawah langit yang penuh bintang, aku
memetik gitar. Kirana tidur di dalam, boneka beruangnya menemani. Besok aku
akan kembali ke kantor dengan posisi yang lebih rendah dan gaji yang lebih
kecil.
Tapi malam ini,
aku punya musik.
Dan itu sudah
cukup.
* * *
“Mimpi
yang tertunda bukan mimpi yang mati. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk
bangun.”
No comments:
Post a Comment